DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
S2-18 Kesempatan dalam kesempitan


__ADS_3

Jimmy yang baru saja sampai di bagian paling puncak gedung ini, setelah bertanya ke sana ke sini dimana letak kolam renang gedung ini. Mendapati gadis itu menceburkan diri ke kolam setelah melempar kedua tongkatnya.


Jimmy segera melepas sepatu dan jas yang dikenakannya, ikut menceburkan diri masuk ke dalam kolam itu. Menemukan dua orang yang tengah tenggelam, akhirnya memutuskan menyelamatkan anak kecil terlebih dahulu.


Lalu terdengar lagi ada yang menceburkan diri, ikut menarik Via yang tengah terpemdam di dasar kolam. Jimmy mengangkat anak kecil itu dan memberikan pertolongan pertamanya. Tampak seorang pria berlari ke arah Jimmy melihat kondisi anak itu.


"Rayan..., Rayan...?" dia memanggil dengan nada khawatir.


"Anda ini ayah dari anak ini?" Pria itu mengangguk.


Jimmy hanya menatap tajam, terus menekan-nekan dada sang anak kecil dengan cepat. Memberi nafas buatan, kembali melakukan tindak CPR. Dia melirik seorang yang mengangkat tubuh kekasihnya itu dari dalam kolam.


Sampai di luar kolam, Via langsung terbatuk-batuk meringkuk di tepian kolam. Jimmy melihat keanehan pada diri Via. Melihat dengan jelas siapa yang menyelamatkan Via. Berusaha menenangkan gadis itu yang terlihat seperti orang mabuk.


Jimmy masih sibuk memberi bantuan kepada anak kecil ini, dan akhirnya anak kecil itu terbatuk-batuk. Dia segera membantu membalikkan tubuh anak kecil, sehingga anak itu menumpahkan semua air yang ditelannya. Jimmy segera menyerahkan sang anak kepada ayahnya.


Jimmy mendorong pria yang mencoba menenangkan kekasihnya itu. Mendapat perlakuan seperti itu, Romi tertegun. Via masih meringkuk dalam sesaknya. Jimmy segera membopongnya menjauh dari kolam.


Setelah merasa cukup jauh, Jimmy menurunkan Via ke atas lantai. Via langsung terduduk memeluk Jimmy. Dia menangis sejadi-jadinya merasa sangat ketakutan. Jimmy pun memeluk dan menenangkannya.


"Kita sudah jauh dari sana, kamu tenang lah?!" ucapnya sembari mengelus kepala Via.


Romi melihat itu hanya bisa diam membisu dan lesu. Mengambil kembali sepatunya dan hendak beranjak pergi dari sana.


"Nanti kita harus bicara!" ucap Jimmy dingin, namun Romi terus berjalan dengan tertunduk.


Jimmy masih menenangkan Via, nafasnya masih tersengal-sengal. Memeluknya dan menepuk-nepuk pelan punggungnya.


"Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa anak saya." Ayah anak itu sudah berada di dekat mereka. Sang anak berada dalam gendongannya.


"Jangan pernah meninggalkan anak Anda saat berada di tempat berbahaya seperti itu. Beruntung masih cepat diselamatkan. Jika telat sedikit saja, mungkin Anda harus bersiap-siap untuk kehilangannya."


"Maafkan saya, tiba-tiba ada urusan mendadak, saya kembali ke rumah untuk sesaat. Saya janji tidak akan melakukan hal demikian lagi."


"Berterima kasih lah pada gadis ini! Meski dia memiliki troumatik tersendiri terhadap air, tetapi dia tetap berusaha untuk menyelamatkan anak Anda."


Namun orang yang dibicarakan masih dalam keadaan yang kurang baik. "Maafkan saya, Dek? Terima kasih sudah mencoba untuk menyelamatkannya. Saya terlalu ceroboh sebagai orang tua. Hingga kamu juga menjadi seperti ini."


Via masih belum bisa menjawab apa yang disampaikan oleh ayah anak tadi. "Kalau boleh tau kalian tinggal di lantai berapa? Kalian pasangan baru menikah kan?"

