DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
S2-20 Tua


__ADS_3

Via duduk santai di sebuah taman, mencoba mencari rekam jejak beberapa gadi yang dilaporkan menghilang tiba-tiba. Dalam sosial medianya itu banyak tampak pesan yang dihapus oleh pelaku.


Bagaimana mengusutnya ya?


Via kembali mencoba beberapa sosial media gadis-gadis lain yang menjadi korban. Ternyata ditemukan masalah yang sama. Kembali scroll ke atas, ke bawah, tetap saja tidak ditemukan rekam jejak pelalu.


Seandainya saja dulu aku ambil kelas hacker, mungkin semuanya terasa lebih mudah. Gara-gara terbiasa ada Aa' nih, jadi males belajarnya. Eh, sekarang malah jadi orang Jepang.


Tiba-tiba, sebuah pesan dari Otor, masuk ke dalam gadgednya.


Otor: apa kamu menyesal menolaknya Boneng?


Via: tentu tidak ferguso! hubungan tidak selalu berakhir dalam percintaan kan, dasar Otor bukan pemesh, bikin reader harap-harap cemas.. pantas gak pemesh-pemesh


Otor: 😅😅😅😅


"Kakak?" tiba-tiba, seorang pemuda berusia remaja telah berdiri di sebelahnya.


Via melihat, dan mempeehatikannya dengan seksama. Wajah itu, mirip wajah yang pernah dia kenal.


"Kakak lupa denganku? Kakak adalah teman kakak tampan yang menyelamatkan aku dulu kan?"


Kembali Via mencoba mengingat, kakak tampan, Deval. "Kamu Udin ya?" sebuah senyuman merekah di bibir Via, menepuk-nepuk lengan remaja itu.


"Ternyata kakak ingat?!" ucapnya sumringah duduk di bangku panjang. Via tersenyum simpul dan mengangguk.


"Waaah, Kakak sama sekali tidak berubah yaa. Setelah delapan tahun masih tetap sàma." Udin mengedarkan pandangan ke segala arah.


"Apa kakak masih sama kakak tampan itu?" Via hanya menggeleng tipis, tersenyum kecut.


"Kenapa Kak? Dia selingkuhi Kakak?" kembali menggeleng, dan tertunduk.


"Sekarang udah delapan tahun ya, pastinya segala sesuatunya telah berubah." Via mengangguk pelan.


"Kenapa Kakak sesedih itu? Kan banyak cowok lain? Ini kalau tidak ada yang mau sama Kakak, biar aku jadi bronisnya Kakak."


Via tersenyum, menepuk-nepuk lengan remaja itu, melihat waktu di jam tangannya. "Kamu nggak sekolah?"

__ADS_1


"Oooh, aku..., aku udah tamat semester lalu Kak."


"Terus kegiatannya saat ini apa?"


"Aku jadi pegawai mini market sejuta umat aja Kak," menunjuk tempat dia bekerja.


"Kamu berminat lanjut ke perguruan tinggi nggak?"


"Minat sih Kak, tetapi kami tidak memiliki biaya."


"Nanti saat tahun ajaran baru, kamu daftar kuliah ya?"


"Kami tidak memiliki biaya Kak, sedangkan Mak hanya jualan jamu gendong keliling kampung saat ini."


"Waah, Mak Iroh jualan jamu?"


Udin mengangguk, "Setelah kejadian kebakaran dulu, ada pihak asing datang membangunkan kami sebuah gedung rumah susun. Rumah itu bisa kami huni secara gratis hingga sekarang Kak. Jadi kami tidak terlunta-lunta lagi tidur di kolong jembatan."


"Waah, bagus dong." ucap Via. Itu adalah permintaannya kepada sang ayah saat telah sembuh dari depresi kehilangan Deval. Beruntung sang ayah mau memenuhi keinginan Via. Jadi bisa memberikan rumah layak huni bagi warga yang belum beruntung.


"Ini mencoba mencari-cari informasi saja."


"Udiiin!!!" teriak seseorang dari arah mini market.


Via dan Udin serempak menengok ke asal suara. "Wah, pengawasku itu Kak. Aku ke sana lagi ya?"


"Bolos kerja, pantas ditegur," Via terkekeh. Setelah itu, Via pun beranjak dari sana.


Berjalan menyusuri pertokoan di daerah itu. Tepat di depan sebuah butik, tampak sebuah gaun pengantin putih yang sangat indah. Via terpana akan keanggunan pakaian itu cukup lama. Membayangkan dirinya dalam balutan pakaian mewah itu. "Cantik," desisnya.


Setelah itu dia melanjutkan perjalanan. Via menyeberang jalan yang memisahkan antara gedung satu dengan gedung lain. Tak sengaja dia melihat sekelompok anak-anak berseragam sekolah tengah merokok, ada yang duduk di atas motor, ada yang jongkok, ada yang bersandar.


Terserah lah, mau sekolah atau tidak bukan urusanku. Yang pinter tentu tidak seperti itu. Kembali Via melanjutkan perjalanannya.


......plaaaak......


Sebuah kaleng minumang cola mendarat di kepalanya. Beruntung dia menggunakan topi. Lalu menoleh siapa pelaku yang melemparkan botol itu. Tampak anak-anak sekolah tadi yang diperhatikannya tengah berdiri dengan jari mereka terjepit di kantong celana.

__ADS_1


Anak bau kencur tak tau diri mau mencari masalah ternyata.


"Hahaha, Lo barusan melotot pada kami kan?" ucap salah satu dari mereka yang mungkin sebagai pimpinan geng abal-abal.


Kurang ajar nih bocah!


"Kenapa? Takuut?"


Salah satu dari mereka mendekat, berjongkok melihat wajah Via dari bawah. "Weeeii... cantik Broo...!"


"Siapa?"


"Nih, dia cantik nih!" Dengan tidak sopan dia mengambil topi Via. Via melirik pelaku dengan tatapan sinis. "Topinya keren, ada tulisan FBI-nya!" Langsung dikenakan di kepalanya.


Salah satu anak mendekat, menilik wajah Via lekat-lekat lalu mengangguk. "Lo cantik juga, tapi udah tua." Seketika kaki Via melayang tepat di depan wajahnya, membuat dia sangat terkejut dengan refleks memalingkan wajahnya.


"Apa kau bilang? Tua?"


Anak itu kembali memperbaiki posisinya, melirik kawan-kawannya dengan perasaan malu. "Lo boleh juga, kakak tua!"


Kaki Via yang masih melayang tadi, diputar laku menempeleng muka anak itu dengan ujung kakinya. Kawan-kawannya menutup mata mereka dengan tangannya. "Aaauuhhkk," desis mereka seolah merasakan sakitnya.


"Dasar cewek sialan!" ucapnya mencoba mendorong kaki Via yang masih melayang di depan wajahnya.


......plak......


Sekarang giliran pipi sebelahnya lagi yang mendapat tamparan di ujung kaki Via. Via mengangkat dagunya seolah menantang anak-anak nakal itu.


"Hei! Kalian! Jangan nonton aja! Bantuin gue!"


"Mau main keroyokan ni? Sama orang yang udah tua?" sindir wanita tua itu.


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...


...terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2