
Usai mencuci mukanya setelah kena timpuk sendal oleh Via, dengan telaten Jimmy mengompres pergelangan kaki Via dengan air dingin.
Meski dia merasa aneh, melihat keseriusan Jimmy saat merawatnya, tanpa sadar dia terus memperhatikan Jimmy. Walau dia tahu sebenarnya Jimmy dulunya seperti apa, entah kenapa Jimmy yang sekarang terlihat jauh lebih cocok dengan seleranya.
Setiap gerakan Jimmy, tanpa bicara, membuat Via menjadi fokus untuk terus memperhatikannya. Terkadang ada senyuman yang tersungging di bibirnya melihat Jimmy yang semakin diperhatikan semakin tampan.
"Nah, seleaai...!" Jimmy baru saja membalut kaki Via dengan perban yang baru. Via masih tanpa bicara memperhatikan kegiatan Jimmy. Pria yang berprofesi dokter itu tengah merapikan kembali alat-alat yang digunakannya tadi. Lalu mengecek isi kulkas Via, ternyata kosong.
"Kamu udah makan belum? Kenapa kulkasnya kosong?"
"Oh, aku baru pindah ke sini Kak. Belum sempat belanja. Soalnya sibuk dari pagi hingga malam. Ini aja pulang udah pukul berapa. Tapi aku sudah makan kok, tadi di rumah saudaraku."
Jimmy melihat jam di tangannya, menunjukkan waktu pukul sembilan malam. "Kalau udah makan, ya udah. Kamu tinggal sendirian?"
"Ada temenku, Sabrina. Kakak inget nggak?"
"Ooh, temanmu yang kemana-mana selalu berdua itu?"
"Iya, Kakak juga tau aku kemana-mana sama dia?"
"Iya, tau. Terus orangnya mana?"
"Belum pulang, katanya dipaksa lembur sama atasan."
"Kalau aku tinggal sendirian gak apa nih?"
"Iya, gak apa."
"Ya udah, kamu hati-hati ya. Apa kamu keberatan jika aku sering ke sini?"
Via masih berpikir panjang. Meski sebenarnya dia merasa nyaman dengan keberadaan Jimmy, namum ada hal yang membuatnya selalu menolak kehadiran Jimmy. Sehingga dia tidak bisa memberi jawaban, karena dia sendiri merasa tak yakin.
"Jika kamu diam, aku anggap boleh."
"Jika aku melarang?" selanya.
"Aku akan tetap ke sini," ucapnya membuka pintu, Sebelum pintu tertutup, masih terdengar dia mengatakan, "Aku akan kembali...--" terdengar suara kunci elektrik berbunyi.
Apa maksudnya akan kembali lagi? Huffftt, bisa-bisanya Irinllebih sibuk dariku saat ini. Ternyata begini rasanya saat benar-benar menganggur.
Masih tertatih, melangkahkan kaki dengan terpincang-pincang. Dia tengah dilanda rasa penyesalan, akibat dari kelalaian. Rencana ingin membersihkan diri pun diurungkan karena terasa cukup berat. Ujung-ujungnya hanya mengganti pakaian, sehingga tubuhnya terasa gerah.
__ADS_1
Dari arah pintu masuk, terdengar suara kunci terbuka. Waah, syukur lah Irin sudah pulang. Dia melanjutkan mengganti pakaian. Usai mengganti pakaian, merasa heran kenapa Irin belum juga masuk ke dalam kamar.
Dengan malas, dia kembali melangkah dengan terpincang-pincang. Lalu diedarkannya pandangan ke seluruh bagian rumahnya ini. Tetapi tidak ada tanda-tanda kehadiran Irin. Kembali dengan terpincang-pincang, dia berjalan ke ruang tengah. Dari arah dapur terdengar ada sebuah keributan kecil.
"Rin? Lo lagi di dapur?"
Saat akan mengintip, ternyata ada yang tiba-tiba muncul membuatnya kaget dan oleng. Untung saja orang yang membuatnya terkejut itu langsung menahan, meski tidak jatuh, Via malah masuk ke dalam rangkulan orang itu. Langsung didorong agar menjauh.
"Kakak? Jadi kakak yang baru saja masuk dengan membuka pasword rumahku tanpa permisi?"
"Maaf, aku pikir kamu sudah tidur. Jadinya aku-"
"Kakak sampai menghapal pasword rumahku?"
"Kebetulan ingat."
"Ini kakak yang beli???" Mata Via terbelalak melihat bahan belanjaan yang tengah berserakan di lantai. Sepertinya Jimmy sedang menyusunnya ke dalam kulkas, karena pintu kulkasnya terbuka lebar.
