DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
87. Mimpi


__ADS_3

Via membolak-balik jemarinya memainkan ponsel dari atas ke bawah, membaca pesan yang saling dikirimnya dengan Deval. Sudah beberapa kali tombol telepon ditekan, lalu langsung menekan tombol merah tanda batal. Ada sesuatu yang membuncah di dalam dirinya, namun dia sendiri tidak bisa memahaminya.


Namun, karena tubuhnya yang teramat lelah, membuat matanya sayup-sayup menutup dan sampai di alam sana.


Sementara Deval yang masih dalam galaunya, ingin segera menemui Via saat ini juga. Dia merasa harus menjelaskan apa yang sebenarnya dia rasakan tadi, ingin meluruskan masalah yang tak sengaja terjadi tanpa kata di antara mereka. Kemudian Deval mengeluarkan motornya yang Baru saja usai diperbaiki setelah kejadian kecelakaan yang dialami oleh Via kemarin.


Deval keluar dari gerbang rumahnya, tanpa dia sadari dua mobil yang berisi anggota gangster terus mengawasi rumahnya. "Pastikan kita tidak salah orang, jangan gegabah. Lelaki muda yang bernama Deval itu memiliki saudara yang mirip dengan dia. Jadi saya peringatkan, kita tidak boleh salah."


"Okay Oliver. Kami tidak akan gegabah dalam tugas yang kami kerjakan."


Lalu mobil-mobil itu mengikuti perjalanan motor Deval. Deval hampir sampai di kostan Via, menyadari ada yang sedari tadi mengikutinya. Deval menghentikan motornya hendak memastikan apakah benar orang-orang ini sengaja mengikutinya itu. Namun, ternyata mobil itu ikut menepi dan berhenti.


Melihat sosok-sosok bertubuh besar dan tinggi keluar dari kendaraan itu, membuat Deval semakin yakin, mereka memang sengaja mencarinya. "What do you want?"


"Apa benar kamu saudara Deval?" tanya salah satu dari mereka.


"Kalau bukan kenapa, kalau iya kenapa?"


"Kalau bukan, kamu akan mati. Kalau benar, kamu akan kami bawa," jawab orang yang sama dari anggota mafia itu.


Deval hanya menyunggingkan senyuman sinis, dan segera naik ke motornya lalu melajukan motor itu secepat yang dia bisa. Anggota mafia yang melihat lelaki muda itu pergi, dengan segera masuk ke mobil dan sang supir dengan segera melajukan kendaran roda empat itu


...klik gambar



...


Kali ini terjadi aksi kejar-kejaran antara sepeda motor dan mobil mafia dari negeri Numero Uno.


...klik gambar...



Deval sebisa mungkin melaju di jalanan yang ramai, mencoba menuju kantor polisi. Berharap, mereka segera berhenti untuk mengejarnya. Deval berhenti tepat di kantor polisi resort dan segera masuk ke dalam, hendak melaporkan bahwa dirinya tengah diikuti oleh orang-orang asing.


Para mafia yang tersadar mengikuti orang yang menuju kantor polisi itu, hanya sekedar lewat dan terus melanjutkan perjalanannya. Senyuman licik menghiasi bibir Oliver.


"Kali ini kita biarkan saja dia terlebih dahulu. Sepertinya dia sadar bahwa kita sama sekali tidak memiliki niat baik dengannya." Lalu mobil itu terus melaju menuju markas yang mereka buat di kota ini untuk sementara.


***


Via berjalan mengenakan gaun bewarna putih. Menuruni anak tangga satu per satu. Dia merasa heran mengapa saat ini mengenakan pakaian feminim seperti ini? Ini bukan cara berpakaian yang dia sukai. Dia lebih suka berpenampilan sporty.



Entah kesambet apa ya? Tiba-tiba gue pakai baju seperti ini. Ada acara apa ini ya? Terus berjalan menyusuri jalan itu, jalan yang seolah menuntun nya untuk terus melangkah hingga berakhir di sebuah panggung.


Via berhenti tepat di depan panggung itu. Dia melihat seorang cowok berdiri di atas panggung dengan pakaian putih juga. Tengah membelakanginya sedang berdiri dengan tenang di sana. Siapakah gerangan yang ada di sana? Tetapi dia seperti mengenal sosok lelaki muda itu, dia seperti Deval.


Terdengar alunan musik yang syahdu, dan sosok berbaju putih itu membalikkan badan dan mulai bernyanyi.



