DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Ex.P-11


__ADS_3

Kembali Jason membidik pria yang terus berlari seperti kesetanan. Jason membidik dengan seksama, menunggu waktu dimana Oliver menjauh dari warga yang tengah berhamburan di sekitarnya.


...dooor...


Tembakan dilayangkan oleh Jason. Ternyata hanya mengenai bahu Oliver. Sekali lagi menarik pelatuk senjata api mini itu.


...dooorrr...


Ternyata masih meleset kembali. Oliver menyadari ada orang yang mencoba menembaknya dari jauh. Menahan kesakitan pada bahu yang terkena tembakan, sambil berlindung di tempat yang sekiranya aman.


Jimmy mendapat kesempatan memperpendek jarak dengan Oliver. Akhirnya menarik jubah Oliver dan langsung menghajarnya. Setelah dihajar, Oliver kembali ditangkap lalu dihadapkan tepat di depan Via.


"Sayang, silakan lakukan apa pun yang kamu mau!" Jimmy menahan Oliver yang terus meronta.


Via mengedipkan matanya sambil menyunggingkan senyum sinis, dia mendapat kesempatan menghajar lagi pria brengsek yang berani melumpuhkannya tadi.


"Tapi ingat, jangan berlebihan. Kamu lagi hamil!" tukas Jimmy.


Via melepaskan sepatunya. Memukulkan sepatu bootsnya pada kepala Oliver. "Kali ini rasanya menghajar orang ala emak-emak aku Kak." ucapnya masih sibuk menabok Oliver dengan sepatunya.


"Sekarang kamu sudah jadi emak-emak beneran kan? Demi anak-anak kita yang ada di dalam rahimmu, kamu harus bisa menahan gerakan yang terlalu ekstreem."


Via menghajar Oliver hingga dia merasa cukup puas. Tetapi, kaki Oliver yang jenjang, mengaitkan kaki Via yang sibuk menyerang bagian kepalanya. Via hampir terjatuh. Dengan sigap Jimmy mendorong Oliver, lalu menangkap Via.


"Hampir saja. Kamu tidak apa?"


"Kak, Dia!" Via menunjuk ke arah Oliver yang terengah kabur sembari menekan bahunya yang kesakitan karena tertembak.


Dari jauh, Jason kembali membidik Oliver yang kabur dari pukulan sepatu sang Mama. Jason terus memantau pergerakan Oliver. Mencoba mencari kesempatan yang tepat untuk menembak monster berwujud manusia itu.


...duuuaaarrr...


...duuuaaarrr...


...duuuaaarrr...


Kembali terdengar lagi ledakan dari tempat lain. Sudah empat ledakan yang terjadi. Membuat suasana kota ini jadi semakin mencekam.


"Ini gara-gara ulah kau keparat!" desis Jason yang terus membidik Oliver. "Kau harus segera mati! Kalau kau masih diberi kesempatan, maka gue yang akan mati." gumamnya.


Jason sulit mendapat kesempatan. Karena Oliver sengaja berlari di antara warga lain yang berlarian karena kebingungan. Jimmy juga tidak bisa membidik, takut salah menembak orang lain kembali. Hatinya digelayuti oleh rasa bersalah. Tak sengaja membunuh orang yang tak bersalah.

__ADS_1


Jason masih terus memantau. Hingga akhirnya Oliver berada di dekat jasad pimpinannya, Bruno. Tampak perdebatan dengan beberapa komplotannya yang lain. Jason merasa mendapat sebuah kesempatan.


Dia mulai membidik. Menarik pelatuk ... doooorrr ... peluru melesat dengan tajam, tetapi tembakan meleset kembali.


Oliver yang terkejut, segera bersembunyi di balik sebuah mobil yang terparkir di dekat sana. Dia merampas senjata milik kawanannya yang lain. Mencoba mencari asal tembakan itu dari mana. Akhirnya sebuah senyuman sinis menghiasi bibirnya, sudah berhasil melihat posisi Jason. Dia mulai membidik Jason yang berada di tempat yang lebih tinggi ... dooorrr .... Tembakan meleset. Posisi Jason terlalu jauh.


Jason yang telah sadar keberadaannya telah diketahui oleh pihak lawan, mulai bersembunyi dan berlindung.


...dooorrr...


...dooorrr...


...dooorrr...


Tembakan bertubi-tubi diberikan oleh Oliver. "Orang yang mau mati, pasti akan bergerak sembarangan." desis Jason dengan sinis.


Oliver yang sibuk menembak, tak menyadari kehadiran Jimmy yang semakin mendekat. Anggota mafia yang melihat kehadiran Jimmy, mencoba menghalangi Jimmy dan melakukan perlawanan.


Tanpa berpikir panjang, Jimmy mengokang kembali senjatanya ... cekruk ... dooorr ... cekruk ... dooor ... cekruk ... dooor ...


Tiga kali mengokang, tiga kali menembak, sukses melumpuhkan tiga lawan dengan cepat. Oliver kembali kabur saat anak buahnya tertembak.


