DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
100. Jadi Bodyguard


__ADS_3

Kali ini Via dan Stevan sedang duduk di sebuah kafe. Mereka melanjutkan membahas mengenai mafia yang tengah mencarinya.


"Neng, itu kenapa semuanya ditutupi kayak gitu? Gue kan pengen liat muka lo? Bukan pengen lihat kacamata dan topi aja?"


"Kan Aa sendiri yang ngasih tau, ada yang tengah nyelidiki keberadaan gue. Ditambah orang itu punya poto gue lagi? Kalau ketahuan gue yang dicari oleh mereka, mungkin saat ini juga gue udah gak ada di negara ini lagi."


"Lo gak usah khawatir. Ada Aa di sini, buat jagain lo!" Menepuk dadanya dengan percaya diri.


Via hanya terkekeh lalu mencibir mendengar gombalan yang akhir-akhir ini makin gencar diberikannya kepada Via.


"Melet-melet, nanti gue tangkap looh?"


Langsung kaki Via yang menggunakan sepatu boots mendarat di atas kaki Stevan.


"Auw..." pekiknya, meski memakai sepatu, rasa kena injak tetap lumayan sakit.


"Aa kenapa sih? Beberapa hari tidak ketemu malah makin aneh begini?"


"Ini gara-gara otak gue mumet menghadapi sidang tadi. Jadinya sekarang gue butuh hiburan. Eeehh, orangnya malah nggak kelihatan mukanya. Kemana aja sama si autis? Kenapa dia kuyup gitu?"


"Tadi mecahin kasus guna-guna palsu itu lho Aa, ada anak kecil yang kecebur, terus ditolong sama Deval."


Seketika Stevan mengingat bahwa Via mengidap aquaphobia. Hal itu diketahuinya saat di rumah Irin, Via terpeleset masuk ke kolam renang. Dia langsung tenggelam, ditolong oleh Stevan. Setelah itu, tampak Via dalam sesak dan cemas yang tak terkendali.


"Terus lo baik-baik aja kan melihat itu?"


"Iya, gue baik-baik aja." Dia berbohong, dan tertangkap oleh mata Stevan. 


"Sini gue peluk," Stevan membuka tangannya, karena dia sangat mengingat hal itu yang membuat dia tenang.


"Gue baik-baik ajaa iiihh," Via melotot di  balik kacamatanya.


"Jangan-jangan si autis yang meluk elo tadi ya?" 


Mata Via melirik kiri kanan dengan cepat, "Aaaa... Enggak kok."


"Hmmm, jadi karena itu. Lupa kalau dia autis yang menyebalkan? Kalau gue tau, gue yang bakalan kawal lo kemana-mana."


"Udah udah, jangan bahas…!" Tiba-tiba wajah Via terasa panas sendiri teringat tadi dalam pelukan Deval, dan caranya yang menenangkan dia dengan lembut.


"Ooh, eeh, kita pesan dulu yuk?" ucapnya salah tingkah mencoba mengalihkan perhatian.


Stevan merasakan ada yang memanas dari dalam dirinya, dia memlih untuk diam kembali fokus pada tablet yang selayak laptop di hadapannya. 


Sementara Via kembali mencoba menghubungi ayahnya, kali ini panggilannya diangkat oleh sang ayah.


"Halo Tosan?"


"Moshi moshi Via-chan!" suara sang ayah terdengar tengah sibuk melakukan sesuatu.

__ADS_1


"Lagi apa Tosan?"


"Ini Tosan lagi mengurus sesuatu di Italy, beberapa waktu lalu ada agen di sini dibunuh bersama kekasihnya oleh mafia."


"Kapan Tosan sampai di sana?"


"Tadi siang."


Lalu Via berpikir sejenak, apakah dia harus mengatakan pada ayahnya bahwa dia telah bertemu komplotan mafia itu di sini, "Jika mereka ada di sini gimana Tosan?"


"Di sana? Indonesia?"


"Via dapat laporan dari Agen Stevan."


"Huk..huk..ekhem…" reaksi orang yang namanya tiba-tiba disebut dengan label 'agen' lalu melirik gadis itu yang masih dalam wajah serius tengah melotot kepadanya.


"Intinya jaringan markas di sini sedang kacau Tosan."


"Iya, Tosan sudah mendapat berita demikian. Namun ada hal penting yang harus Tosan lakukan di sini, menangani kasus anggota kita, terpaksa Tosan berangkat ke sini pagi dini hari."


"Tosan hati-hati ya?"


"Kamu juga hati-hati di sana."


"Baik Tosan," dia batal memberikan informasi kepada sang ayah, bahwa dia sedang dicari oleh komplotan tersebut.


