DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
88. Gadis Dominan


__ADS_3

"Hmmm," dia merasa malu untuk mengatakannya. Masih memikirkan kalimat yang menurutnya pas.


"Apa ada yang mengikuti Lo, Val?" Namun yang di seberang tak bergeming. "Lo masih di sana? gue susul sekarang."


Belum sempat Deval mencegah, Via telah menutup panggilan tersebut. Terpaksa Deval menunggu, padahal waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Kenapa dia selalu menjadi yang lebih dominan?" lirihnya duduk di salah satu bangku ruang itu.


Via mengenakan jaket, masker, kacamata, dan topi. Lalu mengeluarkan sepeda hadiah terbesar yang dia dapat dari big boss Negara ini. Untuk berjaga-jaga, dia menggunakan mode menghilang, agar menghindari sesuatu yang di luar kendali, sekaligus melihat keadaan.


Kembali menghubungi Deval, menghentikan sepedanya sejenak. "Lo berada di kantor polisi yang mana Val?"


Kembali kebetulan ada preman yang mau kencing sembarangan, terkejut. Celingak celinguk melihat asal suara, tidak tampak seorang pun. Keusilan Via kembali muncul dan mengeluarkan suara seperti ketawa nyai kunti.


"hi-hi-hi-hi.. Mau pipis sembarangan Bang?" Dengan menggunakan nada film horor Suzzana.


Si preman yang mendengar suara namun orang yang tidak terlihat langsung menegang. Rencana pipis yang akan dilakukan asal tembak, tiba-tiba sudah tertembak sendiri di dalam celana.


"hihihi..." Via benar-benar merasa geli sendiri, apalagi melihat preman itu lari kocar kacir.


"Vi, Vi, Lo lagi ngapain? Suara kayak kuntil anak gitu?" Deval sedari tadi memanggil-manggil dicuekin oleh Via yang asyik sendiri mengerjai preman.


"Hehehe, sorry, sorry, Lo lagi dimana?"


"Lo habis ngerjain orang sama sepeda Lo lagi ya?"


"Hehe, tau aja..."


"Gue di kantor polisi deket kostan Lo.. tadi rencananya mau ke tempat lo, tapi tiba-tiba ada yang ngikutin," tanpa sadar Deval menceritakannya secara refleks.


"Oiyaya, tunggu sebentar! Gue ke sana, dikit lagi nyampe."


"Gue aja yang yang nyusul ke sana, lo dimana?"


"Tenang! Tenang! Gue sedang menjadi sosok yang tak kasat mata!"

__ADS_1


"Buruan! Malah bikin makin khawatir, nanti beneran ditemenin kunti gimana?"


"Aah, Deval... Lo nakut-nakutin gue aja?" tiba-tiba Via merinding sendiri. "Gue cuss sekarang.." lalu menutup panggilan, merasa ikut merinding, sepedanya dikayuh kembali dengan secepatnya.


Beberapa menit olahraga di malam hari, ini olah raga sepeda-an ya.. jangan ingat judul novel sebelah, tadi yang berasa kedinginan, Via sudah berkeringat. Sepanjang perjalanan dia tidak melihat sesuatu yang janggal. Akhirnya karena kepanasan, zipper jaket yang tadi membalut tubuhnya, diturunkan. Via kembali ke mode normal, dan tiba-tiba dia sudah terlihat kembali oleh mata awam.


Via turun dari sepeda, memarkirkan di tempat yang sekiranya cukup aman, lalu melangkah menuju bagian dalam kantor. Via sempat melihat motor yang digunakannya kemarin, ternyata sudah bisa digunakan.


Gadis itu langsung masuk, menemukan Deval sedang merenungkan sesuatu, entah memikirkan apa. Dia tak menyadari kehadiran Via, dan gadis itu duduk di sampingnya.


"Lagi mikirin apa?"


Deval yang sedari tadi merenung, tersadar dan hanya menggeleng kan kepalanya. "Udah datang aja," celetuknya kalem.


"Ceritakan lah apa yang Lo pikirkan. Agar gue bisa tahu apa yang harus gue perbuat? Jangan hanya diam seperti tadi saja! Apa gue menyinggung perasaan Lo?"


Kembali dia hanya sekedar menggeleng kepala, dan tersenyum kecut, "Akhirnya setelah Lo pulang, gue juga pulang."


"Kenapa tidak dibereskan sekaligus aja? Kalau udah beres kan bisa melakukan pekerjaan lain. Latihan lagi misalnya. Kemarin belum lanjut latihan lagi kan?"


"Iya, hanya saja itu adalah hasil kerja Lo. Bukan gaya gue berlagak dengan hasil kerja keras orang lain."


