DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
93. Bekal


__ADS_3

"Gue temenin!" ucap laki-laki dalam mode culun itu. Marni mengangguk meski masih sebel mengingat kelakuannya yang aneh lagi tadi pagi.


Marni teringat akan sesuatu yang terlupa, Irin, Irin tadi dalam keadaan lemes ditinggal gara-gara mengejar Romi.


Dia langsung menuju ke arah Irin yang dia tinggalkan tadi. Irin yang masih dalam keadaan loyo, terduduk di salah satu bangku yang ada di koridor, menatap kedatangan Marni, dengan wajah kesal.


"Rin, Lo baik-baik aja kan? Sorry banget ya, tadi tiba-tiba gue ninggalin Lo di tengah keadaan kacau, soalnya tadi gue melihat ada yang membawa alat pelacak gue."


Irin yang tadi memandangnya dengan wajah kesal, berubah menjadi wajah takut, karena menyesal kurang teliti dalam menyelamatkan benda-benda berharga yang rata-rata memiliki harga mahal milik gadis detektif ini.


"Terus udah diambil lagi alat pelacaknya?"


Marni hanya bisa menggeleng pasrah, karena tadi dicegat oleh Dino sebelum misinya selesai, misi untuk mengambil alat pelacak dari tangan Romi.


"Rin, Lo laper banget ya?"


"Iya, laper gila gue," celetuknya. "Tadi bener-bener dah Bu Ratih. Udah menghajar kita dengan tes dadakan, malah ditambah lagi sama materi pembahasan. Mumet banget, isi kepala berasa mau meledak…" celoteh Irin menghiasi obrolan mereka.


"Kalau Lo mau pulang duluan tidak apa Rin. Gue mau bayar hutang taruhan buat hari ini dulu sama Dino."


"Yaah, pulang sendirian lagi dong gue? Terus Lo makan siangnya gimana?" Irin memang paling tidak suka jalan kaki sendirian pulang sekolah. Ditambah cuaca yang sangat terik begini, membuatnya semakin malas untuk pulang sendirian.


"Gue tunggu Lo aja deh."


Marni melihat wajah Irin yang sudah kuyu dan loyo. Membuat Marni tidak tega untuk menyuruhnya menunggu. Karena mengajarkan Dino belum tentu bisa selesai dengan cepat. 


"Kita pesan makan siang online aja yah?" Lalu Irin mengangguk.


Tanpa mereka sadari ada sosok Joko yang tengah memperhatikan obrolan mereka berdua, menghampiri mereka berdua. "Tidak usah beli makanan online. Nanti makanan dari rumah gue akan datang kok. Makanannya akan gue bawa ke sini."


"Nggak usah! Jangan bikin gue bingung terus aah!" ucap Marni. Joko hanya diam, sebenarnya dia juga heran dengan sikapnya. Tapi memang begitu lah, dia tidak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan.


"Tunggu sebentar!" dia berlalu menuju rumah yang hari ini resmi menjadi tempatnya untuk tinggal sementara waktu.


Marni hanya mengangguk, Irin mencabikkan bibirnya merasa heran akan sikap cowok itu yang selalu saja berubah-ubah. Tapi lumayan lah, membayangkan mendapatkan makanan rumahan yang lezat lagi. 


Tak lama kemudian, Joko kembali muncul dengan pakaiannya yang lebih santai sembari membawa kantong yang ada beberapa kotak di dalamnya. 


__ADS_1


"Ayo makan dulu, katanya energinya sudah terkuras," dia mengeluarkan kotak-kotak tersebut dari dalam kantong. Lumayan banyak makanan yang dibawakannya. Membuat mata kedua gadis itu terbelalak senang. Joko menyerahkan sendok lalu mereka mulai makan tanpa malu-malu.


Tiba-tiba Dino ikut nimbrung duduk di antara mereka, mengambil sendok yang sedang menganggur. Tangan Dino ditepuk oleh Joko.


"Siapa yang ngajak Lo makan di sini?" ucapnya ketus.


Dino tidak memedulikan lirikan tajam dari Deval. Tetap menyendokkan makanan itu ke dalam mulutnya, seperti tengah ikut lomba makan dengan dua makhluk yang yang lain.


"Bagi-bagi sama orang kelaparan itu pahalanya gede lho.. Lezat banget makanannya, sumpah…" dengan cuek tetap ikut nimbrung dan dua cewek yang tengah makan itu menganggukkan kepalanya setuju, lupa akan permusuhan mereka untuk sesaat.


Akhirnya Joko membiarkan mereka makan dengan pasrah, dan pandangannya yang tak putus terus melihat gadis jelek yang makan dengan lahap itu. Masih teringat olehnya tadi Marni menonton Jimmy bermain basket. Tiba-tiba merasa panas sendiri dan mengalihkan pandangan ke lapangan basket yang kosong.


