DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
62. Patient bg.2


__ADS_3


Irin memilih menjadi orang yang masuk duluan, di salah satu bagian ruang pemeriksaan IGD yang hanya disekat oleh pembatas berupa kain lebar bewarna hijau.


Ternyata wajahnya telah dibersihkan oleh pihak rumah sakit. Saat ini dia dalam mode Via yang tengah tertidur. Tadi kata dokternya gadis itu yang berobat kemarin, ke Jimmy. Ini Jimmy ketemu di sini atau dimana ya? Setelah itu kembali melihat gadis itu yang masih dalam tidurnya.


Irin memandang anak itu dengan tatapan sedih. Sekali lagi Via tidur di atas brangkar rumah sakit sebagai pasien. Seandainya saja Dia mau mendengarkan apa yang diucapkan tadi. Mungkin semua tidak akan seperti ini.


"Vi! Bangun Vi!" lirihnya membenamkan wajahnya duduk di sebelah ranjang pasien itu.



Tiba-tiba mata Via terbuka dan secara refleks dirinya berusaha untuk duduk,


"Aduh.." ucapnya meringis merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya.


Di tangan sambil mengusap-usap pundaknya menggeleng kepala ke kiri, menggeleng ke kanan lalu diputar searah jarum jam. Di sebelahnya, Dia melihat Irin yang tampak sedang menangis.


"Rin…"


Irin langsung mengangkat kepalanya, terkejut melihat gadis nakal itu tengah duduk dengan cengirannya seperti biasanya.


"Lo udah bangun Vi? Lo nggak apa kan? Ada yang sakit?"

__ADS_1


"Ini kayaknya sakit semua," cengirnya tapi seperti bukan masalah yang besar baginya. Via menyibak selimut yang membuatnya merasa kepanasan itu, menurunkan kedua kakinya, Irin terbelalak melihat aksi kawan yang udah kayak adiknya ini dan berusaha menahan untuk tidak turun dari bangkar.


"Kita pulang yuk!" 


"Eeeiit! Tunggu dulu!  Masih ada yang harus diperiksa dokter habis ini!"


"Nggak mau! Nggak mau! Gue mau pulang! Nanti malah ramai-ramai orang ke sini? Ogah gue!"


"Aduuuh, Via? Kapan bisa duduk dengan tenang agak sehari aja Vi? Ini Lo habis tabrakan Lo…"


Via menggelengkan kepalanya, "Kita di kostan aja…" Jawabnya sudah turun dari brangkar. Irin menepuk jidatnya dan menggelengkan kepalanya.


"Orang tua Lo tu mau ke sini?"


***



Keluarga Via langsung menghubungi pilot untuk segera menyiapkan jet pribadi keluarga mereka. Tak perlu berpikir panjang, keluarga Via yang terdiri atas Tosan, Mami, dan Yudhit sudah mengudara menggunakan jet menuju tempat dimana anaknya tinggal dan saat ini tengah menjalani perawatan sebagai pasien rumah sakit.


"Mami merasa bahwa Mami tidak pernah memiliki anak perempuan. Yang ada anak Mami tu cowok semua. Masa iya, dia kecelakaan gara-gara ikutan balapan liar?" ujar sang ibu gusar dan tak habis pikir.


"Tidak apa sayang, dengan begini dia makin tumbuh hebat dan mandiri ke depannya, jadi bukan sekedar menjadi gadis manja yang hanya bisa berlindung pada orang lain, ha-ha-ha.." jawab sang ayah dengan santai, se santai saat ia duduk leyeh-leyeh di pantai.

__ADS_1


"Iiihh, tidak ayah tidak anak, sama saja. Ini kakaknya juga, Mami dah capek-capek hamil anak perempuan di usia yang tidak muda lagi, malah dibentuk jadi anak laki-laki?"


"Yang penting hati nya kan tetap hati seorang perempuan kan Mi," ucap Yudhit sambil terkekeh.


Mami hanya menepuk keningnya dan menggeleng, tak sabar menunggu sampai dan segera mendarat.


***


Jimmy duduk di tempat yang cukup jauh memperhatikan Deval berdiri mondar-mandir di ruang sempit yang hanya disekat oleh kain lebar bewarna hijau, tempat Marni diperiksa tadi.


Gilang dan Kevin sedari tadi terus sikut-sikutan ingin memecah lamunan Jimmy. Mereka merasa kasihan pada Jimmy, menyukai seorang gadis, tetapi malah yang jelek begitu. Namun, tak disangka ternyata memiliki ponsel edisi terbatas.


Mereka menebak-nebak kira-kira sekaya apa orang tua Marni itu. Namun kenapa berbanding terbalik dengan penampilan yang mereka lihat selama ini.


Sebenarnya, Jimmy juga ingin mengintip ke ruang sempit itu. Dia juga ingin melihat sosok gadis yang tadi sempat dalam dekapannya meski hanya dalam sekejap. Ingin melihat dia kembali duduk, berjalan dan beraktifitas seperti biasa.


Tidak sengaja dari arah luar matanya menangkap tiga orang yang terlihat cukup penting, terlihat dari cara berpakaian mereka.


Salah satunya merupakan Seorang wanita yang mungkin seusia dengan ibunya, tampak sangat cantik dan anggun hingga sangat enak dipandang oleh mata. Wanita itu pun mendekat ke arah Jimmy dan kawan-kawannya.


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...

__ADS_1


...terima kasih...


__ADS_2