
Usai menonton pertandingan basket Marni dan teman kelasnya, fokus Jimmy beralih ke kacamata yang dipungutnya kemarin. Padahal guru garang sedang menjelaskan materi di depan kelas.
Bagaimana caranya untuk mengembalikan kacamata ini? Rasanya sangat tidak mungkin langsung menyerahkannya kepada Marni. Sementara itu adalah mode penyamaran dia.
Berarti aku harus pura-pura tidak mengetahuinya. Tetapi kacamata ini terlihat sangat tidak biasa. Pasti sebuah benda berharga yang mungkin berguna saat dia bekerja. Atau ke temannya yang kemarin saja? Tapi bagaimana caranya ya? Jimmy sibuk dengan pikirannya sendiri.
Tak sadar Pak Zul yang garang telah berada di sebelahnya memandang Jimmy yang tengah berada di alam mana sambil memperhatikan kacamata. Tanpa ba-bi-bu, Pak Zul mengambil kacamata yang ada di tangan Jimmy itu. Seketika Jimmy terkesiap, berdiri hendak merebut kembali, dan terhenti saat sudah sadar yang mengambil benda itu adalah seorang guru garang yaitu Pak Zul.
"Bapak...." tersungging senyum salah tingkahnya.
"Ekhemmm..." Kevin berdehem. Melihat tindakan temannya yang tidak biasa ini.
"Ckckckck..." decak Gilang, untuk pertama kali si perfeksionis terciduk, batinnya.
Sementara kawan-kawannya yang lain sibuk menahan senyum dan tawa, bagi mereka ini adalah kali pertama melihat kejadian seperti menimpa sang perfeksionis kesayangan para guru di sekolahnya. Meski dulu ayahnya pernah terlibat kasus yang membuat heboh sekolah, namun pemberitaan itu segera menghilang karena Jimmy selalu memberi dan melakukan hal-hal baik.
Guru garang itu membolak-balik benda yang tampak aneh ini, "Ini kacamata apa?" tanya Pak Zul.
Jimmy tertunduk merasa malu, "Hmmm.. Maaf Pak..."
Sang guru meninggikan suaranya, "Saya bertanya ini kacamata apa? Bukan suruh kamu minta maaf!"
"Ini Pak, saya menemukan kacamata, saya sedang memikirkan cara untuk mengembalikannya kepada yang punya.."
Guru garang tersebut mengangguk, "Hmmm..." Lalu Pak Zul menaruh kacamata tersebut ke atas meja.
"Kalau begitu kamu simpan dulu! Jangan dipelototin terus kacamatanya! Seperti melihat cewek cakep aja, tak putus dilihati terus," tutur Pak Zul kembali berjalan ke depan.
Kawan-kawan sekelasnya kembali menahan tawa, tidak berani tertawa dengan keras, takut si garang mengeluarkan jurus bacok saat kedapatan tertawa.
"Baik Pak..." langsung Jimmy memasukkan benda itu ke dalam tas dan masih memikirkan cara untuk mengembalikannya.
***
Usai pelajaran olahraga, kelas sepuluh sain A, diberi waktu untuk mengganti kembali seragam, sebelum masuk pelajaran berikutnya.
Dino dkk menjadi olok-olokan teman sekelasnya. Mereka selalu saja gagal atau pun sial apabila hendak mengerjai Marni. Membuat Dino merasa marah sampai ke puncak ubun-ubun, tiap melihat wajah Marni.
"Tuh lihat dia.. namanya siapa?" tanya Irin..
Marni menengok ke arah yang dibicarakan, "Ooohh.. si blo-on..." bisik Marni.
Sontak Irin terkikik mendengar gelar yang diberi oleh Marni. "Liat mukanya tu.. Dah kayak kebo mendengus siap-siap menanduk elo..." ujar Irin.
"Iya... namanya juga kebo.. bego nya ngga ketulungan.. heran gue dia nggak kapok-kapok..." masih dalam mode berbisik.