Sedang asyik makan, ponsel Irin bergetar. Panggilan video masuk, panggilan datang dari Stevan lagi. Ponsel ditaruh begitu saja di atas meja tempat mereka makan, lalu menggeser tanda hijau ke atas. Munculah panggilan video dari seorang bule, yang bisa dilihat oleh mereka semua.


"Aa'…." sapa Irin sambil menyuapkan makanan masuk ke mulut.


"Eh, lagi dimana? Orangnya mana?" tanya yang di dalam layar. 


Lalu Marni menundukkan mukanya langsung di depan layar ponsel milik Irin itu.



"Masih di sekolah?" tanyanya lagi. Marni mengangguk kepala lagi, sambil mengunyah makanan.


Irin mendorong Marni dan berganti wajah Irin yang nongol di layar ponsel Stevan.


"Gimana A? ada apa?" Irin mewakilkan Marni untuk bertanya. Irin mengerti, Marni lagi males ngomong gagu-gaguan di depan Stevan, nanti si bule edan malah ngeledek temannya itu, di hadapan Dino dan Joko.


"Engga, tadi ada yang ponselnya belum aktif, coba ngecek di nomor ini aja, ternyata memang masih di sekolah.." jelas Stevan. Si bule tiba-tiba merasa kangen sama gadis kecil itu. Tapi kenyataannya, orangnya belum bisa dihubungi. 


Joko menyimak sambil mengernyitkan keningnya lagi. Melihat aksi obrolan yang sangat akrab itu, yang belum bisa dia lakukan pada orang yang disukainya.


"Apaan sih heboh amat…" Dino ikut-ikutan menyela nongol di depan layar. Irin mendorong Dino dan muncul lagi di depan layar.


"Siapa lagi tuh? Rame bener?" tanya Stevan.


Dino mendorong Irin juga, kembali nongol di layar ponsel itu. Dino melihat ada wajah bule di dalam layar. "Waahh… ternyata bule yang pinter bahasa Indonesia," ngomong sambil muncrat mulutnya penuh berisi.


"Lagi pada makan ya?" tanya si bule dalam layar.

__ADS_1


"Iye ni Bang.. kita lagi makan rame-rame," jawab Dino yang mulutnya masih penuh.


"Waaah, hebat donk? Siapa tu Ma-marni, udah punya banyak temen," Stevan menyunggingkan senyuman yang turut merasa senang melihat perubahan dari gadis itu. Setahunya Via cukup sulit dalam bersosialisasi.


"Enggak ah . Temennya cuma Irin doang," celetuk Dino kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Oh iya... ini ada si culun juga temennya," Dino melirik orang yang dimaksud dengan alis sedang naik keduanya.


"Si culun siapa?"


Entah kenapa Stevan mau-mau saja bicara dengan makhluk ngeselin yang satu ini, Marni hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan menyantap makanan yang hampir habis itu.


Lalu netranya beralih pandang pada seseorang yang sedari tadi hanya diam memperhatikan mereka.


"Jo..." bisiknya sambil melambaikan tangan tepat di depan wajah cowok itu, yang tengah melotot pada Dino.


Joko kembali beralih melihat Marni, Marni memberi kode mengangkat sendok, mengajak Joko ikut makan. Laki-laki remaja manis itu hanya menyunggingkan senyuman kecutnya, dan sedikit mengangguk.


Marni menyendok makanan, dan menyodorkan tepat di depan wajah Joko. Cowo itu membuka mulutnya dan menerima makanan yang disuapkan  oleh gadis cantik berwajah jelek ini.


"Idih, Suap-suapan.." celetuk Dino yang masih menguasai ponsel Irin. Dia merasa asyik saja ngobrol sama si bule.


"Siapa yang suapan?" tanya yang di dalam layar.


"Tuh, Marni sama pangeran culunnya.


"Maksudnya?" Stevan semakin penasaran.


Dino mengangkat ponsel Irin, dan menyoroti Marni dan Joko tengah mengunyah makanan mereka. Marni sadar tengah dilihat oleh Stevan, lalu melambaikan tangannya pada bule itu.


"Hmm, enak bener makan nggak ngajak-ngajak?" celetuknya.


"Gue ikut ke sana sekarang ya?" ucapnya langsung bersiap. Membuat Joko tersedak.


Sementara Irin terkekeh mendengar bualan bule itu. Bisa jadi beneran dia langsung ke sini, bisa jadi hanya bercanda memanas-manasi Joko.


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...

__ADS_1


...terima kasih...


__ADS_2