DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
110. Makhluk tanpa hati


__ADS_3

Bab ini mengandung bawang, buat yang baperan tidak disarankan membacanya, karena akan membuat kepikiran, dan mewekmdi pojok rumah.


Tak lama tim penyelamat berlari membawa tandu, memasangkan oksigen pada Deval. Lalu mengangkat tandu dibawa masuk ke ambulans. Kevin dan Gilang ikut dipapah masuk ke ambulans. Via ikut masuk ke mobil itu menggenggam tangan Deval yang lemah. Deval masih bisa melirik Via dengan sendu.


Sementara anggota-anggota Mafia yang terkapar, dibawa oleh anggota polisi militer untuk ditindak lanjuti. Sedangkan Stevan mencoba menyusul Jimmy, mengejar sang biang kerok, Oliver.


"Vi-a…"


"Sssttt…!!! Lo istirahat aja Val. Gue akan menemani lo. Abis ini ayo kita pacaran saja. Gue udah gak peduli lagi dengan apa pun. Tapi lo harus kuat ya. Bertahan lah buat gue. Biar nanti gue yang bakalan jagain lo..."


Mendengar pernyataan gadis aneh di hadapan mereka, Gilang dan Kevin hanya saling berpandangan. 


Gak terbalik tu? batin salah satu dari mereka.


"Mendekatlah…" suara Deval sangat lirih nyaris tak terdengar.


Via mengambil posisi lebih dekat dengan Deval. Lalu ia mendekatkan telinganya ke arah Deval.


"A-aku sudah tidak kuat lagi."


Mendengar itu Via langsung menggenggam tangan Deval, "Jangan berkata begitu Val, lo harus kuat Val. Jangan tinggalin gue…" air matanya kembali pecah dengan deras.


"Via, aku cinta sama kamu. Semoga kita punya satu kenangan indah yang bisa kamu kenang…-"


"Val.. Val.. lo ngomong apa sih? Jangan mengatakan hal itu! Jangan bilang lo akan meninggalkan gue sendiri. Gue juga cinta sama lo Val…" genggaman tangannya semakin erat.


"Aku yakin akan ada orang yang tepat untuk menjagamu, meskipun itu bukan aku. Asal dia membuatmu bahagia, aku akan ikut bahagia di sana."

__ADS_1


"Val… jangan ngomong lagi! Gue hanya cinta sama lo Val. Gue gak mau yang lain…"


Deval mengangkat tangannya yang sudah sangat lemah. Menutup mulut Via dengan telunjuknya dan menggeleng pelan. "Ikhlaskan aku pergi. Sampaikan pada Mama, Papa, dan Devan bahwa aku sangat menyayangi mereka."


"Gak mau! Lo harus bertahan! Agar lo bisa menyampaikan sendiri kepada mereka…!"


Deval menggeleng pelan, Deval membelai pipi Via, lalu tubuhnya terhentak. Tangannya layu jatuh dengan sendirinya tanpa kuasa, langsung disambut oleh Via.


"Vaaaal… Devaaaal… Devaaall…" Via merangkul Deval. "Vaal, bangun Val…" isaknya, tubuhnya bergetar hebat mendapati kenyataan, laki-laki yang dicintainya harus pergi untuk selamanya.


***


Jimmy melajukan kendaraannya sekencangnya mengejar mobil yang dikendarai oleh Oliver. Akhirnya Jimmy mampu mendahului mafia kejam itu.


"OLIVER… STOP…!!!"


Oliver hanya tersenyum licik, lalu menggeser laju mobilnya ke arah Jimmy, bertujuan hendak menyenggol laki-laki muda bermotor itu. Jimmy yang sudah membaca rencana Oliver, segera melajukan kembali motornya dengan kecepatan penuh.


Mengerem motor lalu ngepot  memutarkan arah motornya. Menantang Oliver melajukan motornya lurus dengan sedikit menurunkan kecepatannya, lalu melompat berguling ke pinggir jalan yang beralaskan rerumputan. Motor itu terus melaju tanpa pengemudi, ke arah Oliver.


Melihat motor tanpa pengendara, membuat Oliver panik membanting setir masuk parit. Jimmy yang tadi terguling, segera bangkit mengejar Oliver yang terperosok masuk parit. Membuka pintu mobil, dan menarik Oliver.


"Hei, bule! Kau harus mempertanggungjawabkan apa yang telah kau perbuat. Berani macam-macam kau!" melayangkan bogem ke mentahnya ke rahang bule itu.


BUGH...


BUGH...

__ADS_1


Oliver yang tadinya tengah pusing usai masuk parit, menjadi semakin pusing dan marah kepada Jimmy. Di mulut yang baru saja kehilangan dua gigi, kali ini kembali mengeluarkan darah segar.


"Anak Buana Putra, berani sekali kau?!"


BUGH...


BUGH..


Melayangkan tinju dan mendorong Jimmy hingga terjengkang, mengeluarkan sesuatu beebentuk botol dari dalam pakaiannya.


"Seharusnya wanita muda itu yang mati. Ah, bocah itu menjadi pahlawan kesiangan. Begitu juga kau! Setidaknya kali ini sainganmu berkurang!" Memutar tutup sebuah botol yang berisi cairan keras.


"Kau tau! Aku dikenal oleh Bruno dengan sebutan makhluk tanpa hati? Kali ini mungkin kau akan mengerti alasan kenapa dia memberi nama seperti itu padaku." Oliver menyiramkan cairan itu ke wajah Jimmy.


"AAAAARRRGGHHTTTTT..." erang Jimmy mendapati cairan keras itu mendarat di kulit dan wajahnya.


"Huh, sayang sekali tampang rupawanmu itu hanya tinggal sejarah mulai hari ini." lalu pergi meninggalkan Jimmy yang tengah kesakitan menahan perih luar biasa karena ulahnya.


Jimmy meringkuk menggaruk wajahnya yang perih mulai melepuh akibat siraman cairan amoniak. Tak lama Stevan turun dari mobil mengejar Jimmy dengan wajah melepuh...


...*bersambung*...


Oh iya, Numpang Promo Ramaikan Lapak Temen yaa.. Bisa menambah wawasan lhoo... Bisa mengenal istilah-istilah perkapalan. Jangan lupa mampir yaaa...



...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...

__ADS_1


...terima kasih...


__ADS_2