DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
89. Makin dekat


__ADS_3

Pagi ini Via bangun seperti biasa, dan seperti biasa juga dia sudah bersiap untuk menuju sekolah. Via sudah dalam tampilan Marni, dalam keadaan rapi menurutnya, meskipun di mata orang lain hanya tampak seperti gadis kumal yang terlantar.


Via yang dalam mode yang kita sebut saja dengan Marni. Dia membuka pintu kamarnya, ternyata di luar kamar telah tampak gadis ayu yang selalu menemaninya. Seperti biasa juga Irin menyambut Marni dengan kernyitan di kening seakan lupa dia adalah orang yang selalu ditempelinya kemana-mana.


"Tadi malam Lo abis pacaran sama Deval ya?" Marni langsung melongok ke wajah Irin, dan menyipitkan matanya.


Perasaan gue pulangnya udah tengah malam, dari mana dia tahu bahwa gue habis sama Deval?


"Siapa yang cerita?" bisiknya, sambil berjalan menuju bagian depan rumah kost mereka. Sudah tampak siswa-siswi yang berjalan menuju ke sekolah. Ada juga beberapa pegawai dengan pakaian rapi yang mungkin hendak ke kantor, sebagai pengendara angkutan umum bis trans.


"Gue lihat Lo dadah-dadahan sama dia tengah malam. Ckckck, kalau orang tua Lo tau kalian pada pacaran sampai tengah malam gitu, pasti langsung disuruh nikah sekalian," sungutnya. Irin menengok ke arah belakang, memastikan apakah orang yang membuatnya kesal itu tiba-tiba muncul kayak biasa dari belakang.


"Tumben dia belum datang?" Irin kembali heran.


"Lo ngomongin siapa sih dari tadi? Marah-marah mulu kayak orang sedang cemburu tau nggak?" matanya menangkap sosok culun, tengah berada di sebuah rumah kostan, tepat di depan sekolah.


Irin ikut melirik ke arah mata Marni memandang. Dia sempat terkejut, orang yang disangka akan muncul dari belakang, ternyata telah standby tepat di rumah depan gerbang sekolah.


"Kenapa dia ada di sana?" tanya nya pada cewek jelek dengan mata yang telah berbinar memandang cowok culun itu.


Lalu muncul sosok yang mirip dengan cowok culun itu, "Ada dua makhluk culun," Irin terkekeh melihat pemandangan menakjubkan itu.


"Lo ngomen mulu aah dari tadi. Pusing gue denger ocehan gaje Lo ini," senyumannya semakin mengembang, melihat cowok culun mendekati mereka.


"Hai," sapanya ringan. Lalu cowok culun satu lagi juga mendekat. Orang-orang yang baru saja sampai di gerbang terheran-heran, mengapa ada perkumpulan orang jelek di sini? Lalu memandang prihatin kepada Irin yang sendirian nyasar sebagai makhluk paling cling di antara mereka.

__ADS_1


"Kenapa kalian berdua dari sana?" ucap Marni pelan sambil memastikan jarak mereka dengan siswa lain cukup jauh, sehingga tidak ada yang memerhatikan mereka.


"Aku ngantar ini ni," menunjuk salah satu diantara mereka yang hanya diam sejak mereka datang.


"Tadi tengah malam tiba-tiba muncul dari luar, malah mendesak minta tinggal di rumah kostan Deket sekolah," terangnya.


Marni menatap orang yang dibicarakan, yang ternyata sedari tadi netranya tidak luput melepaskan pandangannya pada gadis jelek di sebelah Irin.


Saat mata keduanya bertemu, Deval dalam mode culun itu melemparkan senyuman terbaiknya kepada Via yang berada dalam mode jelek.


Irin menangkap aksi kasmaran di antara mereka, dia merasa jengah melihat ⁴hubungan mereka malah semakin dekat dibandingkan beberapa waktu lalu.


