
"Kakak? Apa yang tadi kalian bicarakan?"
Romi yang mengikuti Irin dari belakang, hanya mengacungkan jempolnya di belakang kepalanya tanpa menoleh ke arah Jimmy. "Turun kan saja dana untuk menyiapkan peralatan dan bahan-bahannya!" Terus berlalu mengikuti Irin.
"Nah, sekarang bicara lah! Apa kamu melewati semua kesakitanmu sendirian tanpa ada yang tahu?" Jimmy menangkap mata Via, menatapnya dengan dalam.
"Aku baik-baik saja." Via membuang mukanya.
Jimmy kembali menarik dagu Via, membuat pandangannya kembali menyatu. "Jangan bohong padaku! Aku tau, diam-diam kamu merasakan kesakitan itu sendirian."
"Aku tidak apa-apa, Suamiku sayang. Kamu jangan terlalu khawatir begitu!"
"Kamu tidak sayang padaku. Buktinya di antara kita masih banyak rahasia yang kamu sembunyikan!" Jimmy masih menatap mata Via dengan dalam.
"Justru aku sangat mencintaimu Kak. Aku tak ingin kamu bersedih seperti ini saat mengetahui keadaanku. Aku tahu, kamu sangat menginginkan anak kita. Aku sudah siap akan segala yang terjadi ke depannya."
"Seperti yang aku katakan, jika aku tidak bisa diobati oleh alat yang diciptakan Romi, saat anak-anak kita lahir nanti, jagalah mereka sebaik mungkin. Cintai mereka selayaknya kamu mencintaiku. Jadikan lah dia sehebat kamu! Kamu boleh menika--"
Ucapan Via terhenti. Kembali Jimmy menjepit bibir Via dengan jarinya. Jimmy menggeleng, "Kamu jangan pernah berkata seperti itu! Bagaimana pun juga aku akan membuatmu untuk tetap hidup. Ayo kita cari dokter terbaik yang ada di dunia ini!"
Via menggeleng juga. "Usia kehamilanku sudah tua Kak. Terlalu beresiko melakukan perjalanan udara."
"Jadi kita hanya bisa berpasrah saja menunggu sesuatu yang buruk itu?" Akhirnya Jimmy menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.
"Kita tunggu hasil pekerjaan Romi. Katanya minggu depan sudah bisa lakukan ujia coba. Jika sukses, keberhasilan terhadapku bisa mencapai tujuh puluh lima persen."
Jimmy menegakan kepalanya, "Hanya tujuh puluh lima persen? Kenapa tidak seratus persen?"
"Karena aku sedang hamil." Masih memulas senyuman di bibirnya.
Jimmy memeluk istrinya. Dia tahu, wanita yang pura-pura tersenyum ini lebih takut dibanding dirinya. "Maaf kan aku Sayang. Aku suami bodoh yang tidak mengetahui keadaan istrinya sendiri."
Dalam pelukan Jimmy, Via meneteskan air mata menahan sakit yang luar biasa tengah menyiksanya. Dengan segera menyeka air mata itu. Kembali menyunggingkan senyuman terbaiknya.
...***...
Tiba pada waktunya Romi melakukan uji coba. Uji coba dilakukan pada sel kanker yang didapat dari pasien yang baru melakukan operasi pengangkatan sel kanker.
Via dan Jimmy menunggu di luar labor khusus milik Romi. Satu tangan Jimmy menggenggam tangan Via, dan tangan lain membelai perut Via. Bayi yang ada di dalam rahim itu terus bergerak berputar, dan menendang.
__ADS_1
"Setiap mendapat belaian dari Papanya, anak-anakmu ini selalu membuatku kebelet pipis mendadak."
"Usia kehamilan semakin tua memang begitu. Karena kantong kemih terus tertekan, sehingga membuatmu selalu merasa ingin buang air. Ayo, aku temani!" Jimmy memapah Via bangkit dari tempat duduknya. Mengantarkan dan menunggunya buang air.
Setelah selesai, Via dan Jimmy kembali ke labor digital milik Romi. Di sana telah berkumpul semua anggota White House, dengan wajah tegang mereka. Via memulas senyuman di bibirnya.
"Halo semua, kenapa tegang begitu?" tanya Via sambil merangkul lengan suaminya.
"Kami semua berharap Romi berhasil melakukan uji coba itu." ucap Dino dengan wajah serius.
"Iya Ma ... Mama harus hidup bersama kami. Aku siap menjadi tukang kasuh si kembar, asal Mama tetap hadir bersama kami. Nanti Mama duduk berleha-leha jadi nyonya besar aja! Biar kami yang melakukan semuanya untuk Mama." ucap Jason yang tak segan menangis di hadapan yang lain.
"Eh, anak laki-laki tak boleh menangis!" tukas Via.
