
Setelah ditolak ajakannya oleh Marni, Jimmy merasakan galau yang luar biasa. Pertama kali tertarik pada lawan jenis, malah ditolak terus. Bagaimana caranya agar bisa lebih dekat lagi dengan dia? Sementara setiap didekati, dia langsung menjauh ☹️
"Sabar Bro…" Gilang menepuk-nepuk pundak Jimmy.
"Saat sudah bener-bener suka, doi malah tertolak…" Kevin menahan senyum simpul.
"Menurut kalian gue kurang nya apa ya?" masih dalam renungannya.
"Maksudnya?" tanya Gilang kurang paham.
"Apa gue kurang tampan?"
"Wkwkwkw…" Gilang dan Kevin seketika ngakak melihat si perfek ngebucinin cewek jelek.
"Jawabannya adalah…"
"Eng…ing…eng…"
"Lo terlalu tamvan…" ucap Kevin.
"Njiirr... gue langsung inget komik sebelah…" celetuknya.
"Wkwkwkkw…"
Kembali Jimmy menoyor kepala Kevin. "Hmmff… Gue tu serius kampret!!"
"Iye.. beneran… Kayaknya dia itu minder kalo deket sama elo kali ya? Makanya nyari yang sejenis, kayak anak culun yang tadi.."
"Huh…jawaban apaan itu?!" rutuknya. Padahal dia tahu sebenarnya di balik Marni itu ada sosok siapa. Lalu memikirkan siapa gerangan cowok culun tadi..
"Ayo kita cabut aja deh! Ngapain juga di sini?"
Lalu trio Kwek Kwek tersebut kembali ke rumah masing-masing, dan kembali Jimmy merenungkan perkiraan apa yang terjadi dengan Via dan sang Papa.
"Hmmm.. lebih baik aku latihan ke Dojo.. mikirin orang yang tidak mikirin kita ternyata rasanya sesakit ini."
Dengan langkah layu, dia menuju tempat latihan taekwondo yang dia geluti, sebagai seonbae (senior).
Membantu junior tingkat dasar membenahi postur, posisi dan gerakan. Selama dua jam setiap empat kali seminggu.
...klik gambar di bawah ini
Saat istirahat, dia mengecek ponsel, ada pesan dari sang ibu yang meminta bantuan untuk mengantarkan berkas yang seharusnya tadi dibawa, namun kelupaan.
[Baik Ma, akan segera aku antar ke rumah sakit]
[Terima kasih ya Nak.. 😘]
Jimmy tergidik dengan emot yang dikirim oleh sang ibu, emangnya aku anak kecil ya.
Jimmy menyudahi latihan hari ini, dan segera kembali ke rumahnya untuk membersihkan diri. Lalu bergegas mencari file yang diminta sang ibu.
"Tuan muda mau pergi lagi?" tanya Berto.
__ADS_1
"Iya, Mama tadi memintaku untuk mengantarkan ini," menggoyangkan file yang sudah dimasukkan ke dalam map.
"Tuan muda mau saya antar?"
"Tidak usah, saya bisa lakukan sendiri…"
"Kalau begitu tuan muda hati-hati dalam berkendara.."
"Baik, terima kasih.. saya jalan dulu.."
Tanpa pikir panjang, Jimmy mencari kunci mobil dan langsung menuju garasi. Sebenarnya dia lebih suka kemana-mana menggunakan motor, namun kali ini membawa benda berharga sang ibu, membuatnya terpaksa memilih roda empat sebagai kendaraan paling aman untuk saat ini.
"Ssss… Macet… Makanya malas bawa mobil.. macet jalanan ibu kota udah kayak sesuatu yang tak akan bisa dielakkan," monolognya sembari memperhatikan kondisi jalanan.
Macet yang panjang membuatnya sampai cukup terlambat dari perhitungan. Seharusnya memakan waktu tiga puluh menit saja, namun saat ini dia harus menempuh waktu satu setengah jam dalam berkendara. Jimmy membelokkan mobilnya masuk ke kawasan rumah sakit swasta yang berprestise tempat sang ibu bekerja.
Bolak balik rumah sakit ini bukan lah hal yang asing baginya. Dia sudah terbiasa dengan tempat ini bersama orang-orang yang ada di dalamnya. Sudah hapal letak ruangan sang ibu bekerja, tanpa pikir panjang langsung menuju ruangan tersebut. Ternyata sang ibu tengah melayani pasien.
Menunggu hingga selesai, dia memainkan ponselnya kembali membuka foto Marni yang tidak sengaja tertangkap oleh Gilang dulu. Huuff.. bagaimana caranya supaya kita lebih dekat lagi? Sementara saat aku berusaha mendekat, kamu selalu berusaha menjauh dariku.
Jimmy disadarkan dari lamunannya saat pintu ruang sang ibu dibuka dari dalam. Yang keluar pertama tampak seorang bule, dengan postur badan yang cukup tinggi.