Apalagi cowok ini malah memilih tinggal di tempat yang semakin dekat dengan mereka. Pasti akan semakin banyak waktu yang mereka habiskan berdua. Membayangkan hal demikian, membuat perasaan Irin menjadi semakin kesal. Takut jika ditinggalkan oleh sosok Marni yang asli atau yang kita kenal dengan nama Via.


"Ekhem, Hem Hem," Irin sengaja berdehem dengan keras, untuk memecahkan suasana beraroma merah jambu di antara mereka. Marni gelagapan ditatap sorot tajam oleh kedua mata Irin.


Kembali dia menyeberang, mengambil motor yang terparkir di halaman rumah kostan tadi. Menyalakan mesin motor yang ukurannya tak sebanding dengan tubuhnya itu, membuat Irin terkekeh sendiri melihat Devan.


Dengan penuh semangat, dia melambaikan tangan pada Devan. Berbeda dengan dua makhluk yang berada di dekatnya, yang hanya dalam aksi lirik-lirikan dengan senyum tak jelas sedari tadi.


Tanpa mereka sadari, ada siswa bermotor sengaja berhenti di dekat mereka. Membuka kaca yang menutupi seluruh bagian wajahnya, "Selamat pagi Marni," sapa cowok itu membuat aksi saling tatap antara Marni dan Joko terhenti.


Marni melirik orang yang baru saja menyapanya dengan sangat percaya diri. "Kak-kak," Marni membalas sapaan itu dengan singkat.


Beberapa saat berhenti dua motor di dekat cowok yang menyapanya dengan sangat lantang barusan.

__ADS_1


"Ada acara apa pada ngumpul di sini?" tanyanya seolah membuang rasa malu, padahal tadi hatinya tengah sakit melihat aksi antara Marni dan si culun senyum-senyum tidak jelas.


"Ka-kami ba-baru sa-sampai Kak," ucap Marni sambil melihat kedua kawan Jimmy yang juga tengah senyum-senyum tidak jelas.


"Ya udah, kalau gitu kami masuk duluan ya?" Jimmy pamit dan kembali melaju diikuti oleh kedua temannya yang setia.


Sesaat setelah memarkirkan motornya, Jimmy membuka helmnya dengan kasar, lalu meletakkannya begitu saja di atas motor. Menyugar rambutnya dengan kasar, lalu pergi meninggalkan kedua kawan yang terus mengekorinya.


Gilang dan Kevin tergopoh-gopoh mengikuti langkah cepat Jimmy, berusaha menyamakan langkah mereka hingga Gilang tepat berada di sampingnya.


"Jadi Lo udah memulai aksi cinta yang berikutnya ya?" tanyanya usil terus menggoda Jimmy yang sebenarnya tengah terbakar.


"Diam lah! Gue lagi gak minat membahasnya," dia terus berjalan menuju ruang kelas mereka.


Sementara itu, Joko yang sadar tengah ditantang oleh Jimmy, memikirkan cara agar pujaan hatinya ini bisa benar-benar utuh dimilikinya. Karena saat ini hubungan mereka masih tidak pasti. Bisa saja suatu saat senior yang tadi, berhasil merebut hati Via melebihi dari apa yang dia pikirkan.


Namun, dia tidak bisa memaksa gadis di depan matanya ini, yang tengah memperhatikan salah satu dari tiga cowok yang bermotor tadi, hanya fokus memandang dirinya saja. Apalagi hatinya masih begitu rapuh, dan dirinya masih begitu lemah untuk dijadikan sebagai tempat bersandar bagi gadis jelek yang aslinya sangat cantik ini.


"Ayo kita masuk, ngapain di sini!" kembali cowok culun itu menjadi makhluk dingin yang ketus.


Marni, kembali ikut kesal kembali diperlukan dengan tidak jelas. Marni mengerutkan kening, dan menyipitkan matanya yang udah sipit itu. Irin melihat aksi seperti ini malah seperti bersorak senang. Entahlah, ini teman macam apa namanya...


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...

__ADS_1


...terima kasih...


__ADS_2