
"Terus sekarang jadi makin sakit?" tanya yang diseberang dengan nada cemas. Via merasa senang saat Deval menjadi cemas seperti ini, merasakan perhatian yang luar biasa.
"Yaa gak apa kok.. nanti dikasi krim yang diresepkan dokter aja, siapa tahu makin membaik."
"Atau gue antar ke tukang pijet?"
"Gak usah, gue baik-baik aja kok. Oh iya bagaimana dengan urusan yang tadi Lo bilang? Udah beres?"
"Hmmm, belum Vi. Hmmm, Lo pernah nggak menyelidiki kasus berbau mistis?"
"Maksudnya?"
"Serangan gaib semacam santet?"
Sejenak Via tampak berpikir, "Kalau nggak salah dulu pernah sekali waktu masih SMP. Kenapa Val?"
"Gue dan Devan sedang menangani kasus yang diduga dilakukan oleh seorang dukun."
"Pasti absurd banget ya?" Via terkekeh mengingatkan pada pengalaman nya menangani kasus sejenis.
"Iya, bisa dibilang begitu. Gue bingung mencari barang buktinya bagaimana."
"Apa perlu gue temenin menyelidikinya besok?"
"Bukannya lagi kurang sehat?"
"Gue baik-baik saja. Ini sudah biasa buat gue."
"Hmmm, Kalau Lo tidak keberatan, gue sebenarnya.. hmm..."
"Berarti besok gue ikut ya," Dengan cepat Via menyela, karena cowok itu terlalu banyak berpikir.
"Baik lah."
__ADS_1
Ternyata sang ayah tengah memperhatikan gelagat anaknya itu. Tak lama, telepon telah ditutup, dan Via kembali duduk di samping ayahnya. Mengulang membuka tablet yang tadi diperlihatkan oleh ayahnya. Ayahnya mengambil benda tersebut, dan Via menoleh pada sang ayah.
"Kamu mau menyelidik kembali?"
"Kalau Tosan tidak keberatan…"
"Mau dicabut surat bebas tugasnya?"
Via mengangguk, bagi dia antara bertugas dengan tidak bertugas itu sama saja. Dia tetap tak bisa tidur dengan tenang di rumah.
"Baik lah, sejak malam ini surat keterangan bebas tugas kamu dicabut. Kamu boleh bertugas kembali. Tosan harap kamu bekerja dengan sebaik dan sehati-hati mungkin! Kerahasiaan harus tetap terjaga!"
"Siap Bosssss!" Via pura-pura berlagak posisi hormat. Lalu ayah dan anak itu tertawa.
Via melirik ke seluruh penjuru kamar ini, dia baru sadar ada sosok yang sedari tadi tidak tampak, yaitu kakaknya.
"Dia sedang menemui pacarnya," ayahnya menjawab sebelum dia bertanya.
"Kakak sudah punya pacar?" wajah Via langsung berubah sumringah.
"Kamu ini detektif kok banyak omong. Biasanya detektif itu hemat kata, dan kalem. Ini kok bar-bar banget?" ayahnya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Lho? Aku kan hasil perpaduan Tosan yang arogan dengan Mami yang ceriwis. Wajar donk hasilnya begini. Jadi dobel kan sifat yang aku punya?" celetuk Via merasa tidak terima mendengar ucapan dari ayahnya itu. Dia memasang wajah manyun.
"Kakak kamu punya kekasih, awalnya sih dikenalin oleh temannya juga. Ternyata mereka cocok, dan sekarang dalam hubungan pacaran. Sebentar lagi mereka akan bertunangan."
"Waaah, aku jadi tidak sabar bertemu dengan calon kakak ipar?"
Lalu dibuka kontak kakaknya, langsung menekan tanda telepon. Nada sambung menunggu panggilan diterima. Namun hingga sambungan terakhir telepon tidak diangkat.
Panggilan kembali diulang, hingga tiga kali telepon namun Yudhit tidak mengangkatnya. Akhirnya Via kesal sendiri karena penasaran, lalu dilempar gawaynya yang mahal itu ke atas sofa.
"Sengaja nggak angkat," celetuknya.
__ADS_1
"Kamu itu terlalu kepo ya?" sindir sang Ibu yang sedari tadi memperhatikan tingkah anak gadisnya yang lincah itu, mengulas senyum dan menggelengkan kepalanya sembari membaca majalah yang tersedia.
Lalu Via membuka buku pelajaran untuk esok hari, serta mengecek tugas yang telah dibuatkan oleh Stevan. Tiba-tiba dia teringat akan Stevan. Bagaimana keadaannya sekarang? Kembali diambilnya ponsel lalu mencari kontak Stevan, lalu dikirimnya pesan chat pada Stevan.
[Aa' apa kabar?
Bagaimana keadaannya setelah kejadian tersiram air panas?]
Ternyata pesan yang dikirim langsung bercentang biru. Sekian detik kemudian panggilan dari Stevan sudah tampak dari layar ponselnya, tanpa pikir panjang Via langsung menggeser tanda hijau ke atas.
"Hallo Aa…"
"Iya Hallo Via… Gue baik-baik aja kok. Tak usah khawatir! Keadaan lo sendiri bagaimana? Gue kepikiran terua lhoh?"
"Gue, hmmm.. baik-baik saja."
"Beneran?" Stevan merasa ada yang disembunyikan oleh gadia nakal itu.
"Iya, syukur lah Aa baik-baik saja. Terus bagimana sidangnya? Udah tahu kapan jadwalnya?"
"Udah, gue sidang dua hari lagi, jadi sementara belum bisa diganggu ya. Soalnya gue mau mempersiapan materi sidang agar nanti dapat nilai bagus."
"Iya, gue doakan Aa dapat nilai yang paling bagus dari yang lain deeh. Gue juga nggak akan ganggu dulu."
"Udah dulu ya? Gue harus memantapkan materi, biar nggak kelabakan nantinya. Lo harus selalu berhati-hati ya, jangan bikin gue khawatir terus."
"Oke, lebay ah..., selamat berjuang ya!"
Telepon ditutup kembali, dan syukurlah kalau Aa' baik-baik saja. Kembali dia membuka materi untuk hari esok.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
__ADS_1
...terima kasih...