
Usai telepon dari Deval ditutup, Via merasakan sebuah firasat buruk.
"Om, kita secepatnya kembali ke kosan ya?"
"Siap Non…-"
Stevan melihat ekspresi Via yang semakin tegang, memilih untuk diam memperhatikan. Tak lama, mereka sudah tepat di depan rumah kos Via.
"Aa habis ini mau langsung ke Bandung?"
"Gue mau nginap di sini dulu boleh?"
"Jangan macam-macam ah! Ini kosan cewek!"
"Maksudnya gue mau nginap dulu deket sini. Hotel mungkin. Gue mau mastikan semua aman. Keamanan dan keselamatan lo adalah tanggung jawab gue."
Stevan yang berbicara cukup menggebu, ternyata sang pendengar malah memikirkan hal lain.
Via sedang memikirkan tentang Deval. Tanpa berkata apa-apa Via segera melangkahkan kakinya menuju sebuah rumah kos yang tepat berada di depan gerbang sekolah. Dengan jarak yang tidak sampai seratus meter dari tempat mereka berdiri.
Saat perjalanan, ternyata malah bertemu teman kelasnya. Romi tepat berada di depan gerbang sekolah. Tadi duduk di atas motor, langsung berdiri ketika melihat cewek yang tampak waktu di rumah sakit. Cewek yang ternyata mengaku Marni, tetapi bukan seperti Marni yang dia kenal.
Via melihat Romi yang terus memandang dengan tatapan panjang. Seketika dia mengingat bahwa salah satu alat pelacak miliknya sedang berada di tangan cowok itu.
Bagaimana cara untuk meminta benda itu ya?
Romi hanya terlihat berdiri sendirian. Entah apa yang dilakukannya di sekolah malam ini. Lalu Romi mengeluarkan ponsel dan melihat sesuatu. Romi berjalan ke arah Via dan Stevan.
"Lo itu yang di rumah sakit kemarin kan?"
__ADS_1
Seketika Via terperenjat, "Maksudnya? Lo siapa ya?"
Mata Romi tampak menyipit, memiringkan kepalanya ingin mengingat sesuatu. "Coba ngomong lagi!"
"Apaan sih lo? Aneh banget," bentak gadis itu.
Romi seperti mendengar dengan seksama. Lalu dia seperti tersenyum dan memastikan sesuatu hal. "Lo Marni kan?" tembak dua belasnya.
Kembali Via terkesiap, "Siapa lagi Marni itu?"
Romi seperti mencari sesuatu di dalam jaketnya, sebuah kacamata putih biasa. Lalu dicoba ditilik dari jauh, mengandaikan jika gadis di depannya ini yang menggunakan kacamata itu. Kembali dia mengangguk pasti.
"Lo memang Marni!"
"Bu-bukan..." elaknya.
"Apalagi kalau gugup begitu. Lo memang Marni! Kenapa selama ini lo berpura-pura jadi orang lain?"
"Sebenarnya gue sering mendapati Marni bicara bersama Irin dengan lancar. Namun, di saat bersama orang lain dia langsung menjadi gagap."
"Ternyata aslinya elo tu begini? Jadi benar lo Marni yang gue lihat di rumah sakit?"
"Apa yang lo inginkan dari gue?" bentak Via yang sudah ketahuan bentuk aslinya.
"Apa ya?" dengan senyum sinis tersungging di bibirnya, "Gue akan tetap pura-pura gak tahu, asal lo mau jadi pacar gue! Gimana?"
Mendengar demikian, Stevan langsung menarik tangan Romi, dipelintir, lalu dikunci. "Kamu jangan main-main ya?!"
Aku aja sekian tahun belum memiliki kesempatan, malah enak aja menikung dengan sebuah ancaman.
__ADS_1
"Sakit Bang..., sakit...!"
"Masih berani memperalat dia?"
"Tidak Bang, tidak..., aaampuun!!!"
Stevan melepas kunciannya terhadap Romi. Romi melirik laki-laki tinggi yang ada di dekat Marni cantik itu. Tidak menyangka, Marni memiliki seorang pacar bule yang gagah.
Padahal di sekolah dia asyik sama si culun lemah, ternyata kalau di luar sama bule ini, huh...!
"Apa liat-liat?" bentak Stevan dengan garang.
"E-enggak Bang. Ampun Bang!?" Romi hendak beranjak pergi.
"Tunggu!" cegat Via.
"Apa lagi?"
"Tadi lo ambil benda milik gue bulet pipih bewarna hitam kan?"
Romi tampak sedang berpikir, lalu mengeluarkan sesuatu, "Ini maksud lo?"
Tanpa memberi jawaban, Via langsung merebut benda itu. Untung aja ada Aa yang beresin, kalau tidak mungkin masalah ini bakalan alot gak selesai-selesai, batinnya dengan senyuman kemenangan.
"Ini milik gue, gue ambil lagi." Setelah itu dia berlalu meninggalkan Romi, diikuti lirikan Stevan dengan wajah mengancam.
Via menyeberang, memasuki area kosan Deval. Via kembali terlihat cemas akan sesuatu tentang Deval. Stevan dalam diam mengikuti langkah kaki Via di belakang. Melihat kepanikan dan kecemasan sang pemilik hati, kepada laki-laki lain, membuat perasaannya sedikit demi sedikit terus terluka.
...*bersambung*...
__ADS_1
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...