DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
S2-4 Mengikhlaskanmu


__ADS_3

Pintu terdorong dari arah sebaliknya. Via yang belum siap dikejutkan serangan sebuah pelukan secara tiba-tiba...


"Akhirnya lo kembali juga..." Irin dengan pakaian yang sangat rapi tiba-tiba sudah ada dalam pelukan Via.


"Kenapa malam-malam gini datang ke sini? Lo sama siapa ke sini?"


Irin melepaskan pelukan rindunya, "Gue baru pulang kerja. Gue dikabarin sama Emak lo kalau lo udah ada di sini. Dikasih alamat ini. Gue tinggal di sini juga ya?"


"Waaahh, beneran mau di sini juga?" Irin mengangguk, "Gue seneng banget kalau lo mau di sini juga. Tempat ini sangat sepi. Bahkan nyamuk datang berasa titisan Deval, kata reader gue."


"Berasa jadi Otor aja lo boneng!!!" lalu duo sahabat itu tertawa.


Sekarang mereka sudah di dalam selimut di satu tempat tidur. Sementara mereka satu kamar dulu, karena kamar yang lain belum diisi tempat tidur.


"Lo mendadak aja sih Rin. Jadinya begini deh."


Irin semakin mendekat ke Via dan memeluknya, "Gak apa. Gue senang gini. Terakhir kita satu kasur saat masih SMP kan?" tetapi mata Via tampak menerawang.


"Mikirin apa?"


"Lo mau nggak nemenin gue bertemu Deval? Sepertinya gue udah siap untuk duduk di dekatnya agak sejenak."


"Akhir minggu mau nggak?" Irin langsung mengecek jadwal pekerjaanya. Namun ternyata jadwalnya sangat padat.


"Kelamaan! Jika memang lagi sibuk tidak apa, biar gue ke sana sendirian saja."


"Yakin?"


Via mengangguk tersenyum tipis, di dalam hatinya masih sedikit ragu. Tetapi dia merasa harus mengakhiri semuanya. Agar segala rasa yang masih tersisa itu, lebih tertata dengan baik. Delapan tahun itu bukanlah waktu yang singkat. Tetapi, Deval masih manis nongkrong di dalam pikirannya.


***


Di dalam sebuah mobil, seorang pria dalam hodienya tengah memantau sebuah gedung apartemen cukup mewah di daerah itu. Tadi dia sempat melihat Via berdiri di balkon, dia memantau lewat teleskop.


Melihat kelakuan wanita itu yang menurutnya hingga saat ini masih terlihat sangat kocak. Melihat Via mencoba menepuk nyamuk dan akhirnya memilih masuk ke dalam tempat tinggalnya.


Jadi kamu tinggal di sana. Hmmm, lantai sepuluh.


Jimmy menekan kontak yang ada di dalam ponselnya, menunggu panggilan diangkat.


"Maaf Ber, sudah tidur?..., Oh, Saya mau menanyakan apa apartemen milik Kamu itu masih ada yang kosong di lantai sebelas?..., Wah ada? ..., Oh, kalau begitu saya ambil, ..., Besok kita bertemu, ..., oke."


Apa dia sudah memiliki kekasih? Tetapi bagamana pun aku tak akan melepaskannya. Jika benar dia telah memiliki seseorang, aku akan menunggunya. Atau mungkin merebutnya? Hah, terlalu naif. Sikapnya tetap saja tak berubah. Meski wajah telah berbeda, tetap saja dia begitu.


Jimmy menyandarkan tubuhnya dan menopangkan kepalanya dengan kedua telapak tangan. Dia masih merasa belum puas dengan pertemuan singkat hari ini. Meskipun biasanya memang begitu juga.

__ADS_1


***


Pagi hari, di cuaca yang mendung Via mengenakan pakaian serba hitam. Memasang kacamata hitam, menaiki sebuah sedan yang sudah menantinya.


"Waah, Nona Via. Sudah lama kita tidak berjumpa." ucap Dedi yang baru saja ditarik dari tugas lapangannya oleh Via. Dia kembali diminta untuk jadi sopir pribadi Via dalam bertugas. Dengan senang hati dia menerima, sehingga tidak perlu lagi meninggalkan keluarga jika ada tugas ke luar kota.


"Hari ini kita mau kemana Non?"


"Pagi ini aku mau menyapa Deval," ucapnya lirih.


"Baik, Non." tanpa berkomentar apa-apa Dedi melajukan kendaraan itu. Hingga mereka sampai di lokasi, Via dan Dedi lewati tanpa bicara sedikit pun.


