
Via sudah berdiri dengan gagah di depan rumah Mak Iroh. Rumah yang terlihat sepi di sore yang berangsur menuju malam, membuat suasana rumah itu semakin suram. Wajar saja semua orang menyangka dia itu adalah dukun santet, rumah yang suram, tidak ada cahaya meski satu lampu dengan daya terkecil pun. Dari dalam rumah sudah menyala cahaya remang lampu minyak yang tidak begitu terang.
Di tangannya telah menggenggam sebuah borgol ajaib, untuk sekedar memberitahu kan masyarakat bahw dia adalah biang kerok yang membuat masyarakat sekitar sini mengalami gatal luar biasa.
Ternyata, tidak lama setelah Via sampai, Deval pun muncul. Deval mendekatinya, dan dia hanya menyunggingkan senyuman tipis miring seperti biasanya. Memilih masuk ke tempat Mak Iroh itu, ternyata orangnya tidak ada di tempat. Deval mengikuti Via dengan beragam bahasa tubuh yang tak dapat diartikan.
Via kembali mengecek barang-barang yang ada di dalam gubuk itu, bermacam bahan rempah yang beraroma kuat mengisi suasana sore menjelang malam di ruangan itu. Via memilih enggan untuk berbicara, karena sikap Deval yang seperti memusuhinya sejak tadi.
Entah itu hanya sekedar perasaannya, atau ada hal lain yang tengah dipikirkan oleh Deval. Semakin dekat dengannya, makin banyak misteri Deval yang terkuak karena sikapnya yang aneh.
Tidak ada orang, dan suasana rumah yang begitu suram, membuat Via memilih keluar dari tempat itu secepatnya. Meninggalkan Deval yang sedari tadi bingung untuk memulai pembicaraan.
Mencoba menerka, kemana perginya Mak Iroh. Apakah dia tahu juga, bahwa sore ini mereka akan ke rumahnya? Apa benar dia memunyai ilmu cenayang, atau semua hal yang terjadi hanya sebuah kebetulan?
Tetapi kenapa tadi dia bisa mengetahui keberadaan gue ya? Padahal tadi itu dalam mode tidak terlihat lho? Jemari Via tengah mengelus dagu karena memikirkan segala yang mungkin terjadi.
"Via!" akhirnya Deval memecah keheningan di antara mereka berdua. Via melirik sebentar dan kembali sibuk dengan asumsi yang masih menari-nari dalam pikirannya.
__ADS_1
"Via denger gue gak sih?" kali ini orang yang ditanya hanya melengus dan membelakanginya, merasa terganggu di tengah pikirannya yang hampir sampai di puncak.
"Via Lo kenapa dari tadi cuekin gue?" kali ini Via menatap dengan tajam. Merasa apa yang dituduhkan pada dirinya itu tidak benar.
"Bukannya Lo yang dari tadi bersikap gak jelas sama gue. Awalnya baik-baik aja, malah tiba-tiba jadi nggak jelas. Lo tu aneh tau nggak?" Amarah yang tadi sempat dilupakannya, kembali muncul gara-gara disulut oleh Deval.
Tiba-tiba dia kehilangan gairah persaingan, menyerahkan catatan, hasil Labor, dan obat-obatan yang bisa meredakan gatal dan ruam untuk korban kepada Deval.
"Nah, ambil! Ini kasus Lo! Lo aja yang beresin. Baca baik-baik catatannya, pandai-pandai aja lah menjelaskannya, dan jangan lupa bagikan obatnya!" Lalu dia pergi meninggalkan tanda tanya yang besar di kepala Deval.
Padahal seharusnya gue minta penjelasan atas kelakuan nya tadi, apa yang dipikirkannya? Kenapa dia tiba-tiba banyak diam dan mengesalkan?
Hah, Akhirnya semua pekerjaan sedari tadi hingga jungkir balik, ujung-ujungnya diserahkan ke Deval. Dia hanya bisa menghela nafas, mengganti dandanan kembali menjadi Marni, setelah itu langsung kembali ke kostan.
Di tempat mafia berkumpul, saat ini mereka ada sepuluh orang. Masing-masing memegang dua laptop, terus mencoba menembus pertahanan sistem dan menyerang BOS dalam jaringan. Dan akhirnya virus yang dibuatkan Stevan, melilit server mereka…
"Aaarrrgghhhttt…" rata-rata mereka menggaruk kepala. Virus yang dibuat Stevan cukup ganas untuk melumpuhkan mereka untuk beberapa saat.
__ADS_1
...klik gambar...
Stevan dengan senyuman puas, akhirnya bisa bernafas lega untuk sementara. Setelah hacking to hackers yang terus mengganggu.
...klik gambar...
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...
__ADS_1
hari Senin, bagi vote untuk cerita ini yaaa..