
Via dan Stevan sudah tepat berada di depan rumah kos yang dipilih Deval. Menanyakan keberadaan Deval kepada penghuni kos yang lain, namun tidak ada yang mengenalnya.
Mungkin karena penghuni baru kali ya?
Lalu Via mencoba menghubungi Deval, namun ponsel Deval sedang tidak aktif. Perasaannya menjadi semakin cemas dan kalut. Via berjalan mondar-mandir sudah seperti menyetrika baju yang tidak mau rapi.
"Vi, ada apa?" akhirnya Stevan bersuara. Melihat raut wajah Via yang tampak sangat kacau.
"Yakin Aa mau tinggal di sini? Coba tinggal di kosan ini aja untuk malam ini?"
"Kamu kenapa?" Menarik Via untuk duduk di sebuah bangku panjang yang ada di teras depan rumah kos itu.
"Entah kenapa Aa, perasaan gue tiba-tiba jadi cemas kayak gini. Gue merasa khawatir sama Deval. Dia tiba-tiba tidak bisa dihubungi." Kembali Via berdiri dan berjalan bolak balik sembari berpikir.
"Barusan dia menelepon kan?"
"Itu lah A, padahal baru setengah jam lalu lho? Kenapa tiba-tiba panggilannya sudah tidak aktif aja. Masa tiba-tiba ponselnya lowbath?"
"Itu bisa aja sih, mungkin juga ada value lain membuat ponselnya tidak aktif." Stevan mengeluarkan tabletnya tadi.
"Sebenarnya ini sudah tidak bisa kita gunakan. Karena mafia itu sudah hapal dengan server ini. Namun, untuk sementara kita bisa mengecek CCTV kosan ini," Stevan melihat ada beberapa CCTV di beberapa tempat di kos ini.
Via segera duduk di samping Stevan. Stevan tengah mencoba mengambil data CCTV kosan ini. Memang tampak beberapa saat lalu Deval berjalan keluar dari rumah ini.
Stevan mengecek posisi CCTV lain, dan beruntung, bangunan di sekitar sana rata-rata telah memasang CCTV. Sehingga Stevan dengan mudah mengakses posisi perjalanan Deval. Dalam video itu, tampak Deval berhenti sejenak dan tengah bersin. Lalu melanjutkan perjalanan lagi.
"Sepertinya dia menuju kosan gue," celetuk Via dengan yakin.
__ADS_1
"Langsung pindah CCTV kosan gue aja A'!"
Sesuai arahan Via, Stevan langsung beralih ke kosan Via. Memang benar ada Deval berdiri tampak kebingungan dan kembali bersin.
"Sepertinya dia sedang flu. Pantesan suaranya tadi rada sengau," kembali melanjutkan menonton. Deval tampak sedang menelepon. Usai menelepon dia beranjak lagi, dan ada sebuah mobil berhenti.
Wajah Via dan Stevan menegang mengetahui orang-orang yang keluar dari mobil itu adalah orang-orang yang mengejar mereka tadi. Deval tampak langsung berlari, dan dikejar oleh para mafia itu.
"Geser Aa… cari lagi... mana lanjutannya…" Via menepuk-nepuk tangan Stevan karena panik dan cemas.
Stevan kembali beralih CCTV dan melihat Deval berlari secepat yang dia mampu, terus dikejar oleh gerombolan orang-orang berjubah hitam itu. Akhirnya Deval tertangkap dan dibawa masuk ke dalam mobil.
"Devaaaaallll…!!!" pekik Via dengan lirih.
"Aa… gimana donk Aa...? mereka menangkap Deval. Kenapa mereka bisa cepat sekali menemukan Deval?" tak terkendali, air mata Via jatuh. Mengingat mereka adalah orang-orang yang keji.
"Bagaimana cara kita bisa menemukannya Aa? Seharusnya gue tidak usah dekat dengan dia Aa…" air mata Via mengalir semakin deras.
"Bagaimana gue bisa tenang coba Aa? Deval Aa… bagaimana cara kita untuk menyelamatkannya?"
"Tunggu! Aku akan lacak perjalanan kendaraan mereka…"
"Lama!!!" ucap Via gusar.
Tak lama setelah itu kembali alert masuk ke tablet Stevan, ada virus yang kembali masuk ke jaringan miliknya. Seperti yang tadi, virus itu mengantarkan sebuah video yang sangat memilukan.
Dalam video itu, tampak seorang laki-laki muda dalam keadaan terikat di sebuah kursi. Tertunduk tak sadarkan diri tampak kepala bagian atas berdarah. Melihat hal itu, membuat hati Via menjadi semakin pilu. Stevan segera melacak IP address video itu untuk mengetahui lokasi mereka berada.
__ADS_1
Video yang tampak semakin mendekati Deval yang tengah pingsan, lalu sebuah tangan menarik rambut remaja laki-laki muda yang tidak sadarkan diri itu, sehingga terpampang dengan nyata wajah Deval yang penuh penuh dengan darah.
Darah segar tengah keluar dari hidung dan mulutnya. Tak kuasa melihat keadaan Deval, ketegangan di puncak maksimal, tiba-tiba tubuh Via menjadi layu tak sadarkan diri. Stevan meletakkan tabletnya di atas bangku dan segera merangkul Via. "Via, Via…" Stevan menepuk-nepuk pipi gadis itu mencoba untuk menyadarkannya.
"Little girl… Kamu mengenal anak ini?" terdengar suara dari dalam video itu.
"Beruntung sekali saat ini dia sedang demam. Jika dia baik-baik saja, mungkin akan mendapatkan hal yang lebih dari ini."
"Wahai pria hacker! Kenapa kau biarkan gadis kecilku pingsan seperti itu?"
"Cepat bangunkan!"
"Keparat! Apa yang kau lakukan pada anak itu?"
"Dia? Anak ingusan ini? Dia hanya umpan. Agar gadis kecilku itu datang dengan sendirinya untuk menyerahkan diri."
"Kau jangan bermimpi! Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi!"
"Ini sungguh menarik… hahaha…, gadis kecilku memiliki banyak penggemar. Itu petanda dia bukan gadis biasa bukan?"
"Via…, tadi kau memanggil namanya Via. Beautifull name…" tampak laki-laki mafia itu meminum bir kaleng. Sambil memutari Deval yang dalam keadaan tidak berdaya.
...*bersambung*...
__ADS_1
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...