
Diam-diam Stevan menarik Via dari tempat itu. Sementara para mafia itu masih dicegat oleh Jimmy. Mata Oliver menangkap dua orang itu tengah mencoba untuk melarikan diri.
"Dapatkan mereka dengan segera!"
Jimmy menahan tubuh Oliver yang juga ingin mengejar dua orang tersebut, Oliver kembali tersenyum sinis.
"Apakah gerangan yang membuatmu melarangku untuk mendapatkan gadis itu?"
"Siapa pun dia, kau tak boleh mengganggunya!"
"Aku tak akan menyakiti dia. Aku hanya ingin membawanya ikut bersamaku."
"Apa kau bilang?! Jika berani kau membawa dia, langkahi dulu mayatku!"
"Huh, sepertinya kau juga menyukainya," kembali dengam senyuman sinisnya. "Apa kau yakin akan bersaing denganku untuk mendapatkannya?"
"Atau lebih tepatnya kau mencintainya?" mengambil sebuah cerutu di dalam kantong jas jubahnya, menyalakan api dan membakar ujung cerutu sembari menghisapnya dengan dalam. Lalu meniupkan asap dari cerutu yang dia hisap ke arah punggung Jimmy.
"Dari mana kau mengetahui saya sedang mencari dia?"
Kembali Jimmy teringat kejadian tadi. Dimana dia melihat secara langsung, Oliver sedang berkunjung ke rumahnya. Di dalam ruang kerja ayahnya, tampak Oliver tengah memperhatikan foto gadis yang begitu dia kenal. Itu terpampang jelas di layar laptop yang kebetulan terlihat oleh Jimmy di saat dia mengintip di celah pintu.
Gadis yang selama ini membuat perasaannya tidak karuan. Membuatnya merasa sedih dan gembira di saat yang bersamaan. Meskipun dia tak pernah menganggapnya ada.
Oliver terus memandangi layar di laptopnya dengan surai wajah yang mengerikan. Seperti hendak melahap gadis itu hidup-hidup. Meski dia mengetahui hal itu, Jimmy memilih mengamati dalam diamnya, memperhatikan tingkah laku tamu dari ayahnya itu.
Apa yang akan mereka lakukan kepada Via? Mengapa mereka sibuk dengan laptop?
Tak sengaja dia melihat Oliver sedang melakukan rekaman. Dalam rekaman yang terus memperhatikan foto Via dengan jelas dia mendengar mafia itu mengatakan cinta. Usai rekaman Oliver tampak kembali sibuk mengotak-atik benda elektronik di hadapannya dengam senyum sinis yang tiada henti.
"Done, virus sudah kita sisipkan pada server yang mengacaukan kita beberapa waktu ini."
"Video barusan sudah saya setting akan langsung rusak setelah selesai ditonton."
__ADS_1
"Kita akan lihat hasil uji coba sistem yang baru saya rancang ini."
Jimmy masih asyik memperhatikan tindakan mereka dalam diam. Tak lama Oliver tampak bersorak.
"Tak aku sangka, server pengganggu sedang beroperasi. Mari kita lihat! Bagaimana reaksi mereka!"
Ternyata, di dalam layar laptop tersebut terpampang wajah Via dengan seorang pria bule yang dilihatnya saat di rumah sakit dulu. Mereka sedang berada di sebuah kafe.
"Yak, lokasinya sudah berhasil ditemukan! Ternyata hacker lawan kita ini memang memiliki hubungan dekat dengan gadis itu."
"Sehingga dia berhasil menyembunyikan identitas gadis yang membuat saya jatuh hati ini."
Tiba-tiba, langkah Oliver dicegat oleh rekan kerjanya yang lain. "Oliver, aku rasa kita terlalu jauh melenceng dari tugas kita seharusnya. Bukan kah kita harus mencari putri dari Sato? Kenapa kamu malah mencari gadis itu? Ini di luar tanggung jawabku!"
