
Mereka menyusuri koridor, menuju ruang penangan cepat. Saat memasuki ruangan itu, di antara pria yang ada di sekelilingnya, tampak sebuah wajah yang benar-benar dirindukannya. Wajah itu juga menatapnya, hal itu membuatnya tiba-tiba menjadi gugup.Tenang lah, batinnya.
"Selamat malam, apakah gerangan yang terjadi?" tanyanya dengan memasang wajah seramah mungkin.
"Sepertinya, kaki saya terkilir Dok," jawab wanita yang terkesan tomboy itu.
"Permisi," lalu sang dokter mencoba memeriksa pergelangan kakinya.
"Auukkhh," ringisnya.
"Kalau boleh tau, apa yang terjadi?" tanya sang dokter pura-pura tidak tahu.
"Saya jatuh dari tangga Dok," ucap sang wanita menerima tindakan medis yang diberikan oleh dokter tampan itu.
Dokter itu hanya mengulas senyuman tipis karena dia sendiri melihat kejadian itu tepat di depan matanya. Tidak hanya itu, ini terjadi karena ulah anak buahnya.
Aaah, dokter apaan? Seharusnya tadi langsung dibantu. Sekarang pergelangan kakinya malah membengkak.
Lalu kembali didapatinya, bahwa pasien itu masih melihatnya dengan tatapan yang panjang. "Apa ada yang salah dengan saya?"
Sang pasien sedikit gelagapan, "Oh, tidak. Hanya saja Dokter seperti orang yang saya kenal."
"Oh ya? Siapa dia? Kekasih Anda?"
"Bukan, tapi senior dulu di masa sekolah. Bahkan, suara dan aura kalian sangat mirip."
"Pppffftt.., eekhemmm...," sang dokter menahan tawa mendengar penjelasan sang pasien. "Kalau boleh tau, siapa dia?"
"Oooh, bukan siapa-siapa. Hanya saja Anda mengingatkan saya padanya."
Sang dokter dibantu perawat, tengah memasang perban pada pergelangan kaki yang sudah mulai membengkak itu. Di dalam hatinya, terus menyesali kejadian yang menimpa wanita yang dicarinya selama ini.
"Nah, selesai!" ucapnya saat menyelesaikan kewajibannya sebagai tenaga medis.
"Kalau boleh tau, nama Nona siapa?" tanyanya berusaha senatural mungkin. Sementara perawat di sebelahnya terdengar sedikit terkekeh.
"Nama saya Via, Dok."
"Apakah Nona Via mau menggunakan alat bantu tongkat? Untuk sementara kaki Nona belum bisa digunakan dengan baik hingga rasa nyerinya membaik."
"Waduh Dok, saya masih memiliki banyak pekerjaan mendesak. Kalau begitu saya mau cari tukang pijit saja. Sepertinya saya datang ke tempat yang kurang tepat," sindirnya memanyunkan bibir sambil melirik dengan raut tidak puas.
"Waaah, itu saya kembalikan lagi kepada pasien. Kewajiban sudah saya lakukan dengan sebaik mungkin. Jika pasien memilih alternatif lain, ya itu kembali kepada Anda."
"Baik lah, kalau begitu saya cabut."
"Tunggu!" sang dokter memberi kode-kode yang tidak dipahami oleh orang awam seperti Via. Lalu perawat beranjak, tak lama dia kembali membawa sebuah kursi roda.
"Mungkin ini akan lebih memudahkan Anda."
__ADS_1
Via menggeleng, "Tidak usah Dok, terima kasih. Saya dibantu mereka saja."
Dokter melihat beberapa pria muda yang sangat bersedia membantu Via ini. Sang dokter merasa tidak rela, "Bagaimana jika saya saja yang mengantarkan kamu pulang?"
Kening Via berkerut, Siapa sih? Dokter aneh.
"Anda pandai melawak ya Dok?" lalu turun dipapah oleh anggotanya.
Sementara perawat yang mendengar itu sibuk menelan tawanya kembali ke dalam. Dia tahu persis bagaimana perasaan atasannya ini. Dia juga tahu siapa pasien yang tengah mereka rawat ini.
"Oh, kalau tidak mau ya tidak apa-apa," melihat nanar Via dipapah oleh pria itu. Lalu mengikuti langkah mereka di belakang.
Via menoleh ke belakang, "Ada lagi Dok? Kenapa mengikuti kami?"
"Ohh, tidak apa. Ini hanya pelayanan rumah sakit kami. Mengantarkan hingga kendaraan pasien."
"Oh, begitu. Ya udah, terima kasih Dok." Dokter memperhatikan Via hingga pergi dari area rumah sakit ini.
"Waduuuh Pa... ternyata begitu ya? Kalau melihat seseorang yang dicinta?" celetuk perawat terkekeh.
