
"Karena aku baru tahu, kamu tidak secinta itu, tidak seperti aku yang menderita delapan tahun saat kehilangan kamu. Ternyata aku hanya cinta sendiri, sakit sendiri, gila sendiri." Semakin lama, suara Via semakin sayu mengenang masa lalunya yang terus sakit saat ditinggal Deval.
Bahkan, saat mengetahuinya pun aku masih bisa merasakan sakit. Seharusnya tak ada lagi rasa di dunia yang bisa aku rasakan. Aah, apa arwah sepertiku masih bisa merasa kecewa, terluka, dan cinta?
Deval berjalan tepat di hadapan Via, dan menyentuh pundah Via. "Kenapa kamu berpikir begitu?"
"Aku, belum cukup satu tahun sudah menghabiskan semua jatah untuk perjalananku ke dunia. Kamu, bahkan hampir sepuluh tahun, masih belum menghabiskan semuanya---"
Deval menguatkan genggamannya pada bahu Via agar dia bisa berhenti mengucapkan semua kesalahpahaman itu. "Dengar aku dulu!"
Via menatap tepat ke mata Deval. "Aku ingin kamu ingin kamu melihatnya sendiri!" tambah Deval.
Via seperti melintasi waktu saat Deval mengucapkan perpisahan di dalam ambulans yang membawa mereka ke rumah sakit. Ada bayangan Deval yang terlepas dari tubuhnya. Deval tampak bingung saat menyadari dirinya yang terlepas dari raga.
Deval membelai Via dengan semua kata yang tak bisa didengar oleh Via. Deval menyaksikan Via dimarahi dan ditampar oleh ibunya. Melihat Via sangat terpuruk dalam kesedihan. Menemani Via yang sepi sendirian menatapi pelayat yang mengantarkan raganya pada tempat peristirahatan terakhir.
Saat itu lah, Deval ditarik oleh dua makhluk berjubah hitam. Deval terpaksa meninggalkan Via sesaat dan menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan dua malaikat penunggu alam kubur itu.
Setelah beberapa waktu, Deval kembali mencari Via. Via yang mengunci dirinya di dalam kamar tak henti meneteskan air mata di dalam diamnya. Di samping ranjangnya Deval berada menatap Via yang menyembunyikan diri di dalam selimut.
Akhirnya dia bisa melihat isi di dalam kamar Via. Semua peralatan aneh menurutnya, tersusun dengan rapi pada rak yang tersedia. Lantai kamar itu dipenuhi oleh tisu bekas ingus Via yang mengalir saat menangis. Deval menaiki ranjang tersebut dan ikut merebahkan diri memeluk Via yang masih bergetar di dalam selimut.
"Via, kamu harus kuat. Pasti akan ada lelaki yang lebih tepat untukmu. Tentu saja dia bukan pria lemah seperti aku. Di mana-mana, pria lah yang bertugas menjaga wanitanya. Bukan seperti aku yang selalu dan selalu saja menyusahkanmu."
Pintu kamar tersebut entah berapa kali diketuk oleh Sabrina. Via masih tidak bergerak. Deval mencoba bangkit untuk membuka selimut tersebut, tetapi dia tak bisa menyentuhnya.
__ADS_1
"Via, bangun lah! Kamu harus makan! Kamu harus memiliki tenaga untuk menghadapi harii esok yang masih panjang! Jangan begini!"
Namun, tubuh Via masih berguncang dalam diamnya. Deval mulai panik mondar-mandir memikirkan cara agar Via keluar dari kamar ini. Dia mencoba membuka kunci pintu, ternyata masih tak bisa.
Akhirnya Deval memutuskan naik kembali ke ranjang untuk memeluk Via yang berada di dalam selimut itu hingga seseorang datang mencoba membuka jendela kamar tersebut. Via bergerak melihat ke arah jendela. Ada Irin dan Kak Rini berusaha mencoba masuk lewat sana.
Deval tersenyum melihat usaha dua orang tersebut. Deval dalam diamnya terus memberi semangat pada Rini dan Sabrina agar sukses masuk lewat jendela sana. Akhirnya Via pingsan karena dia benar-benar kehabisan energi.
Perputaran waktu terjadi dengan sangat cepat. Deval bergantian menemui orang tuanya yang juga tak kalah hancur saat ditinggalkannya. Deval juga melihat perubahan kembarannya setelah dirinya tidak ada. Devan tampak mencari pelarian atas kesepian ditinggal oleh Deval.
