
Ketika masih sibuk beres-beres hendak pulang, terdengar suara yang sangat ramai dari luar. Irin mencoba mengecek asal suara seperti hendak berdemonstrasi itu. Alangkah terkejutnya ia, ternyata yang datang adalah kawan-kawan sekelas mereka. Berlari cukup cepat, Irin segera menghadap ke Via.
"Gawat Vi, kawan-kawan kelas pada mau nengok ke sini!"
"Apa? Waduh, gimana ini? Gue lagi gak ready alat-alat jadi Marni. Kacamata juga entah hilang dimana."
Deval yang melihat kepanikan sang gadis pujaan hati, mencoba menenangkannya agar tidak diambil pusing. Lalu Deval pamit untuk pergi sebentar.
Mencoba memikirkan jalan keluar, tapi malah ujung-ujungnya buntu. Sementara orang tua Via tengah sibuk mengurus administrasi, ikut heran mengapa anak gadisnya tiba-tiba menjadi panik. Apalagi Via tidak memiliki ruangan tersendiri sebagai tempat untuk menyusun aksi selanjutnya. Apakah hari ini dia akan terciduk oleh kawan-kawannya?
Akhirnya kawan-kawan mereka mencoba untuk masuk. Tapi terlihat dihalangi oleh security, karena instalasi gawat darurat ini untuk menangani keadaan urgent, apabila yang datang seramai itu, maka akan mengganggu proses tindakan pada pasien yang dalam keadaan darurat.
Tak lama Deval, berlari kecil membawa sebuah sarung dan kacamata hitam. Sorot mata Via secara tidak langsung menanyakan kegunaan benda-benda tersebut. Deval langsung memasukkan kepala Marni ke dalam sarung, lalu memasangkan kacamata hitam yang dibawanya tadi.
"Nah, nanti di dalam sarung aja."
Waaah, tak terpikirkan olehnya cara seperti itu. Lalu dia duduk di bangku yang berjejer, menyembunyikan wajahnya di dalam sarung. Dari arah luar, mungkin security mengizinkan beberapa orang saja yang masuk. Sialnya, Dino termasuk orang yang ikut menengoknya masuk ke dalam, diiringi oleh ketua dan bendahara kelas.
Dino melihat posisi Irin berdiri, dekat dengan dua cowok kembar dan satu lagi orang yang tengah duduk dalam sarung. Dino, ketua, dan bendahara segera melangkahkan kaki mereka ke sana untuk menghampiri Irin. Sambil melihat ke segala penjuru, mereka menanyakan keberadaan Marni.
"Ini yang dalam sarung siapa sih? Lagi demam ya?" celetuk Dino.
Namun tidak ada yang memberi jawaban atas pertanyaan Dino tersebut.
"Marni dimana?" kembali dia mengulang pertanyaannya.
"Tepat di depan Lo," ujar Irin. Dino terbelalak mengetahui kenyataan yang dalam sarung adalah Marni, yang tak terlihat sedikitpun wajahnya.
"Gagu, ngapain Lo siang bolong gini sarungan?" tanya Dino.
__ADS_1
"Iya nih, apa nggak panas?" tanya ketua kelas.
"Babadan gugue jajadi memeriang gagara sasasakit," ucap Marni.
"Bener juga ya, kalau abis kecelakaan itu badan berasa meriang," timpal ketua kelas.
Dino merasa sudah menang dari pertandingan tadi, memiliki rencana besar untuk mengerjai Marni. Sesuai kesepakatan bagi yang kalah.
"Gue gak tahu ini waktu yang tepat atau tidak, tapi gue hanya sekedar mengingatkan bahwa nanti di sekolah, Lo harus siap-siap jadi kacung gue selama sebulan."
Deval yang mendengar itu, melirik tajam pada rival pujaan hatinya ini. Dia merasa ingin segera menenggelamkan Dino ke dasar bumi agar mulut nya itu tidak bisa berbicara lagi dan terus mengganggu Via, maksudnya Marni di sekolah.
