
"Hei, katakan sebenarnya Lo ini siapa? Lo ini samaran dari penjahat ya?" ucapan tajam dari salah satu temannya di dalam kelas itu.
"A-apa? Pe-penja-jahat?" Marni tidak habis pikir, kenapa mereka mengatakan hal demikian. Lalu dia memeriksa kembali penampilannya, apa ada tampilan gue yang terkesan aneh?
"Iya, Lo penjahat.. masa bawa-bawa pisau, bawa-bawa tali, alat-alat aneh lainnya, buat apa coba?"
Oh iya, tadi isi tas gue berceceran kemana-mana. Kembali Marni membesarkan matanya kepada Irin. Irin hanya bisa salah tingkah, dan merasa bersalah. Namun, ketika Marni mengingat itu tidak sengaja terjadi karena ingin menolongnya, akhirnya Marni tidak jadi marah. Ini juga gara-gara dia sendiri yang lalai, asal membersihkan wajah.
Kali ini Marni memilih tidak ambil pusing, yang penting dia sudah tahu alasan mengapa orang-orang di kelasnya itu berlaku seperti ini. Lalu Marni menarik Irin dan mengajak duduk di bangku mereka.
"Gaguu! Gagu! Awas Lo ya? Sengaja ngerjain gue," tiba-tiba Dino muncul dengan muka merah, seolah keluar asap dari mulut, hidung, dan kupingnya. Marni hanya bisa menyeringai dan mencibir, dan Irin terkekeh merasa semua ini sangat lucu.
"Mi-minum a-air sa-sana!!"
"Awas Lo ya!? Pasti gue balas!" decaknya sambil marah-marah menuju bangkunya. Tak lama kemudian, terdengar bunyi bell bahwa waktu istirahat telah usai.
Guru matematika masuk untuk memulai pelajaran hari ini. Membawa berita tentang hal yang paling ditakutkan oleh siswa, mari kita dengar apa yang disampaikan oleh ibu Ratih.
"Apa semua telah mengerjakan tugas yang ibu beri dengan baik?"
"Sudah Bu!!!" ucap sebagian kecil, Marni tidak termasuk di dalamnya. Karena dia sendiri tidak merasa menyentuh tugas itu sama sekali. Hanya sekedar mengulang dan mengingat apa yang telah dibuatkan oleh Stevan.
"Jika benar sudah mengerjakan tugas yang ibu beri dengan baik, hari ini kita akan mengadakan Postes!" terang sang guru bersahaja nan galak itu di depan kelas.
Seketika wajah siswa di dalam kelas menegang. Siswa yang menjawab pertanyaan dari sang guru pun merasa menyesali jawaban mereka. Seharusnya bilang ada yang tidak bisa aja tadi, sesal salah satu dari mereka di dalam hati. Sementara Marni matanya sudah menerawang ke atas mencoba mengingat tugas yang dikerjakan Stevan, dan teman di sebelahnya sama seperti yang lain, ikutan merasakan kecemasan menghadapi Postes matematika secara mendadak.
Beberapa saat kemudian, semua wajah siswa kelas sepuluh sain A berubah menjadi keriting, apalagi Dino adalah salah satu siswa yang nyasar duduk di jurusan sains. Selain tidak tahu harus mengisi jawaban apa, dia sedang diserang mules yang melilit di perutnya.
Mendapat tes dadakan di waktu matahari mulai merangkak naik menuju ubun-ubun berasa menjadi bom waktu yang siap meledakkan segala isi di kepala. Hanya beberapa siswa yang mengerjakan tugas tersebut dengan tenang, dan tak lama-lama Marni menjadi orang pertama yang menyelesaikan postes dadakan ini.
Usai postes, membuat tubuh mereka berasa kehilangan energi, namun masih ada waktu untuk melanjutkan materi matematika. Sudah tidak ada lagi nyawa yang melekat di tubuh mereka. Energi telah terkuras, dilanjutkan oleh materi, membuat otak mereka semakin buteq.
Ketika bell pulang berbunyi, mereka seakan tidak memiliki energi untuk bergerak lagi. Marni menarik Irin yang telah loyo karena merasa tidak cocok duduk di jurusan ini. Dengan sedikit mengeluarkan energi dari ototnya, Marni tergopoh menarik Irin untuk mengikuti langkahnya.
__ADS_1
Tak sengaja matanya menangkap ada yang tengah memain-mainkan salah satu alat pelacak miliknya. Dilambungkan ke atas berulang-ulang. Romi tengah menilik benda itu, mengira-ngira itu benda apa. Marni sang pemilik benda, mupeng untuk merebutnya kembali. Haduh, ada-ada saja kejadian hari ini, batinnya. Bagaimana cara mengambilnya dari anak itu?
