
Tiba-tiba matanya menangkap satu sosok yang tengah berlari mengejar seseorang di seberang jalan. Sosok itu seperti seorang yang baru tadi pagi membuatnya menangis sejadinya di sebuah pusara. Sosok yang benar-benar dirindukan, yang tiada obatnya.
Val? Val? Kamu hidup lagi Val?
Via ikut berlari mengejar orang yang seperti bangkit dari alam lain itu. Via mengikuti arah lari mereka, tiba-tiba kakinya kembali merasakan sakit dan membuatnya jatuh tersungkur.
Aduuh, malah lupa kalau kaki tidak berguna ini tengah drama, batinnya sembari mencoba mengubah posisi, lalu memijit kaki yang terasa nyut-nyutan kembali.
"Dek, kamu tidak apa-apa?" tanya seseorang yang suaranya tidak asing.
"Lhoooh? Dokter? Kamu lagi? Kamu ngikutin aku terus ya?" tuduhnya karena merasa kesal.
Gila aja, kenapa orang ini ada dimana-mana sih?
"Aku juga terkejut lhoo, ini kamu yang tengkurap di jalanan." berjongkok melihat kondisi kaki Via.
"Kak...?" Jimmy refleks melihat Via. "Kenapa kamu tidak bilang sejak di rumah sakit bahwa kamu itu Kak Jimmy?"
Jimmy tertegun, "Siapa yang bilang?"
"Itu tidak penting," meraba wajah Jimmy tanpa permisi. Niat hati hanya ingin melihat perobahan wajah itu, tetapi tangan sang pemilik wajah, menangkap tangan yang seenaknya nangkring di wajahnya. Saat itu dia baru menyadari kelakuannya ini salah.
"Maaf," mencoba menarik tangannya lagi.
"Kamu heran dengan perubahanku?" kembali memeriksa keadaan kaki Via. Bengkaknya makin parah.
"Aaah, dasar anak nakal. Disuruh istirahat malah melakukan hal-hal aneh?"
Jimmy mengambil ancang-ancang, mengangkat Via tanpa meminta izin juga.
"Heeii, Kak? Kenapa aku diangkat seperti ini?"
"Ayo pegangan!" titah Jimmy.
Via meronta memaksa turun, ~nyiiit~ terasa kembali nyeri yang luar biasa hingga ke kepala. Dia terduduk tidak bisa menopang bobotnya, langsung ditahan oleh Jimmy.
Jimmy kembali mengangkat Via, "Sekarang tubuh kamu ini kurus sekali ya?" ucapnya terus melangkah kan kaki tanpa memedulikan tatapan jijik orang-orang yang melihat mereka.
"Lagi syuting drama Bang?" sindir salah satu penonton. Jimmy hanya menjawab dengan sebuah senyuman.
"Turunin aku ah! Malu tauk!"
"Yakin mau turun? Kalau jatuh lagi aku tak mau tanggung jawab ya?" Jimmy tetap melanjutkan langkahnya menuju sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan. Membuka pintu belakang, dan mendudukkan Via di dalamnya.
Lalu setengah berlari nenuju pintu depan pengendara lalu melajukan mobilnya. Via mengintip Jimmy dari spion depan. Tampak di bibir pria itu tengah menyunggingkan senyuman.
"Kenapa senyam-senyum?"
"Enggak, aku hanya merasa geli aja. Kamu sangat berbeda waktu kita masih sekolah dulu."
"Kenapa emang?"
__ADS_1
"Mungkin karena dulu kamu tak banyak bicara, sibuk menghindar dariku. Aku baru tahu kamu itu jutek begini," kembali dia terkekeh.
"Kakak tahu aku siapa."
"Ya tahu lah. Kamu gadis item, kucel, dan jelek kata orang-orang kan? Marni, ppfffttt..." kembali menahan tawanya.
"Emang sejak kapan Kakak tau? Kenapa pura-pura tidak tau?"
"Hmmm, sejak kapan ya? Mungkin sudah cukup lama."
Lalu dia teringat semua kelakuan Jimmy. Hmmm, jadi dia sudah mengenalku. Untung saja dia bukan sejenis makhluk ember. Kalau tidak, seisi sekolah sudah mengetahui identitasku. Pasti ribet jadinya.
Kembali pikirannya teringat akan pertemuan-pertemuan mereka di sekolah. Hingga saat bertarung melawan mafia, dia juga ada.
Sebenarnya dia ini kenapa ya? Seperti selalu saja mengikutiku.
"Marni, kenapa melamun begitu?"
"Marni... Hmmm, panggilan yang sudah sangat lama tidak kudengar," dia perhatikan mobil sudah berhenti. Tepat di parkiran rumah sakit yang didatanginya tadi malam.
"Kakak mengikuti jejak ibunya ya?"
"Iya, bisa dibilang begitu. Kamu tunggu sebentar yaa, "Jimmy keluar dari mobil."
Mau apa lagi orang itu.
