DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
47. Baby blues syndrome


__ADS_3

"Na… na…" terdengar suara korban, mungkin memanggil sang istri.


"Na…" Suara tangis bayi masih belum berhenti.


"Kemana sih dia… Cup…cup…cup…" suara tangisan bayi mulai reda.


"Ci Luk ba… Ci Luk ba…" suara korban yang tengah membujuk bayinya.


…..braaakk…


Terdengar gubrakan keras, entah suara apa.. 


"Mas…!" terdengar suara wanita setengah berteriak..mungkin itu istrinya yang kemarin, batin Via teringat orang yang menghajar dan dihajar Rini kemarin.


"Kamu apa-an sih? Anak ditinggal sendirian… Nanti terjadi apa-apa pada dia bagaimana?"


"Aku tak peduli Mas.. Aku tak Sudi punya anak sama suami tukang selingkuh kayak kamu!"


"Sssttt…. Maksud kamu apa? Pelankan sedikit suaramu! Zizi baru saja aku tidurkan…!"


"Tadi aku mendapat laporan dari tetangga, katanya dia melihat kamu sama wanita cantik dan seksi..!!"


"Maksud mu apa? Seharian tadi aku itu bekerja di kantor!"


"Bohong! Ini aku punya bukti foto kamu sedang merangkul dia…!!!"


"Na.. Na.. kamu jangan salah paham.. ini hanya kebetulan saja aku ketemu dengan dia…"


"Kamu bohong! Kamu pikir selama ini aku bodoh hah?"


"Na.. dengarkan aku dulu!"


"Tak mau!! Lebih baik kamu tinggalkan rumahku ini! Bawa sekalian anak kamu itu…!!!"


"Tapi Na, aku harus tinggal dimana? Masa kamu tega menyuruh Zizi dibawa malam-malam begini ke jalan?"


"Aku tak peduli..!! Aku tak Sudi..!" Teriak wanita itu membuat sang bayi kembali menangis.


"Cup..cup..cup…" Sepertinya korban kembali menenangkan sang bayi. Namun sang bayi tidak mau berhenti menangis.

__ADS_1


"Sepertinya dia lapar. Kamu berikan lah dia ASI terlebih dahulu! Aku akan menyiapkan peralatanku untuk pergi dari sini…"


Tak ada sahutan dari sang istri, dan suara tangisan bayi mulai reda. Mungkin tengah diberi ASI.


"Hei…Na..!" teriak korban..


"Apa yang kamu lakukan pada Zizi…?"


Terdengar langkah kaki berlari.


"Zi..zizi…Zizi…" korban terus memanggil nama sang bayi..


Sekitar sepuluh menit hanya terdengar suara bising, mungkin korban kembali dalam berkendara.


"Zizi…Zizi…" kembali terdengar suara korban dan langkah kaki. Terdengar suara sirene ambulans.. Apakah mereka sudah sampai di rumah sakit?


"Sus…sus….tolong anak saya.. dia dari tadi tidak bergerak…"


"Kenapa anak Bapak?"


"Tadi…tadi… Tolong anak saya Sus!"


"Baik, Bapak tenang dulu. Kami akan melakukan penanganan darurat pada bayi Bapak…"


Tak lama, "Bagaimana anak saya Dok?"


"Apa yang terjadi pada anak Bapak?" mungkin itu suara dari dokter yang memeriksa sang bayi.


"Tadi..tadi…"


"Ayo katakan dengan jujur…" titah sang Dokter dengan tegas.


"Tadi saya sedang melakukan sesuatu. Sebelumya saya dan istri baru saja bertengkar. Saya tinggal sebentar dengan bayi kami, ternyata dia tengah… tengah…"


"Lanjutkan…!!!"


"Membekap anak kami dengan bantal…"


Mendengar hal tersebut, Via sangat terkejut, dan air matanya mengalir dan mulutnya ditutup dengan tangannya menahan rasa yang sangat luar biasa. Sang ibu mencoba melakukan pembunuhan pada anaknya sendiri.

__ADS_1


"Kita cukupkan saja?" tanya Stevan.


"Tak usah dilanjutkan A.. gak kuat gue dengarkan ini lagi…"


"Yeeeiii… Masa gini aja udah KO?"


"Gue sangat sensitif mengenai hal ini A.. mungkin karena gue seorang cewek kali ya..? Jadi kesimpulan awal gue, sang istri mengalami stres akibat diselingkuhi oleh sang suami. "Menyebabkan jiwanya terganggu, yang biasa dibilang baby blues mom syndrom… Dia sendiri sudah tidak bisa mengendalikan diri sendiri karena syndrom itu…"


"Terus motif tindakannya bagaimana? Apa perlu kita lanjutkan lagi?" tanya Stevan.


"Gue nggak sanggup A.. coba Aa saja yang mendengarnya.. Nanti buat saja catatan yang pentingnya…"


"Ooh.. ya udah…lo duduk aja. Gue dengarkan ini pakai headphone dulu.." Via mengangguk memperhatikan pekerjaan Stevan. Melihat catatan yang ditulisnya, dan dia hanya menggeleng karena tidak bisa membacanya.


Via memperhatikan setiap ekspresi yang digambarkan oleh Stevan. Wajahnya tampak sangat tegang dan sepertinya suasana sangat mencekam. Lalu melepaskan headphone tersebut menghembuskan nafas kasar.


"Huuiffttt.. untung Lo tidak mendengarnya Vi… Gue aja shock mendengarnya. Dugaan Lo benar, tersangka sebenarnya sudah jelas. Namun dilakukannya dalam keadaan dia sendiri tidak sadar…"


"Tapi sampai memotong-motong tubuh korban itu.. sungguh..sungguh… kejam…" Via meringis merasa ngeri.


"Nanti kita periksa juga kondisi kejiwaannya, dengan bantuan psikolog ahli…"


"Bener A.. Aa ni masukannya selalu the best.. BOS sangat beruntung memiliki Aa sebagai agen…"


"Udah deh.. jangan muji terus.. nanti gue besar kepala…"


"Wkwkwkw.. makin besar kepala makin besar pula kapasitas nya kan A'? Wkwkwkwk…"


"Yang ada gue nggak bisa bangun gara-gara keberatan.. maunya tidur muluuu.."


Via bangkit, "Ayo A…"


"Kemana?" 


"Kita selidiki orang yang tadi kita dengar…"


"Oke.. tapi gue beresin dulu peralatan nya.."


"Siiipp…" Via membantu Stevan merapikan alat-alat tersebut dan segera menuju rumah korban.

__ADS_1


*Bersambung*



__ADS_2