"Kamu jangan lupa gunakan salep yang saya tuliskan di dalam resep ini sebanyak tiga kali sehari. Antibiotik dikonsumsi sampai habis yaa, sebanyak dua kali sehari. Apabila keadaan kulit kamu makin memburuk, kamu bisa kembali konsultasi ke sini!"
"Sebenarnya saya merasa tidak apa-apa kok Dok…" ucap sang Bule.
"Aa' jangan begitu.. kondisi nya makin parah gitu masih bilang tidak apa-apa…" sahut suara gadis yang masih berada di dalam.
"Benar kata adik kamu ini. Kamu jangan menyepelekan luka bakar akibat air panas ini, kalau dibiarkan, malah kulit kamu akan melepuh dan takutnya akan menjadi infeksi."
"Terus kondisi adik saya tadi bagaimana Dok? Apa ada hal yang harus diperhatikan?"
"Saat ini leher adik kamu mengalami pembengkakan pasca trauma setelah dicekik tadi. Untuk sementara sepertinya kondisinya cukup baik.'
"Hanya saja apabila nanti ada kendala lain beberapa hari setelah ini, saya harap kamu kembali lagi ke sini untuk pemeriksaan lebih lanjut."
"Nanti saat tidur, gunakan saja bantal yang lebih tinggi ya? Terus dikompres dengan air hangat, agar pembengkakannya semakin reda!"
"Baik Dok…" ucap gadis yang di dalam.
Sang ibu melihat Jimmy yang tengah duduk memperhatikan mereka.
"Udah sampai Jim?" sapa sang Mama.
Si Bule yang tak lain adalah Stevan menengok ke arah orang yang dipanggil Jim… Sedikit terkejut, namun langsung ditepisnya seolah tidak mengenal anak itu.
"Iya Ma.." jawab Jimmy.
Alis Stevan naik sebelah, Mama? Berarti ini istrinya Buana Putra donk? batin Stevan.
"Tunggu sebentar ya, Mama selesaikan dulu…"
"Tidak apa Ma, lanjut aja. Aku tidak buru-buru kok…"
"Kalau begitu, jangan lupa resep dan tips yang saya berikan, semoga adik-adik ini bisa segera sembuh seperti sedia kala.." tutup sang ibu.
__ADS_1
Tampak Stevan berbisik-bisik dengan yang di dalam. Jimmy yang terus memperhatikan, merasa gerakan si bule itu semakin aneh.
Kenapa bule itu bisik-bisik? Apa dia kenal sama aku? batinnya.
"Terimakasih kasih banyak dokter.. kami ke apotik dulu untuk menebus resep yang Dokter beri…" ucap Stevan.
"Baiklah.. semoga lekas sembuh.." jawab sang Mama dengan ramah penuh senyuman.
Si bule tiba-tiba menarik sang sumber suara perempuan. Akhirnya Jimmy melihat dengan jelas siapa gadis yang tadi masih di dalam itu.
Itu adalah gadis yang dia renungkan semenjak pagi, yang membuat dia galau sepanjang hari ini, yakni Via.. iya Via.. bukan Marni.. Via yang sangat cantik.
Jimmy hanya terpana tak menyangka gadis yang terus menjauhinya itu, baru saja konsultasi kesehatan dengan ibunya.
Via sempat melirik, ternyata juga terkejut, anak dokter itu adalah Jimmy. Dengan salah tingkah Via yang ditarik oleh Stevan mempercepat langkah menjauh dari sana.
"Aduuuhh Aa…, Berapa kali apes gue hari ini…" celetuk Via.
"Apalagi?" Stevan masih terus menarik Via untuk terus menjauh.
"Jim.. Jim…" Sang ibu mendekati anaknya yang tengah melamun itu. Lalu disentuhnya pundak sang anak, dan anaknya terkejut.
"Kamu melamun? Kamu kenal gadis cantik barusan?"
"Kenapa dia Ma? Aku dengar dia dicekik?"
"Kamu beneran kenal dengan dia?"
"Dia… Hmmm.. Dia…"
Sang ibu menyadari gelagat aneh dari anaknya. "Hmmm… Sepertinya mama tahu siapa dia .." goda sang Mama.
"Hmm.. cantik…" timpal sang Mama mengangguk tipis terus menggoda sang anak.
"Hmm.. apa yang terjadi dengan mereka Ma?"
"Kamu kepo deh… Ini kan privasi, Mama tidak bisa sembarangan memberikan info kondisi pasien pada orang lain…"
"Tapi Ma, aku kan bukan orang lain lho, hanya anak Mama kan.."
"Kenapa.. kamu penasaran..?? Dia baik-baik saja kok…"
"Tapi.. tadi…"
"Kamu beneran suka sama dia?"
Jimmy kembali tertunduk lesu.. "Sepertinya hanya aku saja yang suka ma. Dia nya tidak…" desisnya sendu.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE & KOMENTAR...
...terima kasih...
berhubung otor mendapat surat cinta dari noveltoon.. otor minta kawan-kawan reader ikut singgah di karya otor yang udah tamat yaa..karyanya sepi aja..tapi malah dapat rekomendasi dari noveltoon
__ADS_1