Tak lama Kevin dan Gilang yang sedari tadi mengintip sambil sembunyi datang dengan terkekeh.
"Gimana Bro? Hahaha, akhirnya dia muncul juga."
"Ya seneng, akhirnya melihat dia secara langsung."
"Si Papa pura-pura gak kenal kok," sela perawat bernama Rika.
"Lhoh? Kok nggak ngaku bahwa lo itu Jimmy?!" Kevin menoyor kepala dokter itu.
"Kalau gue mengaku Jimmy, dia pasti kabur lagi."
"Toh, dia kabur juga kok," celetuk Rika. "Gara-gara Papa jelous, melihat calon Mama digandeng pria lain," lalu tertawa ngakak.
"Aaaduh Jim, Ayo lah! Maju! Udah delapan tahun mencarinya cuma buat dilihat-lihat dari jauh gitu aja?" ujar Gilang gemas.
"Seharusnya lo ngaku! Ini gue Jimmy, masa gitu aja susah?" Kevin mulai dengan julitannya.
"Penonton memang lebih jago dari pada aktornya," sungut Jimmy.
Lalu dari arah luar tampak adik kelasnya dulu, yang diajak bergabung ke White House datang mendekat.
"Papa tenang saja! Gue udah pasang alat pelacak. Jadi kita bisa lihat ke mana tujuan mereka," pemuda itu menyerahkan tablet dan di layar tampak arah pergerakan kendaraan yang tadi mereka gunakan.
"Bagus No!" setengah berlari Jimmy masuk kembali ke ruangannya, melepas jas kebesaran sebagai seorang dokter lalu menggantungnya. Mengenakan hodie, dan bergegas menuju kendaraannya.
"Daahh, gue cabut dulu!"
"Dah Papa! Semangat ya mengejar calon Mama!" sorak Rika.
__ADS_1
"Terus Uncle satu dan Uncle dua kapan rencana ngedate-nya?"
"Anak Papa ini kepo amat?" canda Gilang.
"Iya nih," sela Kevin.
***
Via menuju sebuah gedung menjulang cukup tinggi di kota itu. Sekarang dia memilih apartemen sebagai tempat untuk berteduh. Padahal kemarin meminta untuk tinggal di kosan lagi, tetapi orang tuanya melarang. Jika tinggal di kosan, Mami dan Tosan tidak bisa ikut menginap. Maka di sini lah tempat paling tepat baginya saat ini.
Menatap pemandangan di balkon, menikmati semilir angin yang langsung menyapa, tak jauh tampak kerlipan bintang menghiasi langit di atas lautan.
Sepi, jika berada di rumah kost, minimal terdengar hiruk pikuk penghuni kost yang bolak balik di luar kamar. Ini benar-benar sepi, membuatku kembali mengingatmu.
ngiiing... ngiiing... ngiiing...
Suara nyamuk membuyarkan lamunan Via. Berusaha menepuk nyamuk itu.
plaaak... plaaak... plaaaak...
Ternyata tidak berhasil, "Nyamuk! Makasih!" lalu memilih masuk kembali dan menutup pintu balkon.
Padahal tadi hampir saja berhasil menangkap mereka. Tetapi wajah-wajah mereka sungguh tidak asing lagi bagiku, lalu Via mencoba mengingat-ingat wajah-wajah gembong mafia judi online tadi.
Apa mereka dulu satu sekolah denganku ya? Masa kebetulan begini sih? Ini benar-benar sangat aneh.
Kembali mencoba membobol beberapa data alumni SMA Bunda seangkatannya. Sementara Irin kembali ke Bandung usai dia dijemput oleh ibunya. Jadi diperhatikan satu per satu wajah mereka. Kira-kira yang mana yang mirip dengan orang yang hampir kena tendangan seribu bayangannya tadi.
Namun, alumni satu angkatan mereka sangat banyak. Sehingga mulutnya tak henti menguap mengecek data masing-masing alumni.
teng nong...
teng nong...
teng nong...
Ada yang datang, waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. "Siapa sih yang bertamu jam segini? Lagian belum ada yang tahu aku tinggal di sini," sungutnya.
Berjalan ke arah pintu, mengecek layar siapa yang yang ada di balik pintu ini. Tetapi, tidak ada yang terlihat. "Mungkin orang iseng kali ya?" lalu berbalik lagi, dan kembali terdengar suara bel.
Tanpa mengecek benda pipih di dinding, langsung membuka kunci dengan kesal. Terdengar suara kunci elektronik terbuka...
Pintu terdorong dari arah sebaliknya. Via yang belum siap dikejutkan serangan sebuah pelukan secara tiba-tiba...
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...
__ADS_1