DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
107. Dilecehkan


__ADS_3

Via dan Stevan tepat berdiri di sebuah rumah yang hampir roboh. "Yakin ini tempatnya Aa?" Melihat kondisi rumah itu yang terlihat sangat mengkhawatirkan.


"Berdasarkan IP adress nya memang ini. IP adress itu penentu lokasi yang cukup valid. Meski kita menggunakan perangkat yang sama, namun posisi berpindah, maka IP adress perangkatnya ikut berubah sesu…--"


"Tunggu…, gue gak ngerti masalah itu. Gue hanya memastikan kita tidak salah alamat aja kan?" sela gadis galak itu.


"Bener kok!"


"Ya udah, kita masuk!"


Via dan Stevan berjalan perlahan menuju pintu rumah tua yang tidak memiliki tetangga itu. Terdengar suara yang cukup membuktikan bahwa rumah itu memang berpenghuni. Penghuni manusia, maksudnya.


Sampai di depan pintu, beberapa pria bertubuh kekar telah muncul menyambut mereka.


"Wellcome laddies… Oliver telah menunggumu…!"


"Huh, ternyata gue ditunggu." Via berjalan diikuti oleh Stevan. Namun laki-laki itu dicegat oleh dua orang mafia.


"Cukup Nona ini saja yang masuk ke dalam! Tas ini cukup kamu saja yang membawanya!" menyerahkan tas yang berisi alat perang milik Via.


Stevan memasang wajah garang, tidak rela gadis kecil itu masuk sendirian, ke sarang buaya ganas. Via menganggukkan kepalanya, dan di dalam kepalanya menyusun kembali rencana yang tiba-tiba saja menjadi kacau. Namun, ada keyakinan di dalam dirinya, bahwa Stevan pasti akan selalu menjaganya.


Stevan pura-pura beranjak dari tempat itu. Dia memastikan tidak ada orang lagi yang berjaga di depan pintu. Memilih berjalan mengendap pelan-pelan menuju bagian belakang bangunan tersebut. Menyiapkan peralatan yang telah disiapkan di dalam tas. Sebilah pisau diselipkan di pinggang, dan menyiapkan sepucuk senapan. Dia sudah siap dengan aksi berikutnya.


Via menyusuri bagian demi bagian rumah yang penuh debu, tak terawat dan bahkan hampir roboh. Akhirnya matanya menangkap sosok lelaki yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sedikit berlari dan bertumpu pada lututnya menangkup wajah Deval yang sudah tidak berdaya. 


Dia sedang Demam.


Punggung tangan gadis itu memeriksa kening Deval yang terasa hangat dibanding suhu normal.


"Vaal, Deval…" Via menyugar rambut Deval yang jatuh ke keningnya yang berlumuran darah. "Bangun Val…! Gue udah ada di sini untuk lo Val…!"

__ADS_1


Plok…


Plok…


Plok…


"Pemandangan yang menakjubkan!"


Via melirik asal suara itu, dan menatap sang bule, Oliver dengan tajam. Tampak pria bule yang tengah duduk, semenjak kedatangannya tadi. Memilih bangkit dan berjalan ke arah dua remaja itu.


Oliver sedikit membungkuk dan menarik lengan Via yang masih memegang wajah Deval. Sehingha membuat pegangan itu terlepas. Via telah bangkit dari posisinya tadi.


"Apa yang kau inginkan Tuan?" membesarkan matanya dan menatap laki-laki berusia empapuluh tahun itu dengan garang.


Tampak rahang tegas lelaki itu mengembang, menyunggingkan sebuah senyuman licik.


"Aku jatuh cinta kepadamu Sayang! Aku hanya ingin memilikimu."


Oliver melepas genggamannya, lalu berjalan mengintari gadis itu. "Mungkin memang benar, kita belum pernah bertemu. Namun di saat aku melihatmu, seketika dengan mudahnya aku langsung jatuh cinta kepadamu, Via. Kalau tidak salah namamu Via kan?"


Mendengar penjelasan pria yang melebihi usia Dedi ini, membuat perasaan Via bergejolak. Lebih tepatnya merasa jijik, dengan pengakuan pria yang melebihi dua kali umurnya ini.


"Apa yang menyebabkan kamu jatuh cinta padaku?"


Oliver kembali berjalan mendekat ke arah Via, dijapitnya dagu Via dengan dua jarinya, dan tersenyum sinis. "Aku tidak punya alasan kenapa aku mencintaimu. Yang jelas, kau akan menjadi milikku!" Mengelus muka Via dengan jemarinya.


"Kenapa Anda percaya diri sekali Tuan?"  Menepis tangan lelaki yang dengan tidak sopan itu. Kelakuan pria itu membuatnya merasa mual.


"Lepaskan Deval!"


"Deval?" Tampak berpikir sejenak, lalu memutarkan wajahnya melihat ke arah laki-laki muda yang tengah terikat. "Jadi nama anak itu Deval?" Dia memainkan alisnya seolah baru mengerti.

__ADS_1


"Tentu akan kami lepaskan. Dia hanya tikus kecil yang tidak berguna. Tapi dengan satu syarat! Kau harus mau ikut denganku ke Italia!"


Via cepat memutar otaknya, tak sudi rasanya harus mengikuti laki-laki itu. Namun bagaimana dengan nasib Deval jika dia tidak menuruti kemauan laki-laki yang tidak ada akhlak itu.


"Aku rasa aku tidak bisa memercayaimu! Kau hanya makhluk egois yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginanmu."


Dari bagian belakang rumah, dalam kegelapan malam, Stevan mengenakan baju hitam jadi tidak begitu kelihatan ada seorang pria yang tengah memantau mereka. Stevan mengepalkan tangannya menahan amarah yang luar biasa, melihat Via dilecehkan seperti itu.


Oliver kembali mendekati Via, mengelus wajah Via dengan jari-jarinya yang panjang. Kembali Via menepis kelakuan laki-laki itu dengan napas memburu karena marah dan merasa terhina.


Oliver yang mendapat perlakuan tidak terduga oleh gadis kecil yang membuatnya jatuh jatuh cinta ini, semakin tertantang untuk membuatnya tunduk. Menjepit kembali dagu gadis itu, mencoba untuk menciumnya.


Bugh…


Sebuah tinju mendarat di ulu hati Oliver. "Saya tidak menyangka Anda begitu menjijikkan, Tuan?"


Oliver yang merasakan kerasnya pukulan gadis itu, semakin menyeringai mendapat perlawanan dari gadis yang membuatnya semakin terpesona. Dia kembali mendekati gadis itu, menarik lengan dan mendesak Via ke dinding. Tangannya mulai liar meraba tubuh Via.


Via yang tak rela dilecehkan seperti ini  melayangkan tendangannya ke pusaka kelelakian milik Oliver.


"Aarrgghhtt…" pekiknya menarik rambut Via.


Praaaaang…


Kaca jendela rumah itu pecah, dan sebuah bongkahan kayu mendarat di lantai. Tak lama seorang pria tinggi melompat dari arah luar menggelundung lalu mendorong lelaki yang tengah melecehkan gadis yang dicintainya.


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...


...terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2