*ayo readers, dengarkan lagunya. boleh cari di google atau youtube. Lagu dari Lovarian~Perpisahan yang Termanis. Biar nyanyi bareng Deval πŸ˜…


🎡🎢🎡🎢🎡🎢🎡🎢


Bila nanti kita berpisah


Jangan kau lupakan


Kenangan yang indah


Kisah kita

__ADS_1


Jika memang kau tak tercipta


Untuk kumiliki


Cobalah mengerti


Yang terjadi


Bila mungkin memang tak bisa


Jangan pernah coba memaksa


'Tuk tetap bertahan


Di tengah kepedihan


Jadikan ini perpisahan yang termanis


Yang indah dalam hidupmu


Sepanjang waktu


Semua berakhir tanpa dendam dalam hati


Maafkan semua salahku


Yang mungkin menyakitimu


Semoga kelak kau 'kan temukan


Kekasih sejati


Yang 'kan menyayangi


Bila mungkin memang tak bisa


Menyatukan perbedaaan kita


Dan tetap bertahan


Di tengah kepedihan


Jadikan ini perpisahan yang termanis


Yang indah dalam hidupmu


Sepanjang waktu


Semua berakhir tanpa dendam dalam hati


Maafkan semua salahku


Yang mungkin menyakitimu


Bila mungkin memang tak bisa


Menyatukan perbedaaan kita


Dan tetap bertahan


Di tengah kepedihan


Ho-oh-oh


Jadikan ini perpisahan yang termanis

__ADS_1


Yang indah dalam hidupmu


Sepanjang waktu


Semua berakhir tanpa dendam dalam hati


Maafkan semua salahku


Yang mungkin menyakitimu


Jadikan ini perpisahan yang termanis


Yang indah dalam hidupmu


Sepanjang waktu


Semua berakhir tanpa dendam dalam hati


Maafkan semua salahku


Yang mungkin menyakitimu


🎡🎢🎡🎢🎡🎢🎡🎢🎡🎢🎡


Tak terasa mata Via meneteskan butiran-butiran bening dengan derasnya. Kenapa dia menyanyikan lagu cengeng itu?


"Apa tak ada lagi lagu lain yang bisa Lo nyanyikan buat gue?" air matanya terus mengalir. "Nyanyikan lagu L'Arc en Ciel aja bisa ngga? Atau Linking Park aja sekalian?"


Sosok mirip Deval itu tersenyum. Mengajak Via ikut naik ke atas panggung.


"Via, aku menyayangimu. Jika suatu saat aku pergi sejenak, kamu mau menungguku kan?"


Via merasa heran, mengapa sapaan yang digunakan cowok itu berbeda dari biasanya.


"Aku akan pergi untuk..."


Belum selesai Deval berbicara, Via langsung menyela, "Kenapa sih Val? Ada apa? Apa yang Lo pikirkan? Bisa nggak sih Lo bicara sedikit saja, agar gue bisa memahami diri Lo?"


Kembali sosok Deval hanya menjawab dengan senyuman. "Nanti di saat aku tak ada, kamu jaga diri baik-baik ya?" lalu sosok itu mengecup pipi Via sesaat, setelah itu beranjak pergi menjauh dan menghilang.


"Deval, Deval, Vaaalll..." pekiknya duduk terbangun. Pipinya telah basah oleh aliran air mata. Matanya liar mengedarkan pandangan ke seluruh sisi ruang di kamarnya. Dengan perasaan gusar, menangkupkan tangan ke wajahnya, takut sesuatu yang mengerikan menimpa Deval.


Via segera mencari ponselnya dan mencari kontak Deval. Dia langsung memencet tombol panggilan, tanpa membatalkan seperti tadi. Nada tunggu berbunyi hingga tiga kali, dan panggilan tersambung. Via menghembuskan nafas lega, masih bisa berbicara dengannya.


"Halo Vi," sapa Deval dengan nafas yang cukup memburu.


"Ada apa Val? Lo baik-baik aja kan Val? Sekarang ada dimana?" tanyanya dengan buru-buru. Dia merasa sangat takut akan mimpi tadi, yang seperti pertanda buruk dari firasatnya yang akhir-akhir ini terus merasa khawatir terhadap Deval.


"Gue lagi di kantor polisi."


"Kenap Val? Ada apa? Apa yang terjadi?"


"Hmmm, tidak usah dipikirkan. Tadi hanya ada sedikit masalah." Deval merasa malu mengatakan bahwa dia baru saja dikejar oleh serombongan orang asing, dan lari meminta perlindungan pada polisi.


"Ayo Val ceritakan, ada apa? Bisa nggak sih Lo lebih terbuka pada gue? Biar gue punya solusi juga untuk membantu Lo. Jangan pendam semuanya sendirian!"


"Hmmm," dia merasa malu untuk mengatakannya. Masih memikirkan kalimat yang menurutnya pas...


"Apa ada yang mengikuti Lo, Val?"


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...


...terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2