...jangan liat layarnya 😂...



Stevan yang merasakan tengah diperhatikan, melirik gadis itu. Tanpa berkata apa-apa, tangannya yang lebar diusapkan ke seluruh wajah Via yang tertutup oleh kacamata dan masker.


Diusapnya wajah Via itu dengan gemas, padahal beberapa saat lalu ada rasa cemburu hinggap di hatinya. Namun entah kenapa rasa itu langsung menguap dengan mudahnya melihat ekspresi Via yang seperti itu.


"Huuuh…," sungut gadis itu, "Padahal gue lagi kagum lihat Aa yang tumben tiba-tiba kalem. Beda banget auranya," lalu makanan yang mereka pesan pun datang.


Setelah makanan mereka terhidang, Stevan kembali menengok ke layar tablet yang sedang melacak keberadaan server yang mencoba meretas server organisasi BOS.


"Lhaaah? Beneran kembali sibuk ternyata."


"Katanya lebih suka kalau gue kayak gini? Ya udah, lihatin gue kayak gini aja. Gue sedang melacak server mafia itu."


"Sebenarnya tadi malam mereka mengikuti Deval," ucap Via membuka masker menikmati es kopi yang tadi dipesannya.


"Teruuuss?" Dia masih fokus pada tablet itu, seperti tidak tertarik sama sekali.


"Itu kan tandanya mereka bener-bener sudah dekat dengan gue, tinggal dikit lagi ketemu gue."


Lalu pandangan Stevan beralih ke wajah Via. Merasa penampilan Via sangat mengganngu, tanpa permisisi kacamata dan masker di wajah gadis itu dilepasnya. Akhirnya Stevan melihat wajah gadis yang dirindukannya itu. Via mengikat rambutnya ekor kuda agak sedikit tinggi. Menurutnya semakin hari Via tampak semakin cantik.

__ADS_1


"Jadi bener lo merasa takut?"


Tatapannya tak putus masuk ke dalam netra Via. Via yang merasa sikap Stevan makin ke sini makin aneh, memutar bola matanya melihat ke arah yang lain. Dilirik kembali, ternyata bule itu masih tidak mengubah pandangannya.


"Aa kenapa sih?" Sekarang telapak tangan Via yang menyapu wajah Stevan untuk mengalihkan tatapannya. Stevan menangkap tangan Via, membuat Via gelagapan.


"Aa kenapa sih dari tadi?"


"Kalau lo merasa khawatir, gue akan pindah ke sini juga. Hanya tinggal sedikit perbaikan lagi skripsi gue, setelah itu gue jadi bodigat lo aja gimana?"


Mata Via mengecil, dan keningnya berkerut, "Bodigat?"


Stevan mengangguk mantap, dia sepertinya sudah memutuskan pekerjaan yang akan dia geluti kemudian hari.


"Gue mau ngajuin jadi pegawai tetap organisasi BOS aja!"


Via yang tengah memperhatikan Stevan tiba-tiba merasa ikut senang, orang yang dianggapnya saudara itu benar-benar mantap untuk bergabung dengan organisasi yang didirikan oleh ayahnya.


"Tetapi ijazah Aa?"


"Lupa ya? Dalam BOS banyak banget yang pangkat dan gelarnya udah tinggi, memilih meninggalkan pekerjaannya untuk gabung dengan BOS."


"Iya siihh..."


"Gue jadi bodigat lo aja ya?"


"Kenapa mesti bodigat? Kan banyak divisi keren lainnya? Apalagi Aa jago IT juga, atau jadi divisi riset dan peneliti juga bagus, gajinya tinggi."


"Enggak, bagi gue berada di sisi lo aja udah cukup kok. Lagian apa yang gue terima selama sudah lebih dari cukup."


"Kenapa gitu pengen ngikutin gue terus?" Keningnya kembali berkerut.


"Karena gue lagi nungguin seseorang dewasa di depan mata gue. Siapa tau aja hatinya berubah, dan akhirnya memilih gue, hahahaha," wajahnya yang sedari tadi tampak cool saat serius kembali berubah tampak bodoh seperti biasa.


"Iiihh, nyesel gue udah serius dengerin omongan orang ini, ternyata hanya becanda gak jelas,"  Via kembali mencubit pinggang Stevan dengan gemas. Stevan hanya membalas menjitak jidat gadis itu sambil tersenyum.


...klik gambar...



Tiba-tiba, tabletnya mengeluarkan bunyi yang sangat nyaring, ada alert dari jaringan yang dia buat. Petanda ada yang tengah meretas kembali sistem pertahanan yang dibuatnya.



...klik gambar...



...*bersambung*...

__ADS_1


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...


...terima kasih...


__ADS_2