DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
S2-1 Menemukanmu


__ADS_3

Delapan tahun kemudian


"Its show time!!!" lalu wanita cantik itu melempar korek api di sebuah cairan yang berpusat pada sebuah mobil yang terbalik. Wanita itu berjalan dengan penuh percaya diri meninggalkan api yang menyala semakin mendekati mobil itu. Tak lama mobil itu membara.


DUUUAAAARRRR...


Mobil meledak tepat saat wanita itu telah jauh. Hal selanjutnya yang dia lakulan ialah mengejar gembong perjudian online tingkat internasional.


Mereka telah banyak merugikan masyarakat dunia lewat permainan game yang berujung menjadi perjudian. Meminta para gamers untuk mentransfer sejumlah uang agar bisa terus naik level hingga ke tingkat berikutnya.


"Papa! Akhirnya...! Pergerakan kita terendus oleh mereka..." ucap sang kaki tangan kepada big boss mereka.


"Bagus! Ini adalah tujuanku selama ini. Mencarinya yang tiba-tiba menghilang begitu saja. Ini bisa memancingnya untuk kembali pulang!" ucap seorang pria dengan senyuman puas.



"Ternyata selama ini kamu sembunyi di sini. Akhirnya aku bisa menemukanmu," menatap sebuah foto gadis kumal berkacamata sedang menatap orang bermain basket.


Akhirnya, Gembong judi online itu berhasil kabur dan kembali ke negara asalnya. Sang wanita detektif meninju dinding dengan sangat keras karena merasa marah, akibat telah gagal menangkap mereka.


"Awas kalian! Aku tak akan sampai di sini saja!"


***


Di sebuah ruang kantor, berlabel Federal Bureau of Infestigation (FBI), tampak seorang wanita yang memiliki kaki jenjang, rambut diikat ekor kuda, tengah memilah-milah laporan informasi yang baru saja didapatkannya.


"Hmmm, sejak kapan negara itu mencetak penjahat kelas dunia seperti ini?"


Kembali dia teringat akan masa lalunya delapan tahun silam. Dimana dia dibawa oleh keluarganya kembali ke Singapura untuk pengobatan depresi yang dia alami. Sehingga setelah dia pergi, organisasi BOS cabang negara itu terpaksa dipimpin sementara oleh Stevan.


Kepeminpinan sementara itu, diambil alih saat Yudhit menikah dengan tunangannya. Sementara Stevan memilih pindah ke Jepang. Dia merasa sia-sia di Indonesia karena sudah tidak tidak ada lagi gadis yang dicintainya.


Via melanjutkan sekolah di Singapura usai berhasil sembuh dari depresi. Usai menamatkan hight scool, dia meminta izin untuk melanjutkan pendidikan sekolah menyelidik di Jepang.


Stevan sangat bahagia bertemu gadis remaja yang mulai beranjak dewasa itu. Semakin dewasa, Via terlihat semakin memesona dan tingginya pun sangat proporsional dibanding dulu.


Stevan dijadikan Staff Penelitian dan Riset di Organisasi BOS di negara sakura. Setiap hari dia mengunjungi Via, yang ditemani oleh ibunya. Ibunya memilih pensiun agar bisa menemani putrinya di negara itu. Sang ibu tak ingin lagi hal yang sama terjadi pada gadis yang dicintainya itu.


Saat merasa tidak dapat lagi menahan perasaannya, Stevan memilih untuk menyatakan perasaannya kepada Via. Seperti yang telah dia duga, Via sama sekali tidak memiliki perasaan cinta kepadanya.

__ADS_1


"Aa! Jangan pernah mengatakan itu lagi! Aku sayang pada Aa, selayaknya aku menyayangi Kak Yudhit! Aku tak ingin lagi dekat dengan siapa pun. Cukup lah hubungan yang kita jalani, selayaknya hubungan biasa yang kita lalui seperti yang sudah-sudah...--"


"Tapi Vi..., aku sudah mencintaimu semenjak dulu. Kenapa kamu tak pernah melihat aku sebagai seorang pria?!" sela Stevan yang terus mencoba agar Via mau menerima cintanya.


"Aku akan ke Amerika! Aku lolos seleksi online menjadi anggota FBI. Jangan hubungi aku sebelum Aa berhasil mengubah perasaan itu!" lalu Via pergi meninggalkan Stevan dengan perasaan hancur berkeping-keping.


"Begitu mudah kamu berbicara seperti itu Vi. Ini tidak mudah bagiku yang sekian lama berharap agar hatimu bisa kurebut dari alm. Deval. Tetapi, masih saja kau menganggapku tak lebih dari sebatas kakak." lirihnya menatap pantai yang menghempas di wilayah bekas tsunami beberapa tahun lalu.


