DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
S2-2 White House


__ADS_3

"Kan udah ada Kak Yudhit?" herannya.


"Kakakmu itu kurang pengalaman dalam pekerjaan ini. Bahkan dia lebih mendahului Biro Hukum yang didirikannya untuk masyarakat kurang mampu! Buang-buang waktu dan duit saja kerjaannya...!" cetus sang ayah dengan nada kesal.


"Bukan kah itu bagus Tosan? Aku sih mendukung kakak jika dia begitu. Soalnya biro hukum yang lain mendahulukan orang yang memiliki uang yang banyak."


"Ini akan memudahkan masyarakat menengah ke bawah yang memerlukan bantuan hukum. Seharusnya Tosan bangga kepada kakak."


"Alah, kamu jangan membela dia!"


"Soalnya jika itu aku, akan memilih hal yang sama juga kok, Tosan."


"Kalau begitu ayo buruan kamu balik! Cukupkan saja kelanamu di sana. Mau tidak mau, dalam seminggu ini kamu harus kembali!" titah sang ayah dengan tegas.


"Huuufftt..., Tosan? Disangka aku robot apa? Yang bisa disetting sesuka hati begitu saja? Masih ada beberapa urusan yang terbengkalai yang harus aku bereskan di sini."


"Tosan tidak mau tahu! Dalam seminggu ini kamu harus segera kembali! Kami tunggu di Singapura!"


"Iya," jawabnya manyun melempar ponsel ke atas kasur, meski sang ayah masih berkoar-koar dalam panggilan.


Dalam kepalanya kembali teringat kenangan-kenangan bersama Deval, dan masih kembali menitikkan air mata. "Semoga kamu tenang di alam sana Val," lirihnya.


***


Di markas FBI


"Apa? Resign? Sementara pekerjaan kamu masih belum selesai!" ucap Direktur James Comey dengan tinggi.


"Aaah, James. Kamu berkata seolah aku tidak pernah menyelesaikan pekerjaanku dengan baik saja. Ayahku sedang mendesak agar aku mengurus Organisasi BOS di Indonesia."


"Lalu Kau biarkan semua pekerjaan milikmu ini terbengkalai?"


"Tinggal kasus judi online saja," menyerahkan laporan-laporan yang masuk.


"Mereka berasal dari sana. Nanti biar aku urus di sana!"


Kedua alis pria tinggi parus baya itu bertemu, "Jadi kami serahkan saja kepadamu-?"


"Tepatnya serahkan ke organisasi BOS," selanya.


"Baik lah, nanti kami akan membuat pengantar pengalihan penyelidikan judi online ke organisasi BOS. Jadi kami bisa mengerjakan hal lain yang lebih penting bukan?"

__ADS_1


"Yaaah, up too you, James. Karena mau tidak mau aku harus kembali."


"Sayang sekali, padahal karir kamu sangat bagus di sini," James menjabat tangan Via. "Terima kasih untuk lima tahunmu di sini. Kami akan memberikan kenang-kenangan sebagai penghargaan yang bisa kamu gunakan dimana pun kamu berada nanti."


"Jika kamu membutuhkan bantuan kami, Saya pastikan akan mempermudah semuanya untukmu."


"James, Thankyou...," ucap Via terharu atas sambutan yang diberi oleh Pimpinan FBI itu.


***


Dua minggu kemudian


"Weeeii..., cepat kabur!" terjadi aksi kejar-kejaran di sebuah pusat perbelanjaan antara beberapa anak muda dengan beberapa tim penyidik organisasi BOS."


"Papa... Papa..., dia sudah ada di sini! Dia sedang mengejar kami!" ucap pemuda itu menggunakan headphone mini di telinganya.


Pemuda-pemuda itu akhirnya memilih untuk berpencar dan melarikan diri sebisa yang mereka mampu. Salah satunya sempat menengok siapa yang mengejar mereka. Seorang wanita yang masih muda dan beberapa pria muda berpakaian serba hitam.


Di luar gedung, tampak olehnya sebuah ambulans berdiri tak jauh dari bangunan. Tetapi posisinya masih cukup jauh, jadi pemuda itu masih harus berlari ke tempat mobil putih itu berdiri.


Wanita yang mengejar tampak semakin mempercepat laju lari dan melompat hendak memberikan tendangan terbang padanya. Namun sang pemuda masih bisa memghindar dari tendangan itu.


Nahas bagi sang wanita, tendangan terbang yang dilakukannya mendarat tidak tepat sasaran. Posisi pemuda tadi tepat dekat dengan tangga. Sehingga wanita itu jatuh dari tangga itu.


