
Aura memutar badan, melihat seseorang akan menerkamnya. Aura menarik tangan pria itu, langsung berputar masuk ke bagian dada dan menyerang menggunakan knukcle yang sudah melekat di jemarinya.
"Uughhh ..." Marcell melenguh terdorong ke belakang mendapat tinju besi dari Aura.
"Kau pikir aku ke sini untuk menyerahkan diri?" Aura memperkencang kuda-kuda dan memperkuat kepalan tinju di tangannya.
Via langsung berlari dan melompat memberikan tendangan mataharinya kepada pria yang bernama Marcell. Namun nahas, Marcell menangkap tendangan itu dan memutar lekuk kaki Via hingga Via jatuh terhempas ke lantai.
Aura membantu Via untuk bangkit kembali, lalu berdiri di posisi paling depan. Aura mengepalkan tinju besinya yang siap-siap dilayangkan pada Marcell. Pria itu menyeringai menangkap pukulan Aura. Dengan impulsif memukulkan tinju Aura pada pipinya sendiri.
buuugh
buuugh
buuugh
"Udah puas? Ayooo pukul lagi jika itu membuatmu merasa puas!" Marcell masih memukulkan kepalan tangan Aura kepada dirinya.
Via tidak melewatkan kesempatan ini. Dia segera menarik alat kejut listriknya untuk memberikan serangan akhir pada Marcell. Marcell melihat ada wanita yang memiliki senjata berbahaya, mengeluarkan sen jata api yang diselipkan pada pinggang celananya. "Kita lihat dulu, yang manakah yang bekerja lebih cepat?"
__ADS_1
Marcell membekap Aura dengan menodongkan senjata tepat di pelipisnya. "Jika memang kita tak bisa bersama, lebih baik kau mati saja! Apalagi setelah kau hapus program yang telah aku rancang sedemikian rupa, maka tak ada lagi tempat yang layak bagimu selain di neraka! Mati lah bersama bayi yang ada di dalam kandunganmu! Sampaikan salamku kepada si pengkhianat Jendra!"
Via melihat pergerakan seseorang dari luar. Marcell siap-siap menarik pelatuk pada senjata api yang dia pegang. Mata Via melirik ke pada seseorang yang bersembunyi tak jauh dari mereka.
doooor
Sebuah senjata jatuh terlempar. Tangan Marcell menegang mendapat tembakan tepat di bahu di mana tangannya memegang senjata tadi. Via mendahului Marcell mengambil senjata tersebut.
Via memulas senyum smirk pada Marcell. "Kamu tahu, kamu itu sangat mirip dengan pria gila dari Italia dulu. Kalau dibiarkan tetap hidup, kau tak akan berhenti melakukan hal yang sama. Maka kematian lah jawaban yang pantas untuk segala kelakuanmu itu."
Marcell kembali menyeringai. "Siapa kau wanita gila? Aku tak menyangka ada yang lebih gila dariku seperti ini."
Via mencoba menarik pelatuk pada senjata yang ditariknya tadi. Beberapa detik kemudian, Marcell terjatuh. Tembakan yang dilayangkan oleh Jason tadi adalah tembakan bius yang sudah direncanakan semenjak awal. Aura sudah terlepas dari dekapan Marcell.
"Kamu mengingatkanku pada masa mudaku yang sangat menggebu," ucap Via kepada klientnya kali ini.
Kedua tangan Marcell diborgol oleh detektif yang memiliki pasukan mafia ini. Setelah itu, para pria berbondong-bondong mengangkat tubuh Marcell yang telah tak sadarkan diri. Tidak hanya itu, kedua kaki Marcell juga diikat dengan borgol. Sehingga membuat pria itu benar-benar tidak bisa bergerak.
Setelah penangkapan tersebut, Via meminta Aura untuk menunjukan lokasi pembunuhan yang menjadi tempat mereka disandera sebelumnya. Aura menunjukan alamat tersebut. Via mulai menyidiki dan mencoba mencari bukti yang bisa memberatkan pria ini.
__ADS_1
"Karena bukti sekedar ucapan dari saksi saja tidak membuat Kapten arrogant tersebut bergeming, maka kita membutuhkan bukti yang autentik. Bukti yang bisa menyumbat mulut si tuan kapten sombong itu."
Aura pun mencoba mencari sesuatu yang membuktikan keberadaan Marcell di ruangan ini ketika terjadinya pembunuhan. Entah dalam beberapa saat Aura masih mencari-cari, Via mengajaknya untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Kok udah aja?" tanya Aura masih bingung mencari sesuatu.
Via memamerkan sesuatu di dalam kotak kecil bewarna bening. "Sepertinya aku sudah bisa menemukan satu bukti dan alibi yang digunakan oleh pelaku."
Via berjalan dengan segera meninggalkan ruangan tersebut. Saat menuju kendaraannya, ternyata mereka menemukan Romi tak sadarkan diri dengan luka di kepala. "Apa yang terjadi?"
Tiga orang lagi tidak ada di tempat. Dino, Jason, dan Dery entah hilang ke mana. Via berkeliling mencari mereka, namun tak ada tanda-tanda. Via memeriksa tempat di mana Marcell tadi terikat, kedua borgol yang digunakan untuk mengikat laki dan tangan Marcell sudah lepas.
"Dia benar-benar sangat licin. Harus bagaimana cara kita menangkapnya?" Via mengepalkan tangannya. Lalu mencoba menyadarkan Romi yang masih tertidur.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
Via menepuk pundak Aura. "Jangan terlalu kamu pikirkan. Ini sebagai bukti bahwa dia adalah penjahat kelas kakap."
Via menghubungi Jimmy, suaminya. Meminta menurunkan pasukan perang para anggota mafia yang dimiliki untuk membantu menangkap satu orang yang selalu berhasil melarikan diri ini.
__ADS_1