"Tapi ... tapi ... aku sedih jika ke depannya terjadi sesuatu pada Mama. Aku udah anggap Mama bener-bener seperti keluargaku sendiri!" Jason menundukan wajahnya.
Via mengacak rambut lurus Jason. "Sudah ... sudah ... Kita berdoa segala hal yang terbaik saja yaaa!"
...srrruuugghhh...
Jason mengusap ingusnya dengan lengan pakaian. Anggota lain memasang mimik jijik melihat aksi si bungsu anggota white house ini.
...***...
"Sayang, kamu bisa melewati ini. Kita berdua akan membesarkan mereka berdua." bisik Jimmy tepat di telinga Via.
Via hanya menyunggingkan senyumannya. Rasa berkecamuk sedang bergelayut di dalam hatinya. Teringat kembali pada saat hasil uji coba yang dilakukan Romi telah dinyatakan sukses. Namun saat langsung dilakukan padanya, masih ada dua puluh lima persen lagi yang belum terbasmi.
"Kamu jangan takut! Aku yakin kamu bisa Sayang!" Jimmy mengelus rambut Via yang setiap dipegang, selalu menempel di tangannya karena rontok. Mencium kening istrinya itu.
Mengintip Vano yang tengah mencoba mengeluarkan bayi kembar Via. Gilang mengontrol denyut nadi Via yang masih stabil.
Vano berhasil mengeluarkan bayi tersebut, menyerahkan kepada dua bidan yang siap menampung. Gilang memeriksa kondisi sel-sel kanker yang masih tersisa, sekaligus mencoba mengangkatnya. Namun nahas, karena kehamilan dan sel kanker yang masih tersisa, membuat bagian tubuh Via menjadi sangat sensitif. Via mengalami pendarahan hebat.
Semua yang ada di dalam ruangan itu menjadi panik. Jimmy kembali menengok kerja tim kali ini. Melihat kepanikan terjadinya pendarahan hebat, Jimmy berusaha menahan aliran darah itu.
"Sayang, bertahan lah! Demi anak-anak kita!"
...***...
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, Via tengah tertidur lelap, dengan segala alat yang melekat di tubuhnya.
"oooeeekkk ... oooeeekk ...," Baby twins boy and girl itu tengah menangis kelaparan. Tak lama dua perawat datang membawakan susu di dalam botol untuk diberikan kepada dua bayi itu.
"Kalian sabar ya. Kali ini minum ini dulu. Mama masih belum bangun sampai sekarang. Kalian berdua ayo berdoa, semoga Tuhan membangunkan Mama sehingga bisa memeluk kalian berdua."
Jimmy melihat kedua bayinya telah digendong dua perawat yang memberikan mereka asupan kepada mereka. Lalu, Jimmy duduk di sisi Via yang belum juga sadar semenjak usai operasi caesar.
...tok ... tok ... tok...
Gilang dan Kevin masuk ke ruang itu. "Maaf kan gue Jim. Karena kelalaian gue, Marni jad begini." ucap Gilang dengan wajah tertunduk.
"Sudah lah ... Ini memang jalan yang memang harus kami lalui. Meski bukan lo dokternya, hal yang sama akan tetap terjadi. Karena tetap sel kankernya masih tersisa." ucap Jimmy setegar yang dia bisa.
"Kami boleh menggendong si kembar?" tanya Kevin. Jimmy hanya mengangguk. Kevin menggendong twin girl, dan Gilang menggendong twin boy.
"Udah kasih nama?" Jimmy mengangguk. "Siapa nama mereka?" tanya Gilang sembari mencoel bibir mungil bayi yang ada dalam gendongannya.
"Yang perempuan gue kasih nama Hyuna, yang laki-laki namanya Hyuta." Jimmy membelai rambu Via yang bagai putri tidur.
"Aduh Hyuna, kamu cantik sekali Sayang. Cepat besar ya, biar jadi jodoh Uncle?" ucap Kevin mencoel pipi bayi yang ada di tangannya.
"Hush, masa lo doakan dia jodoh sama lo? Rugi banget Baby Hyuna dijodohkan sama orang yang udah renta!" ucap Gilang melotot.
"Gue becanda doang! Mau liat reaksi bapaknya. Ternyata sang bapak tidak ada di sini sejak tadi." Melirik Jimmy yang termenung melihat istrinya yang dinyatakan koma semenjak usai operasi.
...CERITA DETEKTIF MUDA USAI...
...SEKUEL-NYA TENTANG KEADAAN VIA DAN ANAK-ANAKNYA DILANJUTKAN DI CERITA LAIN...
...UNTUK LOMBA YANG LAIN...
...OTOR SEJENIS PENULIS CUMA BUAT LOMBA ... MAMPIR DI KARYA LOMBA WANITA MANDIRI YA...
...CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER YAA ... BANTU SEMANGATI OTOR YAA...
...😂😂😂...
Mampir di karya temen otor ya ... romansa fantasi ... seruuu ...
__ADS_1