DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
75. Menguping


__ADS_3

Sebelum menuju TKP, Marni mengajak Joko singgah terlebih dahulu ke kostannya. Berganti pakaian lalu mengeluarkan benda pemberian Big Boss, sepeda super kece dari yang pernah ada.


Joko yang menunggu di luar terheran saat Marni membawa benda roda dua itu dengan senyum aneh menghiasi bibirnya. Apalagi benda tersebut tidak ada boncengan nya.


"Buat apa?"


"Yaaa, buat tunggangan kita untuk ke sana," jelasnya tanpa memberitahu terlebih dahulu kehebatan sebenarnya dari sepeda pemberian orang nomor satu di negeri ini.


"Pakai motor gue aja lah," elak Deval, yang pusing duluan memikirkan bagaimana cara membawa mereka berdua dengan sepeda yang tampilannya tampak cukup aneh itu.


"Oohh iya, gue lupa, kemarin sorry banget yaaa? Motor Lo pasti rusak parah? Nanti gue ganti biaya perbaikannya, tenang aja!"


Joko mengernyitkan dahinya. Memang sih penghasilannya dalam menangani kasus-kasus selama ini tidak sebanyak yang didapat oleh Via, tapi sekedar memperbaiki motor tersebut tentu dia masih bisa membayarnya sendiri, tanpa perlu merepotkan orang tuanya. 


"Nggak usah, tinggalkan aja sepeda itu. Lo tunggu sebentar ya, gue jemput motor dulu." Hendak melangkah pergi menuju rumahnya, dicegat oleh Marni.


"Pakai ini aja! Ini akan lebih berguna nantinya!" Sembari mengganti kacamata Marni dengan kacamata ajaibnya, namun sengaja tanpa menggunakan headphone. Takut mendapatkan reaksi sumbang dari Joko kembali.


Joko terkekeh melihat penampilan Via saat ini, lalu menyimpan kacamatanya, menyugar rambutnya yang tadi terlalu rapi dengan jari-jari nya, membuka seragam dan memasukkan ke dalam tas. Joko yang sudah kembali menjadi Deval, selalu menggunakan oblong di dalam seragam putihnya. Lalu kemudian duduk di jok sepeda yang menurutnya aneh begitu.


"Nah, Lo duduk di sini!" Menunjuk bagian di depannya. Tampak banyak sekali bagian tombol di sepanjang bagian pengendali sepeda, dan membuatnya mulai terheran.


Via menggeleng, dan memilih berdiri di pijakan belakang. "Nah, ayo jalan!" sambil berpegangan pada pundak Deval.

__ADS_1


Deval mulai mengayuh sepeda itu menuju arah lokasi penyelidikan. Namun makin lama dia merasa makin lelah, selain pengayuhnya lebih berat dibanding sepeda biasa, ditambah juga karena dia belum makan siang. Akhirnya memilih berhenti di depan sebuah warung.


"Kita makan dulu yuk?" Via mengangguk, tanpa banyak komentar. Mengikuti Deval yang mendorong sepeda menuju tempat parkir.


Mereka memarkir sepeda itu, sementara Via terlebih dahulu menyimpan kacamata ajaibnya agar tidak tercecer lagi. Warung yang mereka singgahi ini terbilang sangat ramai dan cukup besar, terdapat bermacam jenis kalangan yang tengah makan di sana.



Via sempat melirik ada satu meja yang terdiri dari komplotan berwajah asing yang menggunakan pakaian serba hitam. Dia sengaja memilih duduk tidak terlalu jauh dari posisi orang-orang yang membuatnya tertarik itu.


Sementara Deval tengah memesankan makanan pada pegawai di warung itu, dan ikut duduk di meja yang telah dipilih oleh Via.


Deval memperhatikan apa yang dilakukan oleh Via, tengah asik mendengar obrolan orang-orang berwajah asing yang mengenakan pakaian serba hitam. Deval turut ikut mencoba mendengar tuturan orang-orang asing itu.


"Kita harus segera mencari informasi siapa anak perempuan dari Mr. Sato. Kalau belum juga mendapatkan informasi secepatnya, kepala kita bisa dipenggal oleh Bruno saat kita kembali ke Italy," ujar salah satu yang mungkin dihormati oleh kelompok tersebut.


Namun tidak tampak hal yang mencurigakan, hanya melihat gadis remaja dan pria remaja yang mungkin sepantaran entah mengobrol atau bercengkrama, mereka terlihat sangat serius.


Mungkin hanya perasaanku, batin bule tadi, lagian mereka berbicara menggunakan bahasa asing, mungkin tak kan ada yang paham, tambah nya lagi di dalam hati.


"Ayo, kita cabut saja!" ucapnya pada anggota yang lain. Lalu anggota yang terdiri dari empat orang itu menyudahi obrolan dan beranjak.


Via yang memahami bahasa mereka, mulai terheran. Mr. Sato? Mr. Sato yang mana yang mereka maksud?

__ADS_1


"Vi," panggil Deval mencoba membuyarkan lamunan Via, namun Via masih asik dengan pikirannya.


"Via!"


Akhirnya Via tersadar dan melirik Deval, dan tersenyum kikuk, kepergok menguping obrolan orang lain.


"Nggak baik, mendengarkan pembicaraan orang lain," celetuk Deval. "Jadi kepikiran sendiri kan?" tambah nya.


"Hanya saja tadi mereka tampak sangat aneh, makanya tertarik aja mendengar obrolan mereka.."


Tak lama makanan yang dipesan pun datang, mereka makan dengan lahap seperti orang yang tidak makan seharian. Maklum lah, usia remaja dalam masa pertumbuhan, apalagi mereka sudah melewatkan waktu makan siang yang sebenarnya. Ditambah lagi mereka baru saja kerja rodi di tengah teriknya matahari.


Dengan cepat Via menuju kasir, membayar makanan mereka mendahului Deval. Deval kembali mengernyitkan keningnya, membesarkan bola matanya, namun tidak dipedulikan oleh Via.


Mereka langsung menuju tempat mereka memarkirkan sepeda. Betapa terkejutnya Via tidak menemukan benda yang baru beberapa waktu dimilikinya itu.


Lalu mengedarkan pandangan ke seluruh bagian sekitarnya dan akhirnya tampak ada anak sekitar sepuluh tahun tengah kesusahan mengayuh sepeda miliknya.


"HEIII.. SEPEDA GUE…!!!"  teriaknya sembari mengejar anak yang ingin mencuri sepeda nya itu.


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...

__ADS_1


...terima kasih...


besok senin niii, jgn lupa tabungkan vote untuk aku yaaa 🤣🤣🤣


__ADS_2