"Lo tau nggak, gue tu sengaja nemenin Lo tadi memang buat bantu Lo aja. Bukan buat nonjolin diri gue ke Lo atau orang lain. Tapi tadi itu lo bikin kecewa tau nggak? Kenapa tiba-tiba berubah tak jelas kayak tadi? Ngeselin tauk?"


"Maaf, gue terlalu kekanakan dan pelik!" lalu diantara mereka berdua hanya diisi dalam lamunan panjang oleh pikiran masing-masing, cukup lama mereka berdiam.


"Val, Lo punya bakat yang diam-diam disembunyikan ya?" Via teringat lagi akan mimpinya.


"Maksudnya?"


"Lo pinter nyanyi ya?" masih terngiang lagu yang dinyanyikan oleh Deval dalam mimpinya, entah kenapa bisa membuatnya menangis seperti itu.


Deval membalas tatapan Via, dalam masker dan kacamata nya itu. "Kenapa Lo berpikir gue pinter nyanyi?"


"Tadi sebenarnya gue udah ketiduran, entah kenapa Lo hadir di mimpi gue, sambil bernyanyi dan mengatakan hal-hal yang menurut gue aneh."

__ADS_1


"Lo punya penyakit bawaan sejak lahir?" teringat ucapannya di dalam mimpi lebih persis ucapan orang yang akan pergi untuk selamanya. Membayangkan hal itu, Via sudah takut duluan. Jika benar, cowo manis yang menari-nari sambil bernyanyi di dalam pikirannya akan pergi meninggalkannya.


Deval kembali menggeleng, "Lo mau denger suara gue bernyanyi?"


Via membulatkan mata dan mulutnya. Jadi beneran pinter nyanyi? Via mengangguk cepat. Mereka kembali dalam senyuman kasmaran tanpa hubungan yang jelas. Via merasa lega, semoga itu hanya bunga tidur tanpa arti.


"Besok ke rumah Mak Iroh ya? Lo beresin kasus itu, setelah itu gue hubungi kak Suzy buat lanjutin latihan," titah Via, dan Deval menyetujuinya.


Mereka pamit kepada polisi yang kebetulan berjaga, melangkah dengan santai sambil ngobrol menuju kendaraan mereka masing-masing. "Val, gue merasa kayaknya kita harus lebih hati-hati hingga beberapa waktu ke depan."


"Iya, gue juga merasa begitu. Tadi ada orang-orang seperti mafia ngejar-ngejar gue."


Hmmm.. sejenak Via berhenti. Matanya menerawang karena memikirkan sesuatu. Deval hanya tersenyum melihat cara Via berpikir begitu, terlihat sangat menggemaskan menurutnya.


"Coba Lo ngekost juga untuk sementara, hingga para mafia itu cabut dari negara ini. Gue merasa mereka itu ingin mencari gue, dan kebetulan Lo ikut terbidik oleh mereka. Hmmmm..."


Via mencoba mengakses ke jaringan maya, mencoba mencari data Deval lewat Mbah Gugel. Kecurigaannya terjawab, dan memang data Deval terpampang nyata dalam jaringan. Karena itu mereka bisa mengetahui lokasi tempat tinggal Deval.


"Lo bisa mengotak-atik jaringan gak Val?"


Lalu berpikir sejenak. Dia baru mencoba merambah, hanya saja belum mahir. Belum tau bagaimana cara untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam jaringan seperti ini, termasuk belum tahu cara menyembunyikan identitas dengan aman.


"Gue hanya pengguna kayak biasa," jawabnya sedikit ragu.


Malam yang semakin larut, membuat suhu udara kembali terasa dingin. Meski mereka memakai jaket, Via masih merasakan dingin yang menusuk hingga ke tulang.


Deval mengetahui itu, menarik tangan Via, menarik zipper jaket gadis itu kembali ke atas. Meraih tangannya lalu menggenggam, memasukkan ke dalam kantong jaketnya. Via merasa pernah melihat adegan ini, iya ini adegan uwuh yang membuat mak-mak reader meleyot kalau nonton drakor.


Wajah Via memerah, suhu tubuhnya langsung meningkat menjadi kepanasan, bukan hanya sekedar hangat lagi. Via kembali menarik tangan nya sembari mengipasi wajahnya dengan kedua tangannya. Deval melihat aksi itu hanya bisa tersenyum tipis, dan cubitan memdarat di pipinya.


"Lo sengaja yaa..."


Deval mengelus pipinya yang antara sakit dan tidak sakit. "Ayo gue antar!?" Via mengangguk mereka menggunakan kendaraan masing-masing. Via sengaja menggunakan mode manual, agar tubuhnya berasa hangat karena mengayuh sepeda.


...*bersambung*...

__ADS_1


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...


...terima kasih...


__ADS_2