DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
S2-16 Dimanja


__ADS_3

Pukul lima pagi alarm Jimmy telah bergema. Dia bangkit dan melakukan ritual paginya. Setelah semua dirasa beres, dia menyiapkan diri lebih pagi dari biasanya. Karena dia berencana untuk membuat sarapan seseorang yang dipaksa menjadi pacarnya.


Tadi malam kacau, kenapa bisa lupa udah beri garam pada makan-makanan itu? Apa benar, gara-gara sudah terlalu ingin menikahinya?


Jimmy terkekeh sendiri merasa semuanya sangat konyol. Padahal biasanya tergolong pria handal dalam memasak. Tak jarang dia memasak untuk para anggotanya. Tadi malam terjadi kesalahan hanya karena dia merasa grogi.


Usai mempersiapkan diri, dia langsung menuju ke lantai bawah. Lebih memilih menuruni tangga, dan sangat terkejut menemukan Romi tengah duduk pada anak tangga terakhir. Romi melihat orang yang turun pun ikut merasa terkejut.


"Pagi-pagi begini, ngapain di sini?" tanya Jimmy.


"Ooh, tadinya mau naik ke atas."


"Kenapa tidak langsung?" Jimmy menatap curiga, tepat di hadapan tangga ini, terdapat pintu rumah Via.


"Hmmm, saya pikir masih tidur."


"Kamu ada rencana lain?" Jimmy masih menginterogasi.


"Kamu masih suka padanya?"


Romi tidak menjawab, memilih beranjak menuruni tangga. Jimmy menatap kepergian anggotanya yang paling handal dalam jaringan itu. Sebenarnya dia sudah tahu sejak dulu, bahwa Romi juga menyukai Marni. Namun, dia tetap mengajaknya bekerja sama untuk mencari orang yang sama.


Jimmy melanjutkan melangkahkan kakinya menuju pintu rumah Via. Belum sempat menekan kode pada tombol-tombol itu, ternyata pintu sudah dibuka dari dalam. Jimmy segera menghindar, berdiri menyandar pada dinding.


Ternyata itu Irin yang akan berangkat untuk bekerja. Dia tidak menyadari Jimmy berdiri di sana, karena matanya fokus menuju lift pada sisi lain. Jimmy menyunggingkan senyumannya, membuatnya lebih leluasa jika tidak ada yang memperhatikan dia bekerja.


Kembali Jimmy menekan angka kunci pasword rumah gadis itu. Beneran tidak diganti, batinnya. Dia mendapati rumah yang masih sepi. Dapur itu masih terlihat berantakan.


Mungkin dia belum bisa membersihkan ini semuanya.


Jimmy menyingsingkan lengan bajunya, menggunakan celemek, lalu memulai mencuci peralatan yang digunakannya tadi malam satu per satu.


Sepertinya dia membutuhkan asisten rumah tangga.


Setelah semua piring tercuci, Jimmy memeriksa nasi kemarin yang ada di penanak nasi. Nasi itu digunakan untuk memasak nasi goreng untuk Via.


Hari ini harus enak! Tadi malam sampai lupa nyicip gara-gara dia merhatiin terus.


Jimmy mulai memotong-motong bumbu dan mulai memasak.


Tidur Via terganggu karena kehebohan dari arah dapur. Dicoba membenamkan kepala di bawah bantal, tiba-tiba saja dia tersadar, Siapa yang ada di dapur? Irin sudah berangkat dari tadi.


Dengan rasa malas dia menurunkan kaki. Rambut yang masih kusut, diikat dengan asal. Mencoba mengambil alat bantunya lalu bangkit. Via berjalan perlahan, dan tampak seorang pria berpakaian yang telah rapi tengah mengaduk-aduk sesuatu di dalam wajan.


Via mengucek mata, "Kak, udah di sini lagi?" sungutnya.


"Kamu udah bangun?"

__ADS_1


"Berisik gitu siapa yang gak akan bangun?" dia meneruskan langkah masuk ke dalam dapur. Didapatinya semua peralatan yang tadi malam yang belum dicuci, telah bersih semua.


"Kamu yang beresin semua?"


Jimmy tidak menjawab, hanya terus mengaduk makanan. Kali ini dia fokus dan tidak lupa menyicip makanan itu setiap saat. Nasi goreng sudah siap disajikan.


"Kamu duduk dulu gih, aku siapkan!" Mengambil piring lalu menyendokkan nasi goreng itu ke atas piring. Tidak lupa dengan toping telor, selada, dan timunnya.


