DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Ex.P1- 8 tahun lalu Jimmy


__ADS_3

Setelah melakukan operasi plastik, di sebuah negara yang sangat terkenal dengan keahlian itu, akhirnya Jimmy kembali dengan perasaan harap-harap cemas membayangkan bertemu dengan Marni.


Dia merasa takut, bila Marni semakin menjauh saat menemukan dia menjadi orang lain. Menjadi orang baru yang tidak dikenalnya sama sekali. Setelah beberapa waktu tidak datang ke sekolah, dia sama sekali tidak mendapat kabar tentang Marni. Bahkan, saat dia bertanya kepada dua sahabatnya pun dia hanya disuruh untuk langsung ke sekolah.


Pertama kali melangkah dengan wajah barunya, semua orang mengira dia anak baru di sekolah ini tanpa memperhatikan label nama yang ada. Saat melihat label nama Jimmy, semua memandang dengan tatapan tidak percaya.


"Ini lo Jim?"


"Waaah, Kak Jimmy sekarang sangat berbeda."


"Hahah, orang kaya mah bebas."


Bermacam komentar telah didengarnya. Ada yang langsung, ada yang tidak langsung.


"Hey ... Bro, udah masuk sekolah aja lo?" Gilang mendekap bahu orang yang merasa canggung seperti menjadi siswa baru ini.


Tepat di depan pintu kelasnya, dia memandang ke seberang lapangan basket. Memandangi pintu kelas Marni, berharap Marni keluar dari kelas itu.


"Weeii, masuk dulu!" Gilang kembali menarik Jimmy yang masih belum bergerak. Mendorong Jimmy duduk di bangku yang biasa dia tempati.


"Bagaimana kabarnya teman Marni yang tertembak itu?" Jimmy memulai pembicaraan. Gilang hanya bisa tertunduk menanggapi pertanyaan sohibnya ini. Lalu menggeleng pelan.


"Maksudnya?"


"Dia tidak terselamatkan. Meninggal saat perjalanan ke rumah sakit."


Jimmy refleks berdiri, dia ingin segera mencari Marni. Membayangkan kondisi Marni saat ini. Namun, Gilang menariknya untuk duduk kembali.


"Mau kemana?"


"Gue mau lihat keadaan Marni. Dia pasti sangat terpukul."


"Iya, dia sangat-sangat terpukul. Rada-rada--" sela Kevin sambil memutarkan telunjuk di sekitar kepalanya. Gilang memukul dan membesarkan matanya kepada Kevin.


Jimmy kembali berdiri ingin melangkah. Gilang menarik agar Jimmy duduk kembali.


"Mau kemana?"


"Gue ingin lihat keadaan dia secara langsung."


"Tapi dia udah tidak di sini!"


"Maksudnya?"


"Dia menghilang tanpa kabar."


Jimmy menghempaskan dirinya pada sandaran kursi. "Kemana? Sabrina temannya bagaimana?"

__ADS_1


"Tidak tahu. Tak ada kabar sama sekali. Sementara temannya itu ikut pindah. Tapi dia kembali ke orangtuanya, di Bandung."


Jimmy hanya bisa menyandarkan diri. Menahan sebuah rindu, tidak melihat wajah itu semenjak dia keluar negeri. Kenyataan membuat rindu semakin tak terobati. Dia menghilang begitu saja.


...***...


Suatu saat Jimmy menemukan Romi sedang berjongkok menulis-nulis sesuatu di dinding pojok sekolah. Dia masih ingat bahwa Romi adalah teman sekelas Marni. Lalu dia membaca tulisan yang ditulis oleh Romi itu.


Gagu ... Lo dimana? Kenapa saat gue suka lo malah pergi?


Jadi anak ini menyukai Marni juga?


"Lo nyari Marni juga?" Jimmy memulai obrolan mereka.


Romi hanya diam tertunduk, merasa segan dengan senior mantan ketua OSIS sekolah mereka ini. Lalu permisi menganggukan kepalanya pergi.


"Gagu, Lo dimana? Kenapa di saat gue suka lo malah pergi?" Jimmy kembali mengulang membaca coretan yang dibuat oleh Romi.


"Tapi sayang, kita tak akan pernah berjumpa lagi dengannya."


'ck' Jimmy hanya bisa berdecak.


"Kamu kemana? Apa kembali bersama dengan orang tuamu?" gumamnya, masih melihat bekas coretan itu.


...***...


Jimmy tengah melakukan persiapan masuk perguruan tinggi. Kembali didapatinya Romi tengah bermain game online di sebuah warnet. Lalu Jimmy ikut duduk di sebelah Romi.


