DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Selamat datang kembali


__ADS_3

Via sejenak memejamkan matanya. "Aku bersyukur mengenalmu di dunia. Aku bahagia pernah ada di dalam hidupmu. Aku tak akan pernah menyesal, pernah mencintaimu---"


"Sayang ... Sayang?"


Sayup-sayup terdengar suara seseorang. Tangannya sedang digenggam erat oleh orang yang terus membangunkannya.


"Sayang ... bangunlah ... apa kamu tidak lelah untuk terus tidur seperti itu?"


Via mencoba membuka matanya, yang terasa sangat berat. Secara perlahan dia melihat betapa terangnya suasana di sana. Via kembali menutup matanya karena tidak kuat dengan cahaya yang terlalu tiba-tiba.


"Istriku, bangunlah."


Kembali terdengar suara lembut seorang pria. Perlahan dia mencoba lagi untuk kembuka mata. Genggaman tersebut secara perlahan dibalas oleh Via dengan lemah. Ternyata dia tidak bisa, semua terasa sangat kaku. Via membuka mata dengan ritme yang cukup lambat.


Setelah netra itu terbuka dengan sempurna, terlihat wajah sendu tepat berada di depan matanya. Sebuah tangan terayun kiri ke kanan memastikan Via bisa melihat dengan benar.


"Sayang?"


Via menatap langsung tepat pada dua netra itu. "Ka-kak?" bisiknya.


Jimmy melepas genggaman tangan Via. Mengelungkan tangan pada leher Via dan masuk ke dalam pelukannya. Tubuh Jimmy terasa bergetar, memeluk Via dengan sangat erat.


Via merasa sangat heran, melihat seisi ruangan. Dia ingin membalas pelukan Jimmy, tetapi tubuhnya terasa kaku. Dia tidak mampu membalas pelukan Jimmy.


"Ke-kenapa kamu menangis?" bisik Via. Dia seakan tidak memiliki tenaga untuk berbicara lebih lantang lagi.


Jimmy beralih mencium kedua pipi lalu beralih mencium pucuk kepala Via. "Akhirnya kamu kembali juga. Kenapa kamu tidur begitu lama, Sayang? Aku hampir putus asa, saat kamu tidak bangun juga."


Akhirnya, Via bisa melihat dengan jelas. Begitu banyak sosok yang berada ruang tersebut melihat ke arah mereka dengan terharu. Di pojok ruangan, secara samar dia melihat bayangan pria muda berpakaian serba putih. Bayangan itu tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya.


"Deval?" bisiknya.


"Apa? Deval?" tanya Jimmy kembali.

__ADS_1


Sosok bayangan Deval terus melambaikan tangan, menembus dinding dan hilang. Via mengerjapkan mata, merasa ini hanya mimpi belaka.


Deval? Kamu ada di sini?


"Aku kenapa Kak? Kenapa kalian sedih begitu?" bisiknya.


Jimmy hanya menggeleng, masih memeluk Via dalam tangis tanpa suara. Via melihat para anak-anak besar Jimmy memandang mereka penuh haru. Bahkan, Jason benar-benar menangis mengusap ingus di lengan seragam petugas kebersihannya.


"Kenapa semua menangis?" Via kembali berbisik, mengulang pertanyaannya.


Jimmy melepas pelukan tersebut dan menyugar rambut Via. "Selamat datang kembali, Sayang. Kami sudah sangat lama menantimu bangun dari tidur panjangmu." Jimmy menggenggam tangan Via. Dia menyadari keanehan pada istrinya ini.


"Apa kamu bisa menggerakan tubuhmu?"


Via mencoba mengangkat tangannya, tetapi tak kuasa. Lalu dia mencoba untuk menggeleng, ternyata tidak bisa juga. "Kenapa tubuhku terasa sangat kaku?" bisiknya.


Jimmy berusaha untuk tersenyum dan mengangguk. "Tidak apa, ini hanya karena kamu tidur terlalu lama saja. Nanti kamu terapi beberapa waktu, pasti akan kemba seperti biasa."


"Sudah lebih dua tahun. Di saat kamu melahirkan anak kita."