"Hmmm, aku hanya berpikir kamu pasti akan semakin sulit untuk berbelanja nantinya," kembali berjongkok di depan kulkas menyusun beberapa buah dan sayuran yang mungkin dibelinya di supermarket yang ada di gedung ini.
Via ikut berjongkok memilih benda-benda itu, namun dimasukan ke dalam kantong kembali. Jimmy kembali mengeluarkan, lalu dimasukan langsung ke dalam kulkas.
"Nggak mau, bawa balik aja. Aku bisa belinya sendiri kok," kembali mengeluarkan benda-benda itu dari dalam kulkas. Jimmy kembali menaruh ke dalam kulkas.
Dari arah luar terdengar suara kunci terbuka, membuat jidat mereka terbentur sama lain ...buk...
"Aaauuuu..." Via meringis. Jimmy hanya mengelus keningnya dan menyugar poni Via. Memeriksa apa meninggalkan bekas di kening gadis itu atau tidak.
"Woooii..., wooiii..., kalian ngapain?" Irin histeris melihat dua makhluk bermesraan di dalam dapur.
"Emang lo liat kami lagi apa?"
"Hmmm, anak Tosan sudah macam-macam sekarang yaaaa? Bawa tamu cowok malam-malam ke rumah yaaa...?" tuduh Irin sambil menggoda kedua makhluk ini. Irin melihat pria asing tengah mengelus-elus kening Via. Sesuatu yang mencurigakan bukan?
Siapa tahu abis mencium kening Via, batinya.
Jimmy mencoba membantu Via berdiri, wanita keras kepala itu tidak mau, tetap memaksa mengeluarkan benda-benda yang ada dalam kulkas kembali ke dalam kantongnya. Akhirnya menarik Via berdiri, diangkat lalu dibopong keluar dari dapur.
"Turunkan!" dia meronta.
Irin melongo melihat aksi nekat pria yang tak terdeteksi dalam ingatannya ini. Hebat bener, membuat Via tidak bisa melawannya?, batinnya.
__ADS_1
Via didudukkan di atas sofa, Irin turut duduk di atas sofa. Jimmy kembali ke dapur menyusun benda-benda yang sudah dirombak oleh Via.
"Siapa tuh? Ganteng bener?"
"Lo suka? Ambil aja!"
"Ogah gue, orangnya suka sama elo, malah dikasih ke gue. Dia siapa sih?"
"Lo bakalan kaget mengetahui dia siapa. Hingga saat ini aja gue antara percaya dan tidak percaya itu dia."
"Jangan bilang dia reingkarnasi Deval?!"
"Apaan sih reinkarnasi? Deval lagi?"
"Eeehh, maaf... maaf..., habis lo bilang tidak percaya. Gue mikirnya dia dong? Jadi ngomong dengan jelas, dia itu siapa?"
"Dia itu Jimmy!"
"Apa? Jimmy?" Irin terhenyak tak percaya. "Kenapa dia berubah menjadi semakin tampan gitu?" Via hanya mengedikkan bahunya.
"Terus kalian abis ciuman di dapur sana?"
"Enak aja!?"
"Tenang aja! Kalau kalian bersama, gue udah restuin kok."
"Emangnya lo emak gue? Main restu aja? Lagian tumben, lo udah nggak takut lagi sama dia?"
"Udah enggak, itu hanya masa lalu. Lagian bukan dia yang bersalah."
"Iya siih," Dia juga tidak gampang marah, kayak Aa. Aduuh, kenapa mikirin dia juga.
Irin berjalan ke arah dapur, mengintip apa yang tengah dilakukan oleh pria itu. Ooh, sedang memasukkan beberapa jenis buah, sayuran, ada ùayam juga, ada daging juga, keju, walah udah seperti bapak rumah tangga sejati, batin Irin terkekeh.
Maaf ya reader, Otor telat up.. soalnya Otor merasa berduka, karena entun tidak adil... Merasa sedih, karena belum juga berubah lencana. Padahal udah berharap ganti lencana Silver. Oleh karena itu, Otor berharap reader yang membaca cerita ini, jangan lupa meninggalkan tanda kalau sudah mampir. Minimal klik like jika malas memberi komentar. Karena itu sangat berarti bagi Otor, agar Pop penulisan naik. Tidak bayar kok meninggalkan komentar atau sekedar like? Otor juga menggunakan kuota lho, buat nulis dan update. Hanya curcol, Otor lagi sedih aja , udah.. maaf ya.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...
__ADS_1