Melihat dua gadis yang seperti beda alam ini, yang terus berbisik dan melirik-lirik dia, Dino menghampiri dengan kesal.
"Heeeh.. Lo berdua lagi bicarain gue ya?" dengusnya kesal.
"Heeeyy... No.. jangan kerjain dia lagi.. nanti Lo kualat lagi lhooo..." timpal yang lain.
"Heeh diam Lo Nyet... gue nggak ngomong sama elo..." teriaknya marah.
Marni dan Irin saling berpandangan, kembali melihat ke arah Dino yang benar-benar mode garang.
"Sekarang mari kita satu lawan satu. Kalau Lo menang, Lo berhak jadikan gue sebagai pacar Lo. Tapi kalau gue menang...." dia tersenyum licik bin percaya diri.. "Lo akan gue jadikan kacung selama satu bulan," ujarnya geram.
Marni menggeleng...
"Lha? kenapa gak mau? Lo takut kalah? Iya kan?"
Marni kembali menggeleng ..
"Apa-an sih Gagu..? Lo mau syarat yang lain?"
__ADS_1
Marni mengangguk..
"Gugugue gak sesesetutuju sasaratnya gak aaada yayaayang babagus."
"Iiih.. Gagu cepetan ngomongnya...!!!" potong Dino makin kesal.
"Lo syarat yang enak di jidat Lo aja, mana mau dia," sela Irin.
"Lalu mau apa?" desak lelaki yang tengah naik pitam ini.
"Kakaalau Lo memenang, gugue mau jajajadi kakacung Lo..."
Dino mengangguk...
"Tatatapi kakalau gue memenang Lo hahaharus didiarak sesekekeliling kakampung sasama anantek anantek Lo!"
Dino mengangguk, ternyata syaratnya mudah batinnya.
"Tutunggu bebelum seselesai!" tambah Marni.
Dino mengernyitkan dahi, "Masih ada lagi...?"
"Aaaraknya cucuma papakai ses*mpak aaaja!"
"HAAH? Gila..Lo... Gak mau..gak mau.." tolaknya.
"Lo tatakut kakalah?" tanya Marni tersenyum sinis.
"Sorry la ya.. Gue gak takut sama cewek gagu lemah kayak loo!" mendengar ucapan Dino barusan, tiba-tiba Romi langsung menoyor kepala kawannya itu.
"Lo bilang dia lemah? Tenaganya tu kayak Samsons tau gak?" bisik Romi.
"Haaallaahh, masa kita bisa kalah sama cewek kecil butek kaya dia!?" Dino masih merasa percaya diri.
"Oke! Deal!" Dino mengacungkan jempolnya.
Lalu kawan-kawan Dino mendekat dan berbisik.
"Lo harus menang! kalau Lo kalah, nyawa kami ikut jadi taruhan," bisik.Romi.
"Iyaa.. gue nggak bayangin gimana rasanya keliling kampung cuma dengan ******..." tambah anggotanya yang lain.
"Halaah! Santai aja! Gue pasti menang," ucapnya dengan sangat percaya diri.
"Kalau Lo kalah, Lo akan bakalan dapat hukuman juga dari kami!" ujar Romi serius.
"Santai ajaaa!" celetuk Dino.
"Jajajadi Lo mamau aaapa?" sela Marni lagi.
"Kita adakan tiga lomba. Pertama adu fisik, kedua adu otak, dan terakhir ketangkasan!"
Marni berbisik pada Irin, "Tanyain tuh maksudnya gimana. Capek gue gagu-gaguan..."
"Salah Lo sendiri nyamar milih yang ribet. Susah sendiri jadinya kan?" lalu Irin yang menyampaikan.
"Jelaskan apa aja yang dimaksud masing-masing nya. Biar kami paham, dan kami tak mau kalau kalian mainnya curang."
"Baiklah, akan gue jelasin. Nanti mainnya satu lawan satu aja. Marni dan gue.. Adu fisik nanti kita akan adu panco!"
