
Via mengunci mulutnya. Deval kembali mengulum senyum itu. "Kamu menikah dengan Putra dari Buana Putra, kan? Bahkan memiliki anak kembar setelah hidup bersamanya."
Via menatap pria muda itu, dia bagai melihat Devan versi muda, atau Devan adalah versi Deval dewasa? Semua kenangan bersama! kembali terlintas, meskipun kenangan tersebut pada umumnya dalam bentuk pertengkaran antara dia dan Deval.
"Apa tidak ada hal hal lain yang lebih indah kamu ingat tentang diriku?"
Pertanyaan Deval membuat Via tersentak. "Kamu bisa ngintip isi kepala orang juga?" Mata Via membulat tak percaya.
"Aku pun tahu, bahwa aku sudah tak ada tempat lagi di hatimu. Aku bisa memahaminya, dan aku pun bisa merasa tenang. Pria yang bersama denganmu, adalah sosok terbaik untukmu."
"Aku sudah menyadarinya semenjak awal. Dia menyukaimu sejak lama."
Via kembali meringkuk memeluk lututnya. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Semua yang tak terucap pun telah diketahui oleh Deval.
Deval bangkit dan menarik Via. "Mungkin di dunia kita tak ada kesempatan menghabiskan waktu bersama selain bertengkar. Apakah kamu mengizinkan ku untuk mengajakmu sekedar jalan-jalan mengelilingi tempat ini?"
Via bangkit karna Deval terus menarik tangannya. Seakan melewati portal yang tidak tampak oleh mata, tina-tiba saja mereka telah berada di taman bermain. Deval terus mengajaknya masuk, memandangi suasana sunyi di taman permainan itu.
"Kamu tahu, aku ingin sekali mengajakmu main ke tempat ini setelah kita saling membuka perasaan kala itu. Namun sang pencipta berkata lain. Kesempatan itu berpindah ke saat ini. Mungkin kali ini adalah waktu yang tepat bagi kita mengulang waktu yang telah terlewati itu."
__ADS_1
Via mengangguk menikmati wahana permainan yang hanya dimainkan oleh mereka berdua saja. Dalam kehidupan nyata pun, Via tidak pernah sempat untuk melakukan hal ini. Dia selalu sibuk dan bekerja tiada mengenal waktu.
Aku ingin sekali mengajak anak-anakku bermain ke tempat ini, nantinya.
Oh iya, aku lupa ... Aku ini telah pergi. Tak ada kesempatan lagi untukku bertemu dengan mereka. Ternyata rasanya sangat menyedihkan saat menyadari semuanya setelah terlambat.
Apakah tak ada waktu dan kesempatan lagi, untukku? Aku ingin sekali membahagiakan mereka.
Deval melirik Via, dia tersenyum tipis. "Apakah kamu menyukai semua ini?"
Via mengangguk, Deval kembali menariknya berpindah ke tempat lain. Mereka kembali melintasi portal dan kali ini, terdengar suara tangisan dua bayi secara serempak.
"Ooeeekk ... Ooeeekk ..."
"Apakah kamu senang bisa melihat mereka semua di sini?" tanya Deval dengan nada khasnya yang selalu sama. Via pun dengan wajah sendu menahan segala rasa menganggukan kepala.
Melihat Jimmy yang sekaligus memberikan su..su kepada kedua bayi mereka yang tengah menangis karena lapar. Sesekali Jimmy melirik sosok yang tertidur tak jauh dari box bayi tersebut.
"Ayo, habiskan! Setelah itu kalian bisa menemani Mama bobo kembali dengan tenang."
__ADS_1
Jimmy melirik ke arah sosok yang tengah terbaring. "Sayang, apakah kamu belum lelah untuk tidur? Cepatlah bangun ... Bantu aku untuk merawat bayi kita ini ..."
"Sudah tiga bulan kami bertiga menunggumu ... Apakah semua waktu yang telah berlalu ini masih belum cukup untuk membuatmu bangun?"
Tetes demi tetes air mata Via mulai terjatuh melihat kesenduan itu. Jimmy, pria yang saat ini menjadi pria yang dicintai, berjuang sendirian untuk mereka bertiga.
Kening Jimmy terlihat berkerut melihat tiba-tiba saja Via meneteskan air mata. Kebetulan dua bayi itu telah melepas botol yang telah habis. Jimmy meletakan botol tersebut, lalu membelai rambut Via dan mengusap air mata yang mengalir tanpa sebab.
"Apa kamu merasa sedih, Sayang?" Jimmy mengecup pipi Via yang sedang tertidur. Lalu memgusap kembali air mata yang terus mengalir tanpa henti.
Via yang terus berurai air mata samping Deval, menatap pria muda tersebut tertunduk menatap pemandangan itu. "Apakah selama ini kamu selalu hadir diam-diam untuk memperhatikanku?"
Deval mengangguk, dia melihat semua yang terjadi pada Via di saat jiwanya mulai terlepas dari raga di dalam ambulance. Melihat keadaan Via yang sangat terpuruk saat dia dinyatakan telah benar-benar pergi untuk selamanya. Deval memeluk Via yang terus menangis tiada henti di dalam kamar sendirian.
Sudah banyak kata yang diucapkan untuk menguatkan Via tetapi tak satu pun didengar oleh Via. Saat itu lah dia baru menyadari bahwa dirinya bukan lah Deval yang sama. Dia hanya jiwa, yang sudah tidak bisa kembali ke dunia ini. Namun tentu, Via tidak mengetahuinya, karena alam mereka telah berbeda.
Meskipun saat ini mereka bisa saling berbicara, tetapi semua ini hanyalah sementara. Via belum ditakdirkan untuk meninggal. Dalam beberapa waktu kemudian, dia ditakdirkan untuk kembali lagi pada raga yang menanti dirinya.
Deval bergerak mengintip kedua bayi tersebut. Tampak bayi berpakaian bewarna biru tersenyum kepadanya. Deval pun memberikan senyuman terbaiknya. Membelai pipi bayi tersebut.
__ADS_1
Suara bayi laki-laki terdengar heboh. Dia terus mengoceh dan tertawa menatap Deval. Sementara bayi yang mengenakan pakaian bewarna pink, menangis dengan suara yang kencang. Hal ini mengalihkan perhatian Jimmy yang tadinya terus menatap dan membelai wajah Via.
"Sepertinya bayi laki-lakimu memiliki sesuatu yang istimewa ...."