
Jimmy menghentikan langkahnya. Menurunkan Via, memutar badannya menatap Via dengan dalam. "Coba kamu jujur, apa sekarang kamu sudah mencintaiku?"
Via memutar bola matanya, dia masih bingung dan ragu dengan apa yang dia rasakan. Jadi dia hanya mengedikkan bahu.
"Jika kamu belum yakin, aku akan menunggu hingga saat itu. Bagaimana kalau kamu bertemu dengan kedua orang tuaku dulu? Berkenalan dulu. Mereka pasti senang."
Ketemu Buana Putra? Sebagai calon menantu? Aduh, kesialan apa ini? Nanti judul novel berubah mode ikan terbang dong. Suamiku anak dari musuhku. Tapi, Jimmy ini begitu manis. Tapi dia anak Buana Putra. Tapi Jimmy itu baik. Tapi dia anak Buana Putra. Hadeeehh, ujung-ujungnya Buana Putra.
Jimmy melihat ekspresi Via yang belum berminat untuk diajak bertemu dengan orang tuanya. Kembali menyiapkan punggungnya, namun sang pacar memilih untuk berjalan dengan tongkatnya.
Jimmy berjalan mendahului Via, berjalan mundur, untuk terus berhadapan dengan gadis itu, "Apa kamu keberatan saat aku ajak bertemu orang tuaku?"
Via terus melangkah dengan pelan, "Keberatan sih kurang tepat. Hanya saja aku belum siap bertemu mereka secara langsung, apalagi hubungan aku dengan papamu--"
"Makanya aku ingin mempertemukan kalian. Aku ingin kalian bisa berbaikan." Jimmy menyela ucapan gadis itu.
"Iya, tapi aku belum siap!" tetap melangkah dengan mengangkat tongkat itu satu per satu bergantian.
"Baik lah, nanti saja bila kamu benar-benar sudah mencintaiku. Kamu pasti akan bersedia menemuinya."
"Jika aku ingin semuanya berakhir?"
"Aku tak akan mengakhirinya," mereka sudah sampai di depan rumah Via.
Tampak seorang wanita setengah baya tengah duduk di sebuah bangku yang tersedia. Via mendekat ke arah pintu, sang ibu paruh baya itu berdiri melihat ke arah Jimmy.
"Maaf, Ibu siapa? Mau mencari siapa ke sini?"
"Ehem, Ibu Suri ini adalah orang yang akan membantu semua pekerjaan rumahmu nanti. Jadi, mulai hari ini dia akan bekerja sebagai assisten rumah tangga di sini."
Via mengerutkan keningnya tanda tidak setuju. Dia tipikal yang tidak bisa terlalu nyaman dengan orang-orang baru. "Apa ini Kakak lakukan karena rumahku tadi terlihat berantakan?"
"Sepertinya kamu butuh bantuan orang lain, apalagi keadaan kamu lagi kurang baik." jelas Jimmy.
"Tapi kenapa Kakak tidak mengatakannya kepadaku dari tadi? Biar Kakak bisa tahu bagaimana pendapatku! Aku itu tidak suka ada orang yang tidak aku kenal keluar masuk di tempatku!" Via membuang mukanya.
Merasa Jimmy suka mengambil keputusan sendiri sesuka hati, tanpa merembukkan kepadanya terlebih dahulu. Dalam diam, Via menekan angka-angka pasword rumahnya, lalu masuk begitu saja tanpa mengatakan apa-apa.
__ADS_1
"Kalau begitu, Bibi tolong bantu saya saja untuk membersihkan rumah saya. Karena selalu diisi oleh anggota yang sangat ramai, jadi rumah saya sangat berantakan!"
"Baik Tuan!"
"Ssssttt! Jangan panggil demikian. Saya tidak enak mendengarnya!"
"Kalau begitu, Bibi panggil Mas Jimmy saja ya?" tanya wanita paruh baya itu.
"Ya, kalau itu sih boleh. Ayo kita ke lantai atas!"
"Baik Mas," lalu Bibi Suri mengikutinya hingga ke rumah Jimmy. Betapa terkejutnya dia menemukan rumah yang sangat berantakan.
"Bagaimana Bi? Sanggup untuk menjadi asisten untuk rumah ini?"
Bi Suri kesusahan menelan salivanya.
***
Setelah seminggu kemudian, kaki Via benar-benar dinyatakan sehat oleh Jimmy. Dia sudah tidak memerlukan tongkat, dan dia sudah bisa melaksanakan tugas kembali.