"Kenapa? Lalu apa hubungannya dengan gue?"


"Coba aja! Gue penasaran!"


"Pilih sendiri komputer yang lain sanah!"


"Lakukan aja!"


Dengan perasaan dongkol, Romi mematuhi apa yang disampaikan oleh Jimmy. Mencari seorang detektif bernama Via. Dia terbesit nama Marni, yang ada Via juga. "Lutvia ... Lutvia."


"Iya, dia ... Marni!" ucap Jimmy singkat.


"Jadi namanya Via? Bukan Marni?" Romi menautkan kedua alisnya.


"Cari aja!"


"Untuk?"


"Gue pengen tau dia dimana!"

__ADS_1


"Cari aja sendiri!"


"Gue males, makanya lo yang gue suruh."


Romi hanya bisa bersungut di dalam phatinya. Merepotkan aja ni orang, batinnya.


Ternyata, dia tidak menemukan apa yang berkaitan dengan kata kunci tadi. "Coba sekarang ganti kata kuncinya dengan Organisasi BOS?"


"Lagi???"


"Cari aja! Berisik banget!"


Romi kembali bersungut di dalam hatinya. Namun masih dilakukan meski merasa terpaksa. Beritanya ada, namun tidak bisa dilihat, alias terkunci.


"Ini kenapa kira-kira?" tanya Romi menjadi penasaran.


"Gue dengar dari bokap, Via alias Marni itu anak yang punya organisasi ini. Gue udah coba, namun tidak bisa juga. Siapa tau lo jago meretas, hobi nangkring di sini."


"Gue baru bisa bikin cheat buat memenangkan permainan online sih. Belum coba meretas kelas berat. Nanti gue coba deh." Menengadahkan tangannya di hadapan Jimmy.


"Untuk?"


"Bayar warnet! Duit gue seret."


Jimmy merogoh isi kantong celananya. Menemukan uang Soekarno-Hatta. Ini, pakai dulu.


"Beneran nih?"


"Tapi syaratnya lo harus memberi gue informasi yang lo dapat tentang Marni!"


"Udah macam babu aja gitu?" Romi kembali mengernyitkan dahinya.


"Bukan babu sih, tepatnya sebuah kerja sama. Lo juga pengen tahu informasi tentang Marni kan?"


Romi membenarkan dalam hati, walau dia sendiri merasa itu hanya sebuah hal yang sia-sia. Dia tetap mencoba sembari menyebar cinta di dunia sosial media.


Waktu demi waktu terus berlalu. Jimmy sengaja memberikan Romi sebuah Laptop agar Romi semakin mahir dalam belajar menjadi hacker. Menurutnya Romi memiliki bakat yang pantas diasah. Semakin waktu Romi semakin dekat dengan Jimmy udah bagai saudara sendiri. Romi mengajak kawan-kawannya, termasuk Dino untuk bergabung dengan Jimmy Cs.


Jimmy sangat mengingat Dino. Karena diam-diam selalu memperhatikan Marni, membuatnya tahu Dino adalah musuh bebuyutan Marni. Namun kenyataan baru yang ditemukan, bahwa sebenarnya Dino itu memang tipe usil yang gemesin. Tepatnya ngeselin.


Romi dan kawan-kawannya yang lain seperti telah sangat hapal dengan tabiat Dino, sehingga tak pernah memikirkan apa pun yang dilakukan Dino. Bahkan dia berbicara serius pun jarang didengar.


Akhirnya Romi berhasil meretas informasi keluarga Organisasi BOSS. Namun, semua sudah terlambat. Waktu yang dihabiskan untuk mampu meretas jaringan sebesar Organisasi BOSS memakan waktu yang cukup lama. Saat dia menyesaikan tingkat SMA.


Jimmy menuju tingkat tiga pendidikan kedokteran yang dia tempuh. Meski sudah banyak calon-calon dokter cantik yang mencoba mendekat, namun Jimmy tak bergeming sedikit pun.


Sementara dua kawannya entah berapa kali bergonta ganti pasangan. Namun, hatinya tak bergeming terus berharap pada Marni. Dia bertekad tidak akan menyiakan kesempatan, jika berhasil menemukan gadis itu.

__ADS_1


Tak lama Romi mengabarkan bahwa Via alias Marni telah pindah ke Jepang. Setelah menamatkan High Shcool-nya, dalam informasi rahasia yang berhasil diretas, Romi berhasil mengulik informasi perbincangan Pusat Organisasi BOS yang ada di Singapura. Lewat webcame pada perangkat aktif pada organisasi pusat.


*Ex-part masih bersambung*


__ADS_2