
Masih asyik dengan pikirannya, dia tersadar tengah memegang sebuah amplop yang berisi patungan dari kawan-kawan satu kelasnya. Mau dia apakan uang ini? Lalu terlintas untuk menyumbangkan pada fakir miskin yang lebih membutuhkan, agar pahala kawan-kawannya yang menyumbang tetap mengalir sebagai mana mestinya.
Akhirnya Mami dan Tosan menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit untuk Via. Merasa heran melihat anak gadisnya tengah kemulan dalam sarung.
"Ada apa ini Via?" tanya sang Ibu..
"Ohh eehh hehe tidak apa Mi."
"Nah, semua sudah beres. Kita sudah bisa kembali."
"Kembali kemana Mi?" Via masih belum puas melepas rindu dengan keluarganya ini. Takut baru saja datang malah udah mau balik lagi ke Singapore.
"Ke kostan kamu," ucap Mami, dan perasaannya seketika menjadi lega.
Ponsel Deval bergetar, melihat layar, adalah komandan yang dia kenal. Lalu mengusap tanda hijau dan melangkahkan kakinya menuju pojok untuk berbicara dengan komandan Putra, yang selalu membagi informasi akan kasus yang dia tangani.
"Baik lah komandan, saya akan segera memanggil Devan. Kami akan langsung ke TKP."
Telepon ditutup, lalu melangkahkan kaki menuju keluarga yang sedang bernostalgia itu. "Tante, Om, aku pamit dulu ya? Mohon maaf belum bisa mengantarkan sampai ke kosan Via, karena ada urusan yang harus segera saya tangani."
"Ooh.. begitu? Padahal kami ingin ngobrol lebih banyak sama kamu lho," ucap ibu Via dengan senyuman menggoda Via.
__ADS_1
Deval sadar kecantikan Via turun dari siapa, dan mata sipitnya turun dari siapa. Pasti beruntung sekali orang yang bisa memiliki gadis cantik ini, batinnya.
"Saya pamit ya Tante, Om, Kakak, dan Via," mereka mengangguk. Via menatap punggung Deval yang semakin menjauh. Via ikut berharap, semoga apa yang dilakukan oleh Deval, bisa diselesaikannya dengan baik.
***
"Gimana motor tadi Val?" tanya Devan yang tengah menyetir.
"Tadi udah gue minta Mang Ujang untuk menjemputnya, membayar denda dan mengurus surat-surat berkaitan dengan kecelakaan, lalu memintanya untuk membawa benda itu ke bengkel.."
"Pantesan aja ya Via secakep itu ya, ternyata mereka semua seperti keluarga kerajaan yang ada di komik," celetuk Devan.
Mereka sampai di TKP, dimana tempat itu merupakan kawasan kumuh yang sangat padat.
"Apa yang terjadi di sini Komandan?" tanya Deval, yang tengah melihat banyak sekali warga yang mengalami ruam dan selalu menggaruk tubuh mereka.
"Kami mendapatkan laporan dari warga bahwa salah satu warga di sini sengaja mengirimkan penyakit kepada orang-orang yang dibencinya. Jadi mereka menuduh bahwa seseorang bernama Mak Iroh menyantet mereka."
"Santet?" tanya Devan penasaran, sementara Deval menyimak dalam diamnya.
"Kalau kita kaitkan dalam dunia realita, semua memang hanya sebuah mitos yang tidak nyata. Namun kita sebagai penyidik tak boleh menyerah dengan kondisi demikian. Kita harus bisa membuktikan, bahwa ini merupakan tindakan kriminal yang sengaja dibuat oleh tangan manusia."
__ADS_1
Deval dalam diamnya terus mendengarkan penjelasan yang diberi kepala tim penyidik, Komandan Putra. Usai mendapat penjelasan yang panjang, mereka memulai penyelidikan.
Deval memulai mewawancarai korban, memeriksa benda, alat, yang digunakan dan yang dikonsumsi oleh keluarga korban. Hampir semua korban mengalami hal yang sama sebelum mendapatkan penyakit aneh ini.
Yaitu, mereka baru saja memarahi anak-anak mereka karena bermain dengan Udin. Udin merupakan anak dari salah satu warga yang biasa dipanggil Mak Iroh. Konom dicurigai seorang yang memiliki ilmu hitam. Kabarnya menyediakan jasa mengirimkan santet kepada orang yang tidak disukai oleh pihak yang membayarnya.
Keresahan itu membuat para orang tua yang memiliki anak seusia Udin, memarahi anaknya jika kedapatan bermain dengannya. Selang waktu yang tidak beberapa lama, secara serentak keluarga yang melarang anaknya bermain dengan Udin, mengalami gatal yang sangat luar biasa di tubuh mereka, hingga terus digaruk hingga menyisalan ruam yang lebar dan tidak sedikit menggaruk hingga berdarah.
Sudah seminggu warga ini mengeluhkan hal yang sama, telah dibawa berobat namun katanya tidak kunjung reda juga, sehingga masyarakat melapor kepada pihak kepolisian untuk menindaklanjuti kejadian yang sangat meresahkan masyarakat ini.
Pemeriksaan dan pencarian barang bukti terus dilakukan, hingga tidak terasa waktu telah bergulir hingga malam yang semakin larut, sehingga mereka memutuskan penyelidikan dilanjutkan esok hari usai pulang sekolah.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...
__ADS_1