Irin yang masih oleng, tiba-tiba terjatuh karena Marni melepaskannya. Saat ini planning fokusnya beralih untuk merebut alat pelacak yang sedang berada di tangan Romi.
"MARNIII GAGUUU..." kembali suara cempreng Dino berusaha mengejar Marni yang tengah mengikuti Romi.
"GARA-GARA LO PERUT GUE SAKIT!!!" lalu dia terheran melihat aksi Marni.
"Kenapa mengendap-endap mengikuti Romi?" tanyanya ikut penasaran atas apa yang dilakukan Marni.
Marni seketika gelagapan karena terciduk secara langsung oleh Dino mengikuti temannya itu secara diam-diam. Marni ingin segera beranjak, dan ranselnya ditarik oleh Dino.
"Mau kemana Lo? Lupa tadi udah ngerjain gue lagi? Lo harus tanggung jawab pada perut gue!"
"Gu-gue bu-buru!"
"Gue gak mau tau! Pokoknya hari ini Lo harus jadi kacung gue sampai gue merasa cukup puas membalas segala yang lo lakukan terhadap gue!"
Terus menarik tas Marni dan yang ditarik terus berjalan mundur mengikuti Dino melepaskan bayangan Romi yang asik memainkan benda kecil miliknya.
Marni yang tahu itu suara siapa, langsung melongok ke sumber suara. "Jo-joko..."
"Lepaskan dia!!"
Dino yang merasa sedikit takut pada sorot mata Deval yang dingin, dengan cepat melepaskan tas Marni yang tadi dia seret. "Gue hanya minta dia lakukan tugasnya hari ini kok," celetuknya sambil menepuk-nepuk pelan tas Marni tadi.
"Hari ini hukumannya apa?" tanya Joko.
Dino meluruskan posisinya, lalu tampak memikirkan sesuatu. "Karena perut gue sakit gara-gara dikerjainya, ditambah tes dadakan membuat perut gue makin sakit, jadi gue mau dia belikan makan siang buat gue!"
"Sini biar gue yang pergi. Mana duitnya? Perjanjiannya hanya sebagai kacung kan? Bukan buat biayain hidup Lo? Jadi sini! Mana duitnya!"
"Eee, iya siih," seketika dia menyesali perjanjian kemarin, seharusnya gue menambahkan syaratnya, batinnya lagi. Lalu menyodorkan selembar uang bewarna biru.
__ADS_1
"Sisanya buat upah kacung!" tambah Joko.
"Tapi..., tapi..."
"Lo lupa, kacung itu digaji?"
"Eee hmmmm...," kembali Dino kebingungan. Padahal itu duit terakhir yang dimilikinya. Keinginannya sih, biar dibayarin juga makan siangnya sama Marni. Eh, ternyata si culun malah muncul membuat rencana dan harapannya untuk mendapatkan makanan gratis menjadi ambiaar.
"Gimana? beneran mau jadikan Marni kacung hingga satu bulan ke depan?" tanyanya lagi.
"Siap dana untuk bayar dia?"
Dino merebut kembali uang miliknya. "Dia tetap jadi kacung gue pokok nya. Kalau nggak mau berkaitan dengan uang, oke gue gak akan minta beli ini itu lagi. Tapi dia tetap harus jadi kacung gue selama sebulan ke depan pokoknya...!"
"Iya, jadi maunya apa untuk hari ini?"
Kembali Dino pasang wajah berpikir, dia merasa Marni cukup pintar. Sementara tugas untuk besok lumayan sulit.
"Kalau gitu buatkan PR gue untuk besok...!"
"What?" pekik Marni protes. Sedangkan dia saja nggak pernah bikin PR, mesti gitu ngerjain PR nya dia.
"O-ogah gu-gue! Lo pi-pikir me-meng-gu-gunakan o-otak i-itu gra-gratis?" gue aja bayar Stevan dengan mahal untuk itu, batinnya.
"Kalau nggak mau buatin, berarti ajarin gue...!"
Kalau hanya sekedar mengajarkan, Marni tidak keberatan. "Ma-mana? Si-sini gu-gue a-ajarkan!" melirik Dino, setelah itu berganti dengan menatap Joko.
"Gue temenin!" ucap laki-laki dalam mode culun itu. Marni mengangguk meski masih sebel mengingat kelakuannya yang aneh lagi tadi pagi.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
__ADS_1
...terima kasih...