"Aku belum mandi Kak."


"Aku tetap suka kok!"


"Isshh! Bukan itu. Masa sarapan tapi belum mandi?"


"Ya udah, cuci muka aja sanah. Aku mau cabut kerja dulu."


"Tunggu, ini makanannya bisa dimakan gak si?" sungutnya.


"Coba aja!"


"Temeni aku sarapan ya?"


Jimmy mengernyitkan wajahnya. "Coba ulangi lagi!"


"Ayo sarapan sama-sama!"


Jimmy beranjak ke arah balkon. Menelepon asistennya tak lain tak bukan adalah suster Rika. Tak lama Jimmy melepas celemek, mengambil makanan untuknya sendiri.


"Bakalan bahagia calon istrinya nanti ni Kak, dimanja terus kayak gini," ucap Via tanpa canggung.


"Iya, aku janjikan akan membahagiankanmu. Tenang saja!" Jimmy mengucapkannya tanpa melihat ekspressi Via yang terkejut mendengarnya.


Masih teringat hasil kerja dapur Jimmy tadi malam, membuatnya agak takut mencobanya. Diambil sedikit, seujung sendok lalu dicicipnya dengan ragu. Matanya membesar, lalu menyendoknya lebih banyak dan kembali masuk ke dalam mulutnya.


"Gimana?"


"Enak banget Kak!" lalu sendok demi sendok masuk ke dalam mulutnya. "Tadi malam kenapa asin banget?" masih melanjutkan makan.


"Ekheeemmm," Jimmy hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Aku tak menyangka anak Buana Putra semanis ini? Aiiiihh... hatiku...


Jimmy bersiap berangkat, "Aku berangkat kerja dulu yah, kamu hati-hati di rumah. Jangan jingkrak-jingkrakan dulu!"


"Hmmm..."


"Kamu tau nggak, kita ini seperti pasutri baru lho."

__ADS_1


Mata Via membesar, "Ngareep..."


"Iya, sangat! Ya udah... Byee Sayaaang..!" lalu Jimmy buru-buru keluar menutup pintu meninggalkan Via yang tertegun dengan sejuta rasa.


***


drrrrttt...


drrrrrttt...


drrrrrttt...


"Hallo Vi..." jawab Irin.


"Kapan lo balik? Udah pukul berapa sekarang?" tanya Via sudah tidak sabar karena kesepian.


"Ini gue udah jalan pulang kok. Hahaha, gimana rasanya nganggur?"


"Iiiihhhggg... mengezalkan!"


Irin terkekeh, membayangkan temannya yang biasa sibuk dua puluh empat jam terpaksa hanya duduk manis di rumah.


"Tunggu aja, gue balik sebentar lagi. Atau lo bisa telepon bebeb, dia pasti tak keberatan menemani!" Irin menutup panggilan dan menyimpan ponselnya kedalam tas kerjanya.


Tiba-tiba ada yang menarik tas tersebut, sontak Irin berteriak mengejar orang itu.


"Jambreeet...! Jambreeeet...!" Irin terus berteriak mengejar si pelaku. Membuka sepatu hight heels-nya sambil terus berlari.


Mencoba membidik si jambret dengan sepatunya itu.


...~plaaak~ ...


Tepat mengenai kepala si jambret, tetapi dia masih melanjutkan larinya kembali.


Dari arah belakangnya ada pemuda yang berlari dengan sangat cepat mendahului lari Irin. Melompat dan menabrakkan tubuhnya kepada si jambret hingga mereka berguling ke arah jalan raya.


Jalan raya tengah dipadati oleh para pekerja yang akan kembali ke rumahnya. Sekarang adalah jadwal pulang para karyawan perkantoran. Hampir saja dua orang yang terguling itu dilindas kendaraan roda empat yang lewat. Pemuda itu langsung bangkit dan menarik si jambret.


Gelut antara pejambret dan pemuda terjadi. Ternyata pemuda itu bisa mengalahkan sang jambret, mengunci kedua tangannya hingga keok. Borgol pun dikeluarkan, tangan si jambret diikat ke pagar pembatas jalan.


Si pemuda mengambil tas Irin yang dibawa kabur tadi. Dia berjalan hendak mengembalikan tas tersebut. Mereka berdua sama-sama terkejut, saat setelah delapan tahun baru bertemu kembali.


"Kamuuu?" ucap mereka serempak.


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...

__ADS_1


...terima kasih...


__ADS_2