Dino yang sadar akan dirinya tengah diperhatikan dengan tatapan tajam, ikut menatap tajam pada Deval.
"Waah.. ternyata ini si culun?" Dino menantang tatapan Deval.
"Apa lihat-lihat? Naksir?"
"Biarin, itu sebuah kesenangan tersendiri buat gue. Kenapa? Masalah?"
"Caper," ucap Deval dengan dingin. "Jadi Lo caper sama Marni? Suka sama dia?"
"Iiih, Ogah gue. Kayak nggak ada yang lain aja? mending gue sama Irin," elak Dino.
"What?" pekik Irin menyela. "Sorry la ya, Lo itu jauh dari tipikal idaman gue." ucap Irin dengan tegas.
Dino diam-diam terus melirik orang yang di dalam sarung, kemulan, dan tak tampak sedikit pun apa yang telah dia sembunyikan. Terniat untuk menarik sarung tersebut, tiba-tiba dia dijewer oleh seorang pria dewasa yang atletis dan gagah.
"Aduh aduh..." pekiknya kesakitan lalu mengelus kupingnya tersebut. Mencabikkan mulutnya melirik siapakah orang ini, tiba-tiba ikut nimbrung bersama mereka yang masih remaja.
"Kamu mau apa?" tanya nya dingin, sambil mengelus orang yang tengah kemulan dalam sarung.
__ADS_1
"Om sendiri kenapa ikutan nimbrung di sini? Ikut-ikutan aja sama urusan anak sekolah."
Lawan bicaranya menyunggingkan senyum smirk lagi. "Sejak kapan saya jadi adik ibu kamu? Panggil-panggil saya om segala?" yang ditanya hanya melihat pria muda gagah ini, sambil bersungut di dalam hati.
"Kalau kamu mau macam-macam sama adik saya, jangan salahkan saya jika kamu orang yang berikutnya masuk ke tempat ini."
Wajah ketua kelas, bendahara, dan Dino langsung menegang mendengar ucapan pria ini. Terkejut dan tidak percaya, bahwa dia ini kakaknya Marni. Bukan kah Marni itu anak tukang kue? Kok kakaknya elite begini?
Bendahara pun meminta maaf atas kenakalan yang dilakukan Dino. Berasa ingin langsung berkenalan dengan Om-om yang masih muda ini. "Kakak, kami ini temannya Marni di sekolah. Kita ini semua satu kelas," masih dengan mata berbinar, terharu ternyata bisa ketemu sugar Daddy di rumah sakit.
Sementara sang kakak merasa geli, mengapa nama yang diambil sampai sekeren itu? Kenapa nggak Surti atau Ijah sekalian, batinnya yang tidak memedulikan tatapan kagum gadis seusia dengan adiknya ini.
"Apa benar kakak ini kakaknya Marni?" tanya sang ketua kelas yang merasa sangat tidak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya.
"Kenapa kalian sama sekali tidak mirip?"
Yudhit masih tidak memedulikan celotehan para remaja yang penasaran ini. Lalu duduk di bangku kosong, di sebelah anak yang tengah kemulan di dalam sarung. Lalu merangkul gadis yang masih asik di dalam sarung.
"Nah, kalian sudah melihat Marni bukan? Sudah cukup puas dengan hasil perlombaan hari ini?"
Deval mengambil alih pembicaraan, seakan memahami bahwa kakak Via tidak tertarik meladeni mereka, seperti yang telah dilakukan padanya tadi.
"Kami sekelas tadi mengumpulkan dana bantuan untuk Marni tadi Kak. Untuk membantu meringankan biaya perawatan, jika seandainya Marni harus dirawat di rumah sakit." Mengeluarkan sebuah amplop yang berisi hasil patungan teman-teman sekelas mereka yang tadi menonton perlombaan balap motor. Melihat amplop tersebut, Yudhit kembali tersenyum smirk, dan tidak habis pikir adiknya menyamar seperti apa di sekolah hingga semua kawannya bersikap seperti ini.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...
__ADS_1