"Sayang, kamu jangan terlalu diforsir saat bekerja ya? Ingat! Sekarang sistem regenerasimu tidak sama lagi seperti saat kamu remaja." ucap Jimmy dalam telepon.
"Emang kenapa? Aku kan memang sayang sama kamu. Kamu gak suka aku memanggilmu seperti itu? Kalau gitu aku panggil Beib, atau Darling, atau mungkin Hun?"
"Terserah lah! Pusing aku mikirnya! Aku kasih tau ujung-ujungnya tetap maksa."
"Sepertinya aku lebih menyukai memanggil 'sayang,'' ucapnya dengan santai.
"Terserah!!!"
"Selama bekerja sayang!"
"Hmmm...!" panggilan ditutup, senyuman tersungging di bibirnya. Sudah terbiasa dengan keberadaan Jimmy yang tiap saat merecokinya.
Setelah itu dia segera mencari laptop. Membuka kasus-kasus yang sudah dilingkar merah tanda bahwasanya bahwa kasus itu adalah kasus yang sangat penting. Via menghubungi admind BOS.
Via: [Apa kita memiliki hacker handal selain Stevan?]
__ADS_1
BOS: [sementara Nona bisa menggunakan salah satu anggota terbaik yang kita punya, Rafael.]
Via: [Oh, ya udah. Gak apa deh jika itu Kak Rafael. Kapan dia dilepaskan dari markas untuk bekerja denganku?]
BOS: [Besok dia sudah bisa bekerja dengan Nona Via. Hari ini kami akan segera mengirim dia.]
Via: [Kak Rafael merupakan kepala Divisi. Apa baik-baik aja bila tidak ada di tempat?]
BOS: [Tidak masalah Non, di sini juga sudah memiliki anggota ahli terlatih yang lain.]
Via: [Baik lah, siapkan segala keperluan Kak Rafael untuk tinggal sementara di sini. Jangan lupa berikan fasilitas dan akomodasi yang sangat layak!]
BOS: [Baik Non, jangan khawatirkan itu. Akan segera diurus oleh bagian keuangan]
Via: [OK, terima kasih dan selamat bertugas kembali]
Via sudah tidak sabar menunggu Rafael sampai di sini. Dia memang sangat terkenal menjadi orang yang paling mumpuni, sehingga diampu sebagai Kepala Divisi Perlindungan Sistem.
Untuk sementara apa yang diharapkannya akan datang esok hari. Hari ini dia ingin kembali ke lapangan. Berjalan dengan penuh percaya diri, menggunaan sepatu kets, celana jins, jaket kulit hitam, dan sebuah topi bewarna senada dengan jaketnya, menambah rasa percaya diri dan semangat bekerja setelah lebih dari seminggu vakum dari pekerjaanya.
Via telah mencentang posisi yang sering ditongkrongi oleh para mafia itu. Mereka sering berpindah tempat dalam melakukan transaksi uang ajaib itu. Sudah banyak warga internasional mengirim permohonan meminta bantuan kepada FBI untuk segera mengusut pelaku dan otak di balik ini semua.
Tidak hanya itu, sebuah dendam yang ingin sekali dibalasnya kepada orang yang telah mebuat kakinya cidera. Masih teringat dan hapal dalam ingatannya. Wajah pelaku yang tampak seperti teman seangkatan saat masa sekolah menengah atas.
Awas kau yaaa, aku tidak akan membiarkanmu bebas setelah membuatku terpenjara di rumah selama lebih dari seminggu. Aku pastikan sekarang akan gencar mengejar kalian!
Lalu dia menggunakan GPS untuk melacak lokasi-lokasi yang tengah aktif. Via terheran, kenapa tidak ada yang aktif saat ini. Membuat pekerjaannya terhalang. Jika ada hacker saat ini juga, dia akan meminta Rafael untuk segera melacak posisi terakhir mereka beroperasi. Namun orang itu baru bisa berangkat esok hari juga.
Setelah itu, dari pada tidak ada pekerjaan lain Via kembali mengusut penculikan gadis usia di bawah umur, yang ternyata dikirim ke Rumania. Via mencoba menelusuri kembali jejak aktifitas salah satu korban di jejaring sosialnya.
Jika hanya untuk itu saja, Via bisa mengeceknya sendiri tanpa memerlukan bantuan hacker.
eng ... ing ... eeng ... kena prank ... sabar ... kalau mereka menikah, ceritanya langsung usai donk ... ini Oliver belum kalah lhoooooooo...
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
__ADS_1
...terima kasih...