Lalu rombongannya bersorak-sorai.
"Gue yakin... Marni bakalan kalah deh..." sorak partainya kecuali Romi. Karena Romi sendiri telah merasakan tenaga Marni yang tampak kurus itu.
"Yang kedua, adu otak.. Kita main rubik, yang duluan menyelesaikan permainan, dia yang menang..."
__ADS_1
"Naaahh, nahh, itu keahlian Dino banget tuuu!" masih sorakan dari kelompoknya.
Sementara Irin tersenyum sembari melipat tangan, Tak tahu dia, salah menantangin orang, batin teman dekat Marni alias Via ini.
Marni hanya tersenyum smirk tipis, masih serius mendengar penjelasan Dino.
"Dan yang terakhir, ketangkasan. Kita adu balap motor!"
"Wuuu...wuuu...wuuuu...." pasti kali ini Dino yang bakalan menang..." sorak kawan-kawannya.
"Lo sengaja pilih permainan yang Lo bisa aja ya?" tanya Irin melipat kedua tangannya di depan dada.
Marni menyentuh pundak Irin dan menggeleng pelan, artinya biarkan saja dia, kita ikuti permainan nya.
Tiba-tiba mata Marni menangkap satu sosok cowok yang selalu dihindarinya, sedang mendekat ke arah mereka.
"Ini ada apa?" tanya Jimmy yang datang dengan kawan-kawannya Gilang dan Kevin.
"Oooh.. enggak Kak.. gue hanya sekedar ingin mengajak Marni lomba ketangkasan," jelas Dino.
Jimmy menatap bergantian ke arah Marni dan Irin.
"Kamu... namanya siapa?" tanya cowok ganteng itu kepada Irin.
Irin yang sedikit enggan hanya memalingkan wajah, menjawab sekenanya, "Irin Kak.."
"Nanti boleh kita bicara berdua saja?"
Langsung semburat wajah Irin berubah menjadi tegang dan ketakutan, "Ada apa Kak? Kenapa? Ada masalah?"
"Hanya ada sedikit urusan. Nanti saja aku temui saat pulang sekolah."
Irin menggenggam tangan Marni ketakutan. Marni memberi kode anggukan. "Baik Kak..."
"Lo nanti mainnya nggak boleh curang ya? Boleh lomba asal fair.. Gue akan mengawasi lomba yang akan kalian buat," ucap Jimmy kepada Dino.
"Baik Kak..." jawab Dino kikuk. Sial umpatnya dalam hati, padahal dia memang punya rencana untuk mengerjai Marni bersama kawan-kawannya.
"Kakakapan Kikita mumulai?" Marni memperbaiki posisi kacamatanya.
"Lombanya nanti pulang sekolah saja. Semakin cepat semakin baik."
Hmmm...pulang sekolah.. boleh lah.. lagian gue bebas tugas, batin Marni.
"Ooke."
"Baik lah, kita balik dulu.. Berarti kami akan menengok pertandingan kalian nanti ya," ujar Jimmy pamit bersama kawan-kawan nya.
Kevin menyikut Jimmy, "Ngapain Lo ikut-ikutan segala?"
"Yaaa, itu si Kumal kesayangnya lagi ditantangin!" timpal Gilang.
"Sssttt... berisik...." sela Jimmy.
"Kayaknya kita bakalan melihat Jimmy mepetin Marni, inget kan kata-kata dia dulu? Kalau dia suka, bakalan dipepet terus sampai ngap" ujar Gilang mengenang moment saat mereka masih kelas sebelas.
"Ha-ha-ha, pakai pelet apa si Marni ya?" celetuk Kevin.
"Ssssttt..... diam lah.. jangan ngomong lagi!" ucap Jimmy.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YAAA.. LIKE, LOVE, VOTE, & KOMENTAR! 🥰🥰🥰😘😘😘...
...terima kasih...
__ADS_1