__ADS_1


"Ekheeemm," kerongkongan Jimmy langsung terasa tercekat. "Kami akan segera menikah, sebentar lagi."


"Oh, saya pikir kalian ini suami istri, terlihat sangat dekat. Dia tinggal di lantai berapa?"


"Sepuluh."


"Nomor?"


"Satu nol satu nol."


"Baik, lah. Nanti kami akan mampir ke sana. Semoga calon istrinya segera membaik. Sekali lagi terima kasih," lalu mereka pergi meninggalkan tempat itu.


Nafas gadis itu sudah mulai teratur kembali. Jimmy masih bingung memanggilnya dengan apa, Coba aja, batinnya. "Sa-sayang..., kamu udah baikan?" Namun, Via masih belum merespon. Dengan gemas, dia memeluk Via, "Pengen aku gigit!" celetuknya.


......bugh......


Sebuah tinju melayang pada paha Jimmy. Dia terkekeh, mengetahui gadis itu telah nembaik. Dia hanya mengelus bekas bagian yang ditinju gadis itu, sakitnya terasa lumayan.


"Walau keadanmu kurang sehat, tetapi tetap saja tenagamu sekuat ini," kembali membenamkan Via ke dalam pelukannya.


Via mendorong, "Curi kesempatan dalan kesempitan ya?" sungutnya.


Jimmy hanya mengacak rambut Via yang basah, "Udah tau nggak pandai berenang. Masih aja nyebur."


"Ya tau. Kamu lupa bahwa aku seorang dokter?"


"Boleh aku tarik pipinya?" tanya Via yang merasa gemas.


"Jangan! Nanti wajahku rusak!"


"Wajah plastik!" sindir gadis itu mencabik.


Jimmy menarik pipi Via, "Kamu mau begini kan? Biar aku aja yang begini ke kamu." Lalu dielusnya kembali.


"Udah ah, kita balik! Keburu masuk angin!" ucap Jimmy membantu Via berdiri.


Jimmy menyiapkan punggungnya untuk menggendong Via kembali. Lalu menjemput benda-benda milik mereka.


"Kamu yang pegang!"

__ADS_1


"Aku berat Kak?"


"Iya."


"Terus kenapa suka menggendongku?"


"Ganti barbel."


......plaak......


Kali ini pukulan mendarat di kepala Jimmy.


"Kamu ini kayak tarzan wati ya?"


"Kenapa emang?"


"Gemesin."


"Lalu?"


"Aku kuat kok kamu pukul tiap hari. Aku rela jadi samsak buat kamu latihan kok. Kalau kamu malas jalan, biar aku yang gendong kamu kemana pun, walau kamu berat." Via mencubit Jimmy, "Aaaww...!"


"Kamu tau tidak? betapa sensitifnya kata-kata itu bagi seorang perempuan?"


"Tau."


"Terus kenapa selalu saja bilang begitu? Kamu tak benar-benar mencintaiku."


"Aku mencintaimu apa adanya. Meski nanti kamu akan semakin melar setelah melahirkan anak-anak kita. Meski kamu nanti akan menua, dimakan usia. Meski kamu selalu memukulku tak ada beda seperti tukang pukul yang bekerja. Aku deklarasikan bahwa aku akan selalu mencintaimu!"


"Iiissshh, tukang gombal! Palingan kalau aku sudah gendut, matanya jelalatan mencari yang lebih muda dan lebih cantik."


"Waahh, ini berarti kamu beneran mau nikah sama aku?"


"Kita lihat dulu! Hubunganku dengan papamu itu sangat buruk. Lagian kita tidak tahu bagaimana tanggapan Tosan atas rencana ini."


Jimmy menghentikan langkahnya. Menurunkan Via, memutar badannya menatap Via dengan dalam. "Coba kamu jujur, apa sekarang kamu sudah mencintaiku?"


...*bersambung*...

__ADS_1


...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...


...terima kasih...


__ADS_2