Tampak Oliver hanya tersenyum sinis, mengeluarkan sesuatu dari dalam jas jubah miliknya. Alangkah terkejutnya Jimmy melihat sebuah senjata api telah berada di tangan Oliver.
"Kamu mau membantah saya?"
Pria yang baru saja protes seketika mengangkat tangannya dan tampak seluruh tubuhnya bergetar ketakutan.
"Ampun!!! Saya tidak akan membantahmu lagi."
"Sekarang semuanya menuju ke lokasi itu! Jangan sampai lepas! Saya sudah tidak sabar untuk memilikinya."
Jimmy segera masuk ke dalam kamarnya, mengintip lewat pintu. Orang-orang itu keluar dari ruang kerja sang ayah. Berbondong-bondong menaiki mobil dan beranjak dari kediaman mereka.
Jimmy kembali masuk ke ruang kerja sang ayah, di sana masih tampak laptop dalam keadaan menyala. Ada Via dan seorang pria bule yang tampak sibuk melakukan sesuatu di sebuah kafe. Jimmy sangat mengenal kafe itu, segera bersiap untuk menyusul rombongan mafia itu.
Saat dia sampai di kafe itu, sudah banyak pengunjung dan pegawai kafe yang berada di luar tengah kesakitan dan terluka.
Ada apa ini? Apakah ini ulah mereka?
Dia terus menyusuri kafe menuju ke bagian dalam, dan tampak Via tengah dilindungi oleh pria bule yang sering bersamanya.
Jimmy mendorong beberapa orang yang berdiri berjejer di belakang Oliver.
__ADS_1
"Oliver, jangan dia! NO! NO!" teriaknya.
***
"Huh, sepertinya kau juga menyukainya," kembali dengam senyuman sinisnya. "Apa kau yakin akan bersaing denganku untuk mendapatkannya?" ucap Oliver yang berjalan sembari menghisap cerutu di tangannya.
"Terserah dengan apa yang akan kau lakukan padaku, tetapi jangan sekali-kali kau mengganggu dia!"
"Aku tidak akan menyakitinya. Aku akan menjadikannya sebagai Ratu yang akan menemani segala hariku."
Rahang Jimmy seketika menegang, merasa jijik mendengar hal yang baru saja diucapkan oleh pria bule itu.
"Tak akan kubiarkan hal itu terjadi!!!"
"Huh, jadi kau benar-benar menyukainya? Siapa nama gadis itu?" Pria bule itu kembali menyesap cerutu di tangannya, kali ini meniupkan asapnya dengan pelan dan tajam tepat di hadapan Jimmy.
"Uhuk... uhuk…" Jimmy mengibaskan asap-asap yang tengah mengepul memenuhi wajahnya.
"Huh, untung saja kau adalah anak dari Buana Putra. Beruntung sekali karena kau adalah orang yang akan diambil oleh Bruno. Jadi aku tak bisa menyakitimu."
Oliver beranjak keluar meninggalkan Jimmy. Sementara mata Jimmy liar mencari sosok gadis yang membuatnya khawatir tadi. Mendapati meja bekas Via duduk tadi dengan sebuah tablet tertempel dengan keyboard di atas meja. Jimmy mengambil benda itu, lalu membawanya. Jimmy mencoba mengikuti perkiraan arah lari Via dan Stevan tadi.
Semoga kamu berhasil menjauh dari tempat ini.
Jimmy masih berusaha menyusuri sebuah jalan, dalam kegelapan malam. Perasaannya gusar mengingat anggota-anggota bertubuh kekar mengejar gadis itu. Tiba-tiba dia merasa ilmu bela diri yang selama ini dia tekuni masih belum cukup untuk melawan penjahat kelas dunia itu. Kali ini dia bertekad untuk masuk kelas menembak.
Jika tidak bisa melawan mereka dengan tangan kosong, mungkin mereka bisa dikalahkan dengan senjata api.
Dia terus menyusuri jalanan itu hingga tampak orang-orang Oliver mondar-mandir mencari dua orang tadi.
...*bersambung*...
__ADS_1
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...