Terdengar suara tembakan berasal dari atas sebuah bangunan. Oliver mematung. Tak lama dia roboh. Jimmy melihat siapa yang menembak Oliver. Tampak Jason melambaikan tangannya. Jimmy memberikan jempolnya kepada Jason. Dia melambaikan tangan penuh kemenangan.


Jimmy memeriksa keadaan Oliver. Peluru yang ditembakkan oleh Jason, tepat menembus kepala Oliver. Dia tewas seketika tanpa sempat berkata apa-apa.


Sementara Via tadi terhenti melihat ke jasad Bruno tergeletak begitu saja. Melihat jasad seseorang yang telah membunuh Tosan. Via mengeluarkan senjata yang dia punya.


...dooorrr...


...dooorrr...


...dooorrr...


Dengan membabi buta Via terus menembak jasad itu.


Jimmy melihat asal suara tembakan. Melihat istrinya terus dan terus menembak tanpa henti. Jimmy berlari memeluk istrinya.


"Sudah ... sudah ... hentikan! Dia sudah tidak bernyawa. Sekarang kamu hentikan lah!"


Via melememparkan senjata yang ada di tangannya. Memilih merangkul suaminya. Menenangkan hatinya. Dia teringat, bahwa saat ini dia tengah hamil.

__ADS_1


...duuuaaarrr...


...duuuaaarrr...


...duuuaaarrr...


Kembali terdengar ledakan yang kelima. "Sebenarnya ada berapa titik lokasi yang mereka bom?" tanya Via yang melihat kobaran api sedari jauh.


"Aku tidak tahu Sayang. Aku berharap, semua pihak yang terkait berhasil mengevakuasi masyarakat dari serangan ter*ori*s ini. Mereka semua sungguh biadab. Pantas mendapatkan kematian yang tak beradab." tukas Jimmy.


Selanjutnya terjadi kembali ledakan sebanyak tujuh kali di tempat berbeda. Tidak tanggung-tanggung, bom yang dipasang bukan sekedar satu atau dua, yang bisa dijinakan. Namun, memasangnya di setiap sisi bangunan pada setiap titik.


...***...


Beberapa bulan kemudian, perbaikan akibat ledakan yang dilakukan kawanan ******* berkedok mafia itu telah hampir mencapai finis. Izin Organisasi BOS telah dicabut oleh Presiden negara ini. Hal itu dikembalikan pada perjanjian awal dengan pimpinan negara, yang dilakukan bersama mendiang Tosan Chizuru Sato.


Negara yang bersedia menjadi Kantor pusat Organisasi BOS kali ini adalah Jepang. Hal itu terjadi karena lobi dari Stevan yang hebat.


Jimmy mengundurkan diri menjadi pimpinan BOS. Jabatan itu kembali diserahkan kepada Yudhit, kakak Via. Mau tidak mau Yudhit terpaksa menerima dan memboyong seluruh keluarganya ke Jepang.


Jimmy tidak bersedia meninggalkan negara ini karena dia merasa masih bertanggung jawab pada rumah sakit yang didirikan. Kembali menjalani profesi sebagai dokter di rumah sakit. Via masih tetap menjabat sebagai Direktur di Rumah Sakit.


Kehamilan Via telah memasuki bulan kedelapan. Selama kehamilannya ini, beberapa keluhan yang dia rasakan, terpaksa dipendam sendiri. Menahan kesakitan yang semakin hari semakin menjadi, tanpa memberitahukan keluhannya kepada Jimmy.


Sayang Mama, kalian adalah anak-anak yang hebat. Bahkan, kalian tidak pernah rewel di saat kesakitan yang Mama rasakan, semakin hari terasa semakin menyiksa. Om Romi sudah berjanji membuatkan alat yang hebat untuk menyembuhkan penyakit Mama ini. Semoga, dia segera menyelesaikan penciptaan alat hebat itu.


Via mengelus perutnya, menikmati gerakan dua makhluk hidup yang sudah mulai aktif di dalam rahim. Via memandangi taman hijau di rumah sakit di ruang kerjanya. Via tidak menyadari kedatangan Jimmy. Tiba-tiba sang suami telah memeluknya dari belakang.


Via sedikit terkejut. "Kakak?" Membelai pipi Jimmy yang tengah menyandarkan dagu di bahu Via.


"Kenapa Kamu kaget begitu? Apa yang kamu pikirkan?" Jimmy mengelus perut istrinya dengan kedua tangannya dari belakang.


"Anak Papa jangan nakal ya? Jangan membuat Mama kalian jadi kesusahan." Masih mengelus dua bayi yang berada di dalam rahim istrinya.


"Uhhkk ...." Via merasakan sesak saat mendapat tendangan dari sang bayi yang terasa cukup kuat.


"Kenapa Sayang?"


"Anakmu menendangku. Membuatku merasa kebelet pipis lagi." Via mulai bergerak menuju toilet.


Jimmy yang melihat istrinya yang semakin waktu semakin sering buang air kecil, terkekeh karena merasa lucu. Tak sengaja Jimmy melihat sebuah amplop tanpa keterangan di atas meja kerja sang istri. Dia membuka dan membaca isi pada lembaran surat itu dengan teliti. Tangannya beregetar hebat ....

__ADS_1


__ADS_2