"Shiit!" racau wanita itu. Merasa sial tidak bisa melakukan pendaratan dengan baik, karena belum hapal dengan kondisi bangunan. Kakinya terkilir, sementara pemuda yang tadi dikejarnya hingga setengah mati telah lolos tak tahu lari kemana.


"Bagaimana yang lain? Ada yang berhasil menangkap mereka?" tanya wanita itu, yang tak lain dan yang tak bukan adalah Via.


Dia sudah di Indonesia, memimpin operasi penangkapan mafia judi online yang hampir saja ditangkapnya, saat mereka sampai ke negeri paman sam.


Dari dalam sebuah mobil, ada yang tengah khawatir melihat Via terjatuh cukup tinggi dari tangga tadi. Tampak berjalan tertatih dan pincang, meringis menahan kesakitan dari cidera yang baru saja didapat akibat ulah anak buahnya.


Pria itu melajukan kendaraannya meninggalkan tempat itu. Menuju sebuah rumah sakit dan berjalan cepat menyusuri koridor. Tampak beberapa pegawai dan perawat menyapanya. Membuka salah satu pintu, lalu menuju wastafel untuk mencuci tangan dan wajahnya.


Melihat pantulan wajahnya di cermin tepat di dinding di atas wastafel itu. Wajah yang sangat berbeda dengan seseorang delapan tahun yang lalu.


"Kamu sudah di sini," kembali senyuman tersulam di bibirnya, sembari membenamkan wajahnya di sebuah handuk kecil yang sengaja di sediakan.


Berjalan menuju pojok ruangan, mengambil sebuah jas bewarna putih lalu dikenanakannya. Tak lama, memilih duduk di kursi miliknya, lalu mengakses laptop yang ada di atasnya.


[Bagaimana keadaan di lapangan?]~Papa

__ADS_1


[Sepertinya mereka menuju rumah sakit]~Uncle


[Rumah sakit mana?]~Papa


[Tempat kita]~Uncle


[Bagus. Kamu cepat lah kembali. Persiapkan semua sebaik mungkin!]~Papa


[Baik]~Uncle


Dia menggosokkan kedua telapak tangannya, seolah sudah tidak sabar menanti kedatangan wanita itu. Wanita yang sejak delapan tahun dicarinya dengan berbagai usaha. Akhirnya memilih membentuk sendiri jaringan mafia dengan produk judi online, berkedok game online.


Nama grub mafia yang didirikannya adalah White House. Semua anggotanya terdiri dari orang-orang yang bekerja di rumah sakit ini yang baru setahun lalu didirikannya.


Anggotanya terdiri dari para staff dokter, staff perawat, apoteker, staff administrasi, staff labor, staff obe, tukang kebun, dan satpam. Tepatnya seluruh pegawai di rumah sakit ini, merupakan anggota mafia miliknya.


Hal itu dilakukan karena hampir putus asa mencari gadis yang dicintai sejak masa sekolah. Entah dapat wangsit apa, memilih dan memaksa pegawai-pegawai rumah sakit itu untuk bersedia menjadi mafia. Ternyata, hal demikian membuat gadis itu benar-benar mencarinya hingga ke sini.


Aaahhkk, seandainya saja dari dulu aku lakukan, mungkin tidak membutuhkan waktu yang lama untuk kita berjumpa, menatap kembali pantulan cermin. Seorang pria tampan berbalut jas putih, yang tampak tersenyum puas.


tok... tok... tok...


"Masuk!" ucapnya.


cekrek... handle pintu ditarik dengan perlahan.


Dari balik pintu, muncul seorang perawat wanita. "Papa, sepertinya wanita itu sudah ada di IGD, membutuhkan penanganan dengan segera."


Orang yang dipanggil Papa itu segera bangkit, "Ayo...!" ajaknya sedikit khawatir, namun bersemangat.


"Ingat, di hadapan pasien kalian memanggil saya dengan 'Dokter' okey?"


Perawat itu terkekeh geli, "Baik, Dok!"


Mereka menyusuri koridor, menuju ruang penangan cepat. Saat memasuki ruangan itu, di antara pria yang ada di sekelilingnya, tampak sebuah wajah yang benar-benar dirindukannya. Wajah itu juga menatapnya, hal itu membuatnya tiba-tiba menjadi gugup.Tenang lah, batinnya.


"Selamat malam..."


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...

__ADS_1


...terima kasih...


__ADS_2