DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
40. Serangan cinta


__ADS_3

*Notes: sebelum membaca bab ini, otor harapkan reader tidak terlalu masukkan ke dalam hati. Ini hanya hasil reka dunia pernovelan dari otor, dan hanya sekedar pandangan semata dari otor. Jadi jangan BaPer yaaa


Via dibangunkan oleh suara ponsel menandakan telepon masuk.. waktu masih menunjukkan pukul lima pagi, berarti baru empat jam dia tertidur, tetapi Via dipaksa bangun oleh panggilan tersebut.


Ditengok pada layar ponselnya, telepon tersebut adalah panggilan yang tidak terdaftar di dalam kontaknya. Panggilan itu diabaikannya, lalu ponsel tersebut dinonaktifkan. Setelah itu dia melanjutkan tidurnya kembali. Satu jam kemudian teleponnya aktif secara otomatis karena alarm yang telah disettingnya. Masih malas-malasan dia mengusap layar benda pipih itu untuk mematikan suara alarm yang sangat berisik.


Dilangkahkan kaki ke kamar mandi, namun terdengar lagi panggilan masuk namun sengaja diabaikannya. Usai membersihkan diri, dilihatnya ponsel yang entah berapa kali berbunyi karena kontak yang sama kembali menghubunginya.


"Siapa ya?" gumamnya.


"Telepon balik nggak ya?" dicobanya menghubungi kembali, namun segera diurungkan dan langsung dimatikan.


"Biarlah.. sebodo," ucapnya melanjutkan mempersiapkan diri untuk ke sekolah…


Di luar kamar, terdengar suara heboh. Apa yang terjadi? pikirnya. Via sudah dalam mode Marni, membuka pintu dan tampak warga kostannya sibuk melihat Kak Rini diboyong oleh beberapa pasukan dari kepolisian.


"Aada aapa?" tanyanya pada salah seorang tetangga kamarnya.


"Itu, polisi membawa Kak Rini…" jelas perempuan yang berusia di atasnya.


"Aaapa? Kekenapa?" wajah Marni menegang, mendapat kabar tersebut.


"Gue juga kurang tahu…"


Lalu Marni menuju arah kerumunan orang satu kos, tampak Kak Rini tengah diborgol dibawa masuk ke mobil tahanan oleh polisi…


Marni tidak bisa bergerak di tengah keramaian ini, dia hanya bisa melihat Rini berjalan tertunduk tanpa perlawanan.


"Marni…kenapa dengan Kak Rini?" tiba-tiba Irin sudah berada di sampingnya.


"Gue juga nggak tahu…" bisiknya.


"Gue izin sekolah ya?" pintanya lagi kepada Irin.


"Jangan…jangan…!! Nanti saja diurus usai sekolah. Kewajiban Lo saat ini ya belajar..!!" cegah Irin dengan tegas. Marni hanya bisa mengangguk sedih melihat Rini dibawa sebagai tersangka dari pihak kepolisian.


Di sekolah, Marni duduk di bangku taman, sibuk merenungkan apakah kejadian sebenarnya yang menimpa Rini ini?


Saat di sekolah, Via dalam mode Marni ini tidak menyadari bahwa orang-orang satu sekolahan tengah membicarakan aksinya tadi malam yang kembali viral.


Aksinya yang diunggah dilaman Utube, menyita banyak perhatian masyarakat, sementara sang lakon tidak menyadari hal tersebut sama sekali. Dia tengah sibuk memikirkan langkah selanjutnya untuk membebaskan Rini.


Dino mendekati, Marni yang masih dalam mode bengong. Memperhatikan wajah Marni lekat-lekat. Tetapi Marni masih belum kembali ke tubuhnya yang tengah duduk di bumi.


"Gu… Gagu…" panggil Dino sambil melambaikan tangannya tepat di depan wajah gadis kumal itu.


Marni masih belum on. Jimmy yang memperhatikan Dino yang tampak ingin mengganggu Marni, mendekati mereka.


"Wooiiyy, Lo mau ngapain lagi?" bentaknya.


"Itu lihat Kak.. yang tadi kabur dari kejaran polisi itu, kayaknya dia deh.. lihat? Kacamata nya aja sama.. pakai baju oge kepolisian…"


"Hah, ngaco… Masa Marni yang beginian beraksi sekeren cewek yang tadi malam…" ujar Jimmy mencoba memberi alasan.


Marni tiba-tiba sadar dari lamunannya mendengar suara Jimmy.


"Hah, heh, kekenanapa Kak?" tanyanya tidak memahami situasi yang tengah terjadi.

__ADS_1


"Oh iya Kak.. nggak mungkin dia, si gagu ini.." celetuk Dino menggaruk tengkuknya dan pergi. Marni kulitnya item, yang tadi malem kulitnya putih bersih, batinnya.


"Kekenanapa didia Kak?" tanya Marni masih bingung.


"Tadi ngelamunin apa Neng? Udah sampai mana?" canda Jimmy.


"Hehehe.. iiya.. tatadi lalagi pipikirkan sesesusuaatu, " lalu mata Marni menangkap sosok yang tengah diperban berjalan menyusuri koridor sekolah.


Waaahh..dia sudah sekolah? Marni tiba-tiba melonjak berdiri dengan refleks.


Jimmy ikut melihat sosok yang dilihat oleh Marni, "Siapa itu? Kamu kenal?" 


"Teteteman, " mata Marni tidak lepas dari arah tujuan sosok Joko, sosok samaran Deval yang akhirnya masuk di salah satu kelas jurusan sosial.


"Kak, aaaaku kekekesasana ya?" menunjuk ruang kelasnya.