Tiba-tiba dia dikejutkan oleh seseorang berseragam, memegang gunting rumput, pengki, dan sapu lidi. Dia menempelkan wajahnya ke kaca jendela mobil, mencoba menerawang isi di dalam mobil. Melihat gelagat aneh orang itu, Via menurunkan kaca jendela mobil, bersiap menabok orang yang tidak sopan itu.
"Haaaii," sapanya melambaikan tangan sambil nyengir. Via memilih diam, bingung mau menjawab apa.
"Iiihh, Calon Mama sombong amat?" celetuknya.
Calon Mama? Sejak kapan nikah sama bapaknya?
"Iiih, Calon Mama nggak asik. Cantik-cantik tapi sombong," sungutnya lalu beranjak.
Jadi Dino beneran tidak mengenalku? Syukurlah kalau begitu.
Tak lama Jimmy muncul telah menggunakan jas kebesarannya, bersama seorang pria berpakaian perawat.
Lhooo? Bukannya itu masih satu sekolah dengan kami? Dia di sini juga? Kok berasa reuni ya? Namanya siapa ya? Aduh, lupa..., seingatku dia masih kelompok Dino juga.
"Nah, kita tunggu dulu di sini." ucapnya membuka pintu. Setelah itu mengangkat Via lalu mendudukkannya di atas kursi roda. Sang perawat mendorong Via, diikuti oleh sang dokter.
"Pelayanan eksklusif sekali bukan?" ucap sang perawat, membuat Via merasa tersindir.
"Ini pelayanan prima!" sela Jimmy.
Perawat itu terkekeh dan menggelengkan kepala. Mereka menuju sebuah ruang kerja milik pribadi. Di sana ada meja dan peralatan perkantoran, di hadapan meja itu terdapat sebuah brangkar, khusus pemeriksaan di ruang ini.
Sang perawat itu berencana ingin memindahkan Via ke atas brangkar. Namun, dicegat oleh sang dokter.
__ADS_1
"Yang ini biar saya saja!" menyuruh perawat itu minggir. Via menolak hendak mencoba pindah sendiri, namun tubuhnya sudah melayang terangkat lalu mendarat di atas brangkar.
"Wooow, luar biasa sekali pelayanan rumah sakit ini. Ada ya dokter ngangkat-ngangkat pasien? Oiya, ditambah lagi dokternya sendiri yang menjemput pasien, lebih tepatnya menguntit pasiennya kemana-mana."
Jimmy hanya tersenyum tipis mendengar ocehan pasiennya. Setahunya dulunya dia tidak pernah begini. Yang ada selalu kabur dan kabur. Lalu memeriksa kembali kaki pasiennya ini.
ddrrtt...
ddrrtt...
ddrrtt...
Via mengeluarkan ponsel dari dalam kantong jas nya. Ternyata yang menelepon itu sang supir.
"..., Maaf Om, tadi aku pergi begitu saja. Ini aku lagi di rumah sakit," menatap Jimmy berharap memberi tahu nama rumah sakit ini.
"WH Medical Centre," ucap Jimmy.
"Nama rumah sakitnya WH Medical Centre, ..., alamatnya?" menatap Jimmy lagi.
"Jalan Kenangan Tak Pernah Pudar," ucap Jimmy. Via mngernyitkan keningnya, "Serius...!" Jimmy menekankan kembali.
"Katanya alamatnya di Jalan Kenangan Tak Pernah Pudar, ..., Oh tau Om? ..., Oh ya udah, aku tunggu."
"Aneh banget nama alamat di sini," celetuknya kembali memasukkan ponselnya itu.
Jimmy menempelkan telapak tangannya ke mulut Via, "Ini mulut ternyata banyak bicara ya?"
Via langsung mendorong tangan Jimmy itu, "Ini termasuk pelayanan prima?"
"Bukan, ini termasuk pada pelayanan eksklusif...!" kembali memeriksa kaki Via.
Ternyata ada sosok seseorang yang memperhatikan mereka, lalu pergi meninggalkan tempat itu karena merasa ada yang terbakar.
Teriakan Dino: Thooorr... Kenapa pangkat gue jadi tukang kebun siiih?
Author: So what gitu lhoo?
Dino: Kejam lu Thor, bahkan orang yang tidak lu kenal pangkatnya lebih tinggi jadi perawat...
Author: Suka-suka saya dink! 😂😂😂
**Besok Senin, ayooo... siapkan Vote untuk cerita ini yaaa.. Terima kasih 🙏🙏🙏 SEBAGAI PENYEMANGAT AUTHOR YA.. Kritik dan Saran yang membangun juga diterima kok
Minta pendapat reader dunk ya, Noveltoon ke depannya mengadakan dua event lomba lagi, satu event wanita mengubah takdir, satu lagi event novel pria. Gimana enaknya ya? Ikut nggak yaa?
Oiya, ada yang penasaran dengan visual Dino dkk nggak ya? Ayoo cuung jarinya mana**?
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
__ADS_1
...terima kasih...