***


drrrtt... drrrttt... drrrrttt...


Dengan rasa malas, tubuh yang lelah luar biasa, dia baru merasakan nikmatnya bermimpi selama dua jam. Menurunkan selimut yang menutup seluruh tubuhnya itu hingga ke dada. Meraba-raba nakas di samping tempat tidurnya, melihat di layar benda pipih itu berlabel Aa Bule.


"Hmmm, ya Aa?" dia bangkit mendudukkan tubuhnya. Mulutnya menguap, rambutnya digaruk karena sedikit kesal mendapat telepon dari orang itu.


"Selamat ulang tahun Sayang! Waah, bocah nakal dulu sekarang telah berumur dua puluh empat tahun yaa?"


"Iya, Aa udah tiga puluh tahun kan? Nikah dulu sanah! Kurang tua apa lagi tuh, udah segitu belum juga kawin-kawin!"


"Iya, aku nunggu seseorang di Amerika pulang dulu! Baru aku akan menikah!"


"Kasihan Sumire ah! Nikah aja dulu sanah! Nanti akan aku kirimkan kado pernikahan istimewa untuk kalian!"


"Hmmm, aku tertarik pada sebuah kasus juga nih Aa. Aku harus ke Jakarta mengejar gembong judi online yang sangat besar. Tak kusangka negara kita memiliki penjahat kelas dunia juga?!"


"Iya, aku tahu. Organisasi BOS cabang Indonesia memang tengah sibuk mengusut mereka. Aku juga kurang paham sih, karena aku sendiri masih di Jepang...---"


"Bakalan jadi orang Jepang untuk selamanya tuh. Nikah sama artis terkenal negara itu."


"Hahahaha, untung saja kamu menolakku dulu ya. Ternyata takdir menyiapkan seorang artis untukku...!"


"Syukur lah kalau Aa bahagia dengannya."


"Kamu cemburu nih? Kalau tidak rela, aku akan tinggalkan dia deh. Aku pilih kamu saja! hahaha...!!!"


"Nih...!!! siap-siap terima hak sepatuku melayang dari sini!!! Nanti aku telepon Sumire yaaa...?!"


"Jangan! Jangan! Aku becanda doang ah!"

__ADS_1


"Hihihi, seneng deh lihat Aa ngebucin kayak gini!"


"Neng, iiihh..., greget banget sama ni anak!!! Nggak sadar-sadar juga apa yang selama ini telah aku lakukan untuk kamu. Itu semua karena aku cinta sama kamu lhoh?"


"Yang mana?" tanya wanita itu cuek. Lalu panggilannya terasa ada yang mengganggu. Dilihatnya lagi ada panggilan dari Tosan.


"Aa, Tosan menelepon. Udah dulu ya? Terima kasih udah jadi orang pertama yang mengucapkannya padaku."


"Ooke, hati-hati dan jaga kesehatan yaah!"


Tanpa menjawab, Via langsung mengangkat panggilan itu. "Halow Tosan."


"Moshi-moshi Via-chan, omedetou gozaimasu...!!!" ucap sang ayah dengan semangat.


"Tosan Arigatou..."


"Tadi sedang menelepon siapa? Jadi bukan Tosan yang mengucapkan pertama kali?"


"Hehehe, sayang sekali bukan Tosan yang pertama. Yang pertama kali mengucapkan adalah Aa Stevan...! Selamat... Tosan jadi yang kedua!"


"Aaaduuh, Tosan kalah. Tapi tidak apa, masih peringkat kedua. Jadi kamu harus menuruti keinginan Tosan ya?"


"Hmmm, jangan lagi deeeh!" sungutnya.


"Yak, tepat sekali!"


"Tapi Tosan, aku belum siap kembali ke sana. Terlalu banyak kenangan di sana...!"


"Sudah lah! Kamu bukan lagi remaja rapuh seperti dulu. Masa anggota intelligence kelas dunia kalah sama masa lalu?" sindir sang bapak.


"Weeww..., mulai lagi deeehh? Apa hubungannya coba?" sungutnya.


"Sudah lah! Sekarang kamu layangkan surat resign di sana! Organisasi BOS cabang Indonesia sangat membutuhkan kamu!"


"Kan udah ada Kak Yudhit?" herannya.


"Kakakmu itu kurang pengalaman dalam pekerjaan ini. Bahkan dia lebih mendahului Biro Hukum yang didirikannya untuk masyarakat kurang mampu! Buang-buang waktu dan duit saja kerjaannya...!" cetus sang ayah dengan nada kesal.


...*bersambung*...

__ADS_1


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...


...terima kasih...


__ADS_2