Dengan berat, sedikit merasa ragu Via menurunkan kakinya satu per satu, tepat di depan kompleks pemakaman itu. Menggenggam satu buket bunga, Via melangkah kan kakinya yang semakin lama entah mengapa terasa semakin berat.


***


"Val, maafkan aku. Setelah sekian lama kamu di sini, aku baru bisa menemuimu. Aku baru bisa mengikhlaskan kepergianmu yang meninggalkanku sendirian di dunia ini." Via duduk bersimpuh di samping pusara Deval.


"Seandainya saja aku kukuh dalam pendirian, mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini."


"Tapi, mungkin ini adalah takdir yang Tuhan berikan untuk kita." perlahan, air mata Via mulai berjatuhan.


"Val, apa boleh aku menangis di sini?" Via dalam diam yang panjang terus meneteskan air mata.


tik...


tik...


tik...


Tiba-tiba hujan yang tadi mulai membasahinya menghilang dengan sekejap. Sebuah payung sudah melindunginya dari hujan yang mulai mengguyur tubuhnya. Menoleh ke belakang, mengira Dedi yang datang mengantarkan payung untuknya.


"Dokter...???"


...*flashback on*...


Dedi melihat tiba-tiba seorang pria menggunakan hodie mengikuti Via. Dedi mengejar dan mencegat pria itu.


"Kamu siapa? Kenapa mengikutinya?" memperhatikan pria itu yang tampak kuyu dan lelah.


"Ooh, ini Mas. Saya teman sekolahnya dulu." ucapnya gelagapan.


"Kenapa diam-diam mengikutinya?" tatapnya penuh curiga.


"Bukan-bukan, hanya saja saya, hmmm..." wajahnya berubah menjadi sendu.

__ADS_1


"Nama kamu siapa?"


"Saya Jimmy, Mas..."


"Jimmy...?" Dedi seperti mengingat-ingat nama itu. "Oh iya, saya ingat. Kamu yang dulu disiram... eh.. ehmm.. maaf..." dia batal melanjutkan ucapannya.


"Benar Mas, itu saya."


Dedi kembali memperhatikan wajah pria itu, wajahnya kadang berkerut, kadang rapi lagi. Kadang mengangguk, kadang menggeleng.


"Kenapa Mas? Heran muka saya tidak apa-apa? Atau heran melihat muka saya berbeda?"


"Berbeda?" sebelumnya Dedi belum pernah melihat Jimmy. Hanya sepintas, dan kurang diperhatikannya.


"Saya melakukan operasi plastik usai muka saya dirusak Oliver keparat itu, jadi sekarang saya seperti ini."


"Apa Nona Via tau kamu ini temannya dulu?"


Jimmy menggeleng, "Dia tidak mengenal saya Mas."


"Kenapa kamu mengikutinya terus? Kamu suka sama dia?"


"Sejak sekolah dulu Mas, tidak berubah sedikit pun."


"Kamu bisa apa agar bisa berada di dekatnya?"


"Maksudnya?"


"Jika kamu hanya orang lemah, lebih baik kamu menjauh! Banyak hal yang tidak akan kamu pahami terus mengintainya. Jadi, jika kamu orang lemah, menjauh lah!"


"Bukan kah dia sendiri yang harusnya memutuskan semua itu?"


Melihat kesungguhan pria bernama Jimmy ini, Dedi tidak bisa berkomentar lagi. "Saya hanya memperingatimu, bukan melarang kamu. Jika kamu benar sungguh-sungguh dan bisa merebut hatinya dari alm. Deval, ya saya setuju saja. Berarti kamu orang tangguh melawan musuh yang tidak terlihat."


"Jadi dia belum memiliki kekasih lagi?"


"Setahu saya sih belum, bahkan Mas Stevan pun ditolaknya mentah-mentah. Padahal Mas Stevan sudah seperti itu mencintainya. Dia masih saja memikirkan alm. Deval."


Sebuah senyuman tipis, tersungging di bibir Jimmy. Mendapat kabar dia belum memiliki kekasih bagai sebuah angin surga yang datang menyapa. (Haaattciiimmm... Heaven milik mak Zia bersin).


"Kalau begitu, saya ke sana dulu Mas. Terima kasih atas informasinya."


Jimmy melihat cuaca semakin waktu semakin gelap. Mengambil sebuah payung lalu melangkah memasuki area pemakaman. Dedi melihat ketulusan dari wajah Jimmy pun berharap semoga dia adalah laki-laki yang tepat untuk atasannya itu.


...*bersambung*...

__ADS_1


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...


...terima kasih...


__ADS_2