DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Ex.P5


__ADS_3

Di bandara, seorang bule baru saja menginjakkan kakinya di bumi pertiwi.


"Nona Via ... Aku akan segera mendapatkanmu!!!"


Dia berjalan diikuti oleh beberapa orang di belakangnya. Seperti biasa, mengenakan pakaian hitam, menggunakan jas jubah yang tidak cocok digunakan di negara tropis beriklim panas ini.


"Tuan Bruno, apa yang akan kita lakukan pada mereka?" tanya Oliver yang berada di sampingnya.


"Apa pun itu, yang jelas kita akan melakukan sebuah pembalasan karena telah mempermalulan seorang Bruno."


"Baik Tuan. Saya juga memiliki banyak urusan yang belum selesai terhadap mereka. Apa lagi pada anak perempuan Sato itu. Anda sungguh hebat Tuan. Melenyapkan orang yang mengusik Anda dengan sangat mudah."


"Saya tak akan berhenti, semuanya harus saya lenyapkan dengan tangan ini sendiri. Apa yang akan kau lakukan pada anak Sato itu?"


"Saya ingin memberikan sesuatu yang pantas atas dua kali perlakuannya dalam membalas perasaanku." Senyuman licik tersungging di bibirnya.


"Oliver, kau itu tak memiliki perasaan. Jangan bilang kau mencintainya! Aku tau kau siapa!"


"Apa maksudmu Tuan?"


"Kau psikopat kejam! Jangan kau bilang memiliki perasaan terhadapnya, sehingga berani mengelabuiku selama ini!"


"Jujur, aku tertarik padanya."


"Jujur saja padaku! Apa yang kau harapkan darinya?" Oliver hanya menjawab dengan sebuah senyuman sinis.


"Jangan kau katakan bahwa kau ingin memiliki anak dengannya. Kau itu sudah memiliki banyak anak!" Bruno tersenyum kecut.

__ADS_1


"Kau hanya tidak paham, dia itu berbeda dengan wanita-wanita selama ini."


"Kau mau memperbanyak populasi manusia kejam sepertimu di dunia ini?"


Oliver membuang mukanya melihat ke sisi lain. Melihat pemandangan jalanan kota ini yang selalu macet.


Kita lihat saja nanti, apa yang akan terjadi setelah semua menjadi dewasa.


...****...


"Aku berangkat dulu Sayang, tapi kamu harus janji untuk mengawasi rumah sakit. Kalau tidak ada yang menjaga, mereka hanya akan bermain-main dan pekerjaan tidak akan selesai." Mencium pucuk kepala Via dan bersiap ke kantor barunya.


"Baik Kak ... Kakak juga berkerja dengan baik ya? Mungkin ini berbeda sekali dengan pekerjaanmu sebelumnya. Tapi aku yakin, Kamu pasti bisa meminpin dengan hebat di sana." Memeluk suaminya dengan manja.


"Jadi kapan rencananya kita ke Maldives?" bisik Jimmy di telinga istrinya itu.


Jimmy sangat tertarik menggunakan benda aneh itu. Selain bisa menghindari kemacetan, dia juga suka beratraksi menggunakan mainan Via ini.


"Kak, kamu gunaka mobil saja! Biar aku yang menggunakan itu. Aku sudah lama tidak menggunakannya."


"Jangan! Kamu akan jadi calon ibu buat anak kita. Aku tak ingin bila kamu mengayuh sepeda, membuat embrio yang aku tanam di rahimmu menjadi gugur."


"Harus ya secepat itu?"


"Yap, aku sudah tidak sabar menggendong Jimmy junior. Jika dia laki-laki pasti akan sangat kuat dan tampan mirip ibunya. Jika perempuan, dia pasti cantik dan lincah mirip ibunya."


"Dih, kenapa semuanya mirip aku? Kapan bisa mirip ayahnya?" Lalu Via berpikir sejenak. "Nanti kalau mirip ayahnya, malah orang-orang pada curiga ya? Ayahnya ini bukan ayahnya." Via terkekeh mengingat Jimmy mengubah wajah. Akan terjadi drama ikan terbang.

__ADS_1


"Bener juga. Nanti orang akan mengira istriku selingkuh dengan orang lain. Sehingga anak yang dimiliki tidak ada yang mirip dengan suaminya."


"Aduuuh, kasian sekali anakku." ucap Via pura-pura memasang wajah takut.


"Udah ya, berangkat dulu!" Melambaikan tangannya pada sang istri.


"Kakak ini aneh, udah rapi-rapi gitu malah mengayuh sepeda? Nanti rambutnya berantakan lho?"


"Tidak apa sayang. Kamu nanti hati-hati ngawasin anak-anak kita yang banyak itu yaaa?" Mulai memasang mode otomatis. Terdengar suara halus dari mesin sepeda ajaibnya.


"Iya. Hati-hati suamiku!"


Jimmy menurunkan lagi kakinya. "Coba ulangi!"


"Hati-hati Sayaaaang!" ucap Via melambaikan tangannya. "I love You ...."


"Nah, gitu dong." Jimmy turun lagi dari sepeda, berlari kecil ke arah Via. Mencium bibir istrinya. "Love you tooo ... so much!"


"Ayo, pergi sana! Malah telat, mendiang Tosan bisa marah lho? Tosan itu sangat tepat waktu." Mendorong Jimmy menjauh.


Jimmy kembali naik sepeda, langsung bergerak melesat. Via menyentuh bekas ciuman suaminya. "Ih, anak ya?" Terkekeh sendiri membayangkan perutnya akan diisi sosok makhluk hidup. Tak lama dia segera mengambil tas dan bersiap ke rumah sakit. Mereka bertukar peran.


...*bersambung*...


...*Jangan lupa*...


...LIKE, LOVE, GIFT, VOTE, & COMMENT...

__ADS_1


__ADS_2