DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
S2-35 Jimmy vs Bruno


__ADS_3

Tiba-tiba Tosan mengejang dan jatuh. Air mata Via jatuh seketika melihat aliran darah yang deras dari kepala sang ayah.


"TOSAAAANNN...!!!" Via memeluk ayahnya yang seketika kehilangan nyawa.


Jimmy melihat siapa pelaku penembakan itu. Orang itu tidak dikenalnya dan langsung pergi begitu saja. Dengan segera Jimmy mengejar pelaku, Buana Putra dan Jason ikut mengejar pria tadi.


"Bruno...!!!" geram Buana Putra.


"Papa kenal dia?" tanya Jimmy dengan langkah cepat setengah berlari. Tampak sudah banyak yang tumbang dari segala sisi. Jimmy masih berusaha mengejar Bruno.


"Dulunya kami rekan kerja. Namun, setelah Oliver mencelakaimu, Papa putuskan menghentikan hubungan kerja sama dengannya, meski harus mengganti rugi atas semua bantuan yang diberikannya.


Tampak Bruno akan memasuki kendaraannya, Jimmy berlari semakin cepat untuk mengejar Bruno. Membuka pintu kendaraan itu lalu menariknya.


"Apa yang kau lakukan brengsek?"


buuugghh...


Jimmy mengayunkan pukulan pada wajahnya dengan bertubi-tubi. Bruno hanya menyeringai, menepuk tangannya dua kali.


dooorrrr....


Jimmy terkejut mendengar suara tembakan yang berasal dari arah belakangnya. Tampak sang ayah berdiri mengembangkan tangan untuk melindungi dirinya.


"Jason!" ucap Buana Putra.


dooorr...


doooorrr..


Jason menembak orang suruhan Bruno itu. Jason berhasil menumbangkan penembak itu.


"Bagus! Kamu cocok jadi cucu Eyang! Nanti kamu bisa lanjut jadi penembak jitu!" ucapnya kembali mengelus dadanya yang semakin sakit terkena dua kali tembakan.


buuugghh..


bugghh..


Jimmy melanjutkan kembali pukulan dan tendangannya. Membenturkan kepala Bruno ke kaca jendela mobil berkali-kali hingga retak.


"Biadap! Kau hanya bisa bermain dengan senjata keparat?!" Jimmy masih menghajar Bruno hingga hidung dan bibir Bruno mengucurkan darah segar.

__ADS_1


Buana Putra melihat seseorang kembali membidik ke arah anaknya yang tengah menghajar Bruno. "Jason, kamu tembak orang itu. Eyang mau melindungi Papa kamu dulu!"


"Tapi bukannya barusan Eyang bilang, anti pelurunya sudah rusak terkena dua kali tembakan? Eyaang, jangaaan! Biar aku saja yang menembak dia sekarang."


Jason membidik orang yang jaraknya cukup jauh. Dia tengah membidik Jimmy dengan senjata laras panjang. Buana Putra tetap berjalan ke arah Jimmy yang tak henti menghajar Bruno.


Terdengar suara sirine dari kejauhan. Romi telah menghubungi beberapa pihak berwenang lewat panggilan gawat darurat. Dia meminta pertolongan. Akhirnya, bala bantuan pun datang. Tim angkatan bersenjata dan resque dari negara ini tengah menuju lokasi ini.


dooorrr...


Jason menembak, namun tidak tepat sasaran karena terlalu jauh. Jason kembali membidik snyper itu dengan teliti.


dooorrr...


Snyper itu menembak ke arah Jimmy.


dooorrr...


Jason pun menembak snyper itu. Dia tampak langsung jatuh. "Yes!" soraknya bangga. Tapi, melihat Buana Putra yang mulai jatuh, Jason berlari mengejarnya.


Jimmy melihat ayahnya berdarah. Memperkuat serangannya menghajar Bruno. Kembali membenturkan kepala Bruno sekerasnya, hingga kaca jendela mobil itu pecah. Kepala Bruno terluka dan darah segar tak berhenti mengucur dari luka-luka itu. Melihat demikian, Jimmy mendorong Bruno hingga tersungkur jatuh di aspal.


Tampak beberapa anggotanya datang mendekat. "Kalian urus dia!" titah sang Papa.


"Pa, bertahanlah!" ucap Jimmy lirih. Jimmy memeriksa bagian luka tembakan. Ternyata mengenai bagian vital sang ayah. Tangan Jimmy bergemetar.


"Sepertinya Papa tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Kamu tidak apa kan, jika Papa tidak bisa menjadi walimu nanti?" ucap sang ayah tercekat.


"Papa bertahan lah! Bantuan telah datang. Papa lah yang menemaniku nanti di hari bahagia itu."


"Sampaikan maaf Papa kepada Via atas semua masalah kami selama ini. Jika seandainya tidak ada masalah itu, mungkin Papa tidak akan mengenal Bruno. Oliver tidak akan sampai ke negara kita. Semuanya pasti tidak akan terjadi."