Ternyata, Deval lebih banyak menghabiskan waktu di dunia, dibandingkan di alam penantian selama delapan tahun itu. Hingga di saat hati Via, benar-benar telah beralih dan berhasil direbut oleh Jimmy. Dia tahu bahwa Jimmy adalah kakak kelas yang selalu membuatnya cemburu, karena selalu mencoba mencuri perhatian Via di sekolah.
Di saat itu lah di benar-benar pergi dari sisi Via. Tugasnya sebagai guardian angel telah berakhir, karena telah datang malaikat nyata bagi wanita yang dicintainya ini. Saat itu lah, Deval benar-benar stay di alam penantian. Sesekali melihat kondisi keluarganya.
Deval mengangguk. "Aku bertekad tak akan meninggalkanmu hingga kamu telah berhasil menemukan pengganti diriku. Aku bersyukur, ternyata orang tersebut adalah Jimmy."
Via tertunduk merasa malu. Ternyata, Deval selalu ada di sisinya. Deval, selalu menemaninya. "Apakah kamu tidak marah dan cemburu melihat hubungan kami?"
Deval lalu melihat seluruh bagian dirinya. "Aku ini bukan manusia lagi. Semua rasa sepertinya sama. Yang aku tahu, kamu adalah sosok yang sangat berarti bagiku."
Via meletakan tangan di dada. Namun, dia merasa heran, kenapa dia masih bisa marah dan kecewa. Padahal dia sendiri hanya sebuah arwah yang berkeliaran tanpa arah.
"Karena, nyawamu belum diambil oleh Yang Maha Kuasa. Itu menandakan bahwa kamu masih memiliki kesempatan untuk kembali ke tubuhmu."
Via membesarkan mata, berjalan mendekat ke hadapan Deval. "Benarkah? Kenapa kamu tahu apa yang aku pikirkan?"
__ADS_1
"Aku bukan manusia lagi. Semua yang kamu pikirkan dan ucapkan dalam hati, bisa kudengar dengan jelas. Kejadian ini, pernah terjadi sebelumnya. Ada seseorang yang dianggap telah meninggal, arwahnya kembali ke tubuh."
Wajah Via tampak lega, mendengar penjelasan Deval. Sekarang dia hanya perlu menunggu waktu itu, waktu di mana ia akan kembali ke tubuhnya. Di mana suami dan anaknya menanti.
Beberapa waktu pun berlalu, meski dia tidak bisa melihat keluarganya secara langsung, Deval membantu memberi informasi mengenai keadaan keluarganya di dunia. Deval memberitahukan bahwa Romi berhasil dalam uji coba alat yang diciptakannya untuk membangunkan Via.
Beberapa waktu terus berlalu, hingga tiba lah waktu di saat Via benar-benar merasakan perubahan pada dirinya. Tubuh Via seakan hilang timbul. "Kenapa ini Val?" tanyanya panik.
Deval tampak tersenyum. "Sepertinya mereka telah berhasil menarikmu dari sini."
Via melihat tangannya hilang timbul bagai hologram kehabisan daya. "Val ... Apakah aku benar-benar akan kembali?"
Deval mengangguk mantap. "Kamu harus hidup dengan bahagia. Jangan sia-siakan kesempatan yang telah diberi Tuhan untukmu. Aku akan memantau keluarga kalian sesekali ke sana, sekaligus memantau keluargaku."
Via mendekat pada Deval dan menggenggam tangan Deval. "Terima kasih, Val. Terima kasih atas segala yang telah kamu berikan. Terima kasih telah menemaniku berkelana di dunia yang tidak ku kenal ini."
Deval tersenyum, kali ini senyuman Deval sangat lepas, hingga membuatnya menjadi semakin tampan. "Berjanji lah untuk bahagia di kesempatan kedua ini."
Via mengangguk dan air matanya menetes tiada henti. "Val ... boleh kah aku mengatakan sesuatu?"
"Apakah itu? Katakan lah!"
Via sejenak memejamkan matanya. "Aku bersyukur mengenalmu di dunia. Aku bahagia pernah ada di dalam hidupmu. Aku tak akan pernah menyesal, pernah mencintaimu---"
"Sayang ... Sayang?"
__ADS_1