Mata Via langsung menatap kiri kanan. Dia teringat masa terakhir kali sebelum melakukan operasi. Ketika dia antara sadar dan tak sadar akibat anestesi yang diberikan terhadapnya. Jimmy tak hentinya menggenggam tangan Via kala itu.


"Anakku? Mana anakku?" lirih dalam bisiknya.


"Kamu tenang saja, mereka baik-baik saja dan sangat sehat. Mereka sudah dibawa pulang, karena sekarang sudah malam."


Via tak sabar mencoba bangkit, tetapi seluruh tubuhnya terasa sangat kaku. "Anakku, aku ingin memeluk mereka," tangisnya.


"Kamu tenang ya, esok pagi mereka akan aku jemput dan kamu akan sangat terkejut melihat mereka. Saat ini mereka sudah besar dan sangat lincah."


Via mengangguk. Jimmy meminta anggota White House yang lain untuk beristirahat. Jimmy memijat jemari Via agar tidak merasakan kaku lagi. Mereka menghabiskan malam itu dengan obrolan tentang segala hal yang telah terjadi selama dia koma.


Seperti janjinya, saat subuh datang, Jimmy pamit sejenak untuk menjemput dua buah hatinya. Jimmy meminta Dino yang standby untuk menyetir karena dia merasa mengantuk semalaman ngobrol dengan istrinya.

__ADS_1


Sementara Via kembali mengingat sosok Deval yang tadi samar tampak oleh matanya. Semua kejadian masa lalu kembali teringat olehnya, hingga Deval pergi meninggalkan dia di dunia ini.


Deval ... kamu terlihat sangat tampan. Wajahmu bersih dan bercahaya. Semoga kamu tenang di alam sana.


Tak terasa air matanya kembali menetes. Entah kenapa dia merasakan kembali sakitnya kehilangan Deval. Dia merasakan sakitnya perpisahan, meski tak seperti dulu lagi.


Via menunggu Jimmy membawa anak-anaknya dalam sepi. Dia masih gigih berusaha menggerakan jemari dan tangannya. Perlahan, jarinya sudah bisa digerakan sesuai dengan perintah otak.


Pintu dibuka, tampak Jimmy menggandeng dua bocah di kedua tangannya. Dua batita itu berdiri menatap ke arah Via dengan malu-malu.



"Siapa nama mereka Kak?" Via tersenyum menatap kedua kembar tersebut.


Tampak yang laki-laki berjalan ke arahnya. Menarik tangan Via. "Mama ... Mama ... Mama ... ayo main agi? Uta tanen cekali cama Mama. Mama ga ulang-ulang?"


Jimmy dan Via merasa sangat heran atas apa yang diucapkan Hyuta. Kenapa Hyuta langsung mengenal mamanya?


Jimmy langsung mengangkat Hyuta, duduk di samping Via. Saat Hyuna akan diangkat ke tempat Via, Hyuna memeluk Jimmy dan menggelengkan kepalanya. Hyuna terlihat takut dan asing pada Via.


"Nama kamu siapa, Sayang?"


Bocah laki-laki itu memasang wajah cemberut melipat kedua tangannya. "Mama ja-at. Mama tidak ulang-ulang."


Via menatap Jimmy dengan raut bertanya apa yang dimaksud oleh anak laki-lakinya ini. Dia kembali teringat kata baby sitter yang mengasuh Hyuta, bahwa Hyuta terlihat asik main sendiri. Jimmy pun teringat bahwa dulu selalu merasakan kehadiran Via di sisinya.


"Apa kamu pernah menemui kami dalam tidurmu?" tanya Jimmy.


Via menggeleng, dan sudah bisa sedikit menggerakan kepalanya. Dia sama sekali tidak teringat kejadian apa pun. Bahkan, anak lelakinya ini menatapnya dengan sangat akrab. Hyuta menarik tangan Via untuk bangun. Via merasa seperti ada sengatan listrik dari tangan anaknya itu.


"Mama, ayo main agi!"


Via merasa tangannya sedikit ringan. Mencoba menggerakan jemari dan tangannya yang terasa lebih leluasa. "Kak ... tanganku udah tidak kaku lagi."

__ADS_1


__ADS_2