"Jangan bicara lagi!" Jimmy bersiap untuk mengangkat ayahnya naik ke tandu.


Buana Putra menahan tangan Jimmy. Menggelengkan kepalanya. "Saat Papa pergi, tugasmu adalah untuk tetap menghibur dia. Sampaikan kepadanya ucapan terima kasih dari Papa karena dia telah mencintaimu dengan tulus. Meskipun dia tahu, bahwa kamu adalah anak Papa. Anak dari orang yang menyakitinya dulu."


"Jangan bicara lagi!" ucap Jimmy semakin gusar.


"Papa tidak ada waktu lagi. Jangan lupa jadi lah dokter yang baik, bagi pasienmu. Kepala keluarga yang teladan untuk keluargamu. Suami yang sayang pada istrimu! Jangan seperti Papa yang sudah menyakiti Mamamu. Ayah yang baik buat anak-anakmu. Panutan hebat bagi bawahanmu. Papa yakin kamu pasti bisa."


Tampak sang ayah semakin sesak, "Papa minta, doakan Papa. Semoga Tuhan mengampuni segala dosa yang telah Papa lakukan di dunia ini."

__ADS_1


"Bertahan lah Pa!"


"Kamu sudah tahu kondisi Papa."


Jimmy diam, dalam diamnya menyadari bahwa memang kondisi ayahnya saat ini sangat lah sulit. Posisi peluru mengenai organ hati sang ayah.


"Seharusnya Papa tidak melindungiku." ucap Jimmy lirih.


"Jalan hidupmu masih panjang. aaaahhhgg... huk... huk..."


Akhirnya tim penyelamat mengangkat sang ayah. Di atas tandu, tangan ayahnya terlepas tiada daya dan pergi meninggalkannya untuk selamanya. Air mata Jimmy menetes satu per satu. Meski apa pun yang dilakukan ayahnya semasa hidup, baginya Buana Putra adalah sosok ayah yang terbaik untuknya.


Pasukan bersenjata dah pasukan elite menyusur seluruh bagian bangunan itu. Mengamankan para penjahat yang telah babak belur dihajar pasukan yang berangkat bersama mereka tadi. Beberapa anak buah Jimmy ikut ditandu oleh tim penyelamat. Ada yang dipapah, dan ada yang baik-baik saja seperti Romi.


Via muncul mengiringi tandu dengan wajahnya yang kaku. Itu adalah jenazah ayahnya. Via melihat Jimmy yang diam tanpa ekspressi. Otornya begitu jahat, membuat ayah keduanya tewas dalam waktu bersamaan. Otornya lelah... Kasih hadiah dunk, biar semangat.


Jimmy terlihat berdiri melipat kedua tangannya di dada menunduk namun pikirannya mengawang. Via berjalan mendekati Jimmy, dan ia langsung merangkulnya. Jimmy langsung membalas pelukan itu.


Tanpa berkata apa-apa, Via menangis dalam pelukan Jimmy. "Menangis lah, jika itu membuatmu lega." ucap Jimmy mengelus rambut Via.


"Kakak kenapa tidak menangis?" isaknya.


"Jika aku menangis, nanti kamu akan kehilangan tempatmu bertopang. Ini sudah menjadi takdir yang harus kita jalani. Kamu wanita kuat kesayanganku. Jangan runtuh hanya karena ini."


"Aku lelah untuk menjadi kuat." tangisnya.


Jimmy mendorong Via hingga bisa melihat wajahnya. Mengusap air mata yang tiada henti terus memenuhi wajahnya. "Jika kamu lelah menjadi kuat, berarti aku harus menjadi lebih kuat lagi. Biar aku yang melakukan semuanya untukmu."


Via kembali menyandarkan dirinya dalam pelukan Jimmy. "Kakak jangan sok kuat begitu. Menangis lah!"desisnya.


"Aku sudah bilang. Aku akan menjadi lebih kuat lagi. Setidaknya menjadi tempat mengadu untuk gadis kuat seperti dirimu."


Via makin sesegukan mendengar kata-kata Jimmy itu. "Kenapa Kakak baik sekali? Tetapi aku selalu saja menyakitimu."


Jimmy mengulum senyum tipisnya. "Menangis lah, ini adalah cobaan yang bisa kita lalui. Pasti akan ada pelangi setelah hujan." Mencium pucuk kepala Via, dan kembali membelai rambut gadis itu. Sementara matanya mengawang menatap ambulans yang membawa jasad ayahnya.


Halloo ... Hallo ... Hallo ... Aku mau promokan karya temenku yaa... cerita romansa fantasi yang keren abis. Lucu banget deh pokoknya. Jangan lupa mampir yaaa ...



...*bersambung*...

__ADS_1


...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...


...terima kasih...


__ADS_2