"Tapi aku masih ingin ngobrol sama kamu lho?" cegat Jimmy. Ternyata teman-teman Jimmy tengah melihat aksi Jimmy melaksanakan serangan cintanya. Gilang dan Kevin terpingkal melihat Jimmy yang dicueki oleh Marni. Memilih sosok cowok cupu yang tangannya sedang diperban.


"Mamau ngongobrol aaapa Kak?" kembali memperhatikan sosok Jimmy yang menurutnya cukup aneh.


"Engga, hanya ingin kenal sama kamu aja.."


Dia kenapa sih? batin Marni sedikit curiga. "Kan kikikita susudah kekekenal?"


"Hmm..ingin ngobrol santai aja sama kamu kok," jelas Jimmy lagi.


Marni duduk kembali, matanya liar melihat sosok-sosok yang tengah memperhatikan mereka. Beberapa anak cewek menatap tajam ke arah mereka.


"Wah…wah.. aaku tatatakut nananti papacar Kakak sasalah paham.." Marni masih melirik cewek-cewek yang terus memperhatikan mereka.


Alis mata Jimmy naik, "Aku tidak punya pacar kok!" jawabnya dengan cepat, agar Marni tidak salah paham.


"Uuudah dudulu ngongobrolnya Kak. Tiba titiba Aaku iiingat sesesuatu."


"Tunggu!! tap.." sebelum Jimmy menyelesaikan ucapannya, Marni telah hilang dari posisinya tadi.


"Kok cepet bener diw hilang nya?" kali ini Jimmy yang garuk pelipisnya.


Di kelas Irin juga termasuk orang yang penasaran atas kejadian tadi, Marni duduk berdua dengan Jimmy yang tampak sangat akrab kalau dilihat dari jauh.


"Tadi tu akrab bener sama anaknya Buana Putra," bisik Irin pada Marni.


"Akrab..?" dia heran, padahal dia sama sekali tidak merasa akrab dengan cowok itu.


"Iya..tadi itu kalian dilihati oleh semua anggota fans clubnya lho…" jelas Irin masih dalam bisikkan.


"Enggak aah.. tadi gue juga nggak sadar sejak kapan dia sudah ada aja di deket gue.." 


"Yaaa.. itu mah kata Lo, kalau kata yang lain gimana? Gue aja lihat kalian kayak orang pacaran…" Irin terkekeh.


"Sssttt… Enak aja pacaran sama anaknya Buana Putra itu.. ogah gue..!!"


"Jangan gitu aah.. nanti kualat lhooo. Malah nanti jungkir balik ngejar-ngejar dia gimana.." Irin menjadi semakin semangat menggoda Marni.


"Ogah aahh…"


"Oohh iya… Tadi gue malah lihat Joko… Udah masuk sekolah aja tuh anak."

__ADS_1


"Joko? Siapa Joko?"


"Itu.. penyamarannya Deval.."


Irin seakan teringat sesuatu, baru saja tadi malam membicarakan masalah Deval dan Via bersama kembarannya.


"Jadi dia sekolah di sini juga?" Marni mengangguk.


"Jadi Lo seneng lihat dia udah sekolah?" Marni mengangguk lagi.


"Jadi Lo suka sama dia?" Marni mengangguk, lalu menggeleng cepat..


"Beneran….?" Goda Irin.


"Huh.. kenapa kalian sama saja?" Marni mendengus membuang muka.


"Sama dengan siapa?"


"Devan…"


"Emang kenapa dia?"


"Godain gue terus sama Deval…"


"Wkwkwkw, abis muka Lo itu lucu banget kalau bicarakan tentang dia.."


"Udah ah.. jangan ikutan kayak dia juga .."


"Kenapa nggak ditemui langsung? Tanya keadaan dia…" saran Irin.


"Hmmm.. masalahnya dia tidak tahu dengan penyamaran gue.."


"Terus Aa gimana kabarnya?"


"Yaaa… Katanya hari ini ada bimbingan skripsi. Gue lagi minta bantuan dia untuk mengecek barang bukti…"


"Bukan itu maksud gue. Gue mah gak paham masalah kasus-kasus yang kalian selidiki itu…"


"Lalu masalah apa?"


"Gue kasihan sama Aa.. cintanya bertepuk sebelah tangan…" celetuk Irin prihatin.


"Waahh.. beneran? Siapa sih cewek bodoh itu?" timpal Marni.


Ni anak pura-pura bego atau beneran bego nggak sih? batin Irin gemas.


"Membayangkan apa yang Lo bilang tadi, gue tiba-tiba juga ikut prihatin pada Aa.. dia orangnya baik bener kan. Udah kayak kak Yudhit kedua bagi gue. Pasti dia sedih banget kalau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan…" wajah Marni tulus prihatin akan yang menimpa Stevan.


"Jadi Lo nganggep dia hanya seperti kak Yudhit aja?" sahut Irin tidak percaya.


"Kak Yudhit itu kakak gue yang istimewa, luar biasa. Terus gue juga menganggap Aa seistimewa itu. Selalu bisa diandalkan saat gue membutuhkan bantuannya."


Jadi hanya begitu anggapannya atas segala perhatian Aa Stevan. Jika Aa tahu, dia pasti akan sangat sedih dan patah hati, batin Irin yang sudah duluan merasakan kesedihan Stevan.


Bel masuk berbunyi, dan pelajaran diikuti dengan tenang oleh siswa sepuluh sain A.


...*Bersambung*...

__ADS_1


...JANGAN LUPA TINGGALKAN TANDA JEJAK, LIKE, LOVE, VOTE & KOMENTARNYA YAAA 🥰🥰😍😍🤩🤩😘😘...


...terima kasih...


__ADS_2