
Saat pulang sekolah, masih tengah berjalan di koridor menuju gerbang.
"Gagu.. kapan kita balapannya?" Dino masih menanyakan lomba yang belum juga selesai.
"Teteterseserah, tatatapi jajajangan sesekakarang!?" Marni masih memiliki misi untuk membebaskan Rini dari
"Kenapa? Lo takut lawan gue?"
"Gugue hahaharus memenonolong kakak gugue.."
"Jadi kapan bisanya?"
"Teteterseserah!"
"Malam Minggu nanti aja gimana? Mumpung liburan, kita ke Mandalika sekalian…" Dino melirik Marni melihat tanggapan musuh bebuyutannya itu.
Marni terkejut, Mandalika? Sirkuit yang baru diresmikan itu bukannya?
"Jajajauh! Dadadasar tototolol!" Marni mendengus atas banyolan Dino barusan.
"Yee.. gagu.. gue becanda doank. Paling kita trek-trekannya di jalan, tengah malam aja biar jalanan sepi…" jelas Dino sekenanya.
"Tengah malam?" pekik Irin.
"Sumpah, Lo tega banget. Masa Marni Lo suruh balapan tengah malam?"
Marni hanya memperhatikan ekspresi dari temannya ini, sembari memperbaiki kacamata nya yang melorot.
"Lalu dimana lagi? Namanya juga balapan. Kita nggak punya arena.."
"Ada tuh, yang disewa. Tapi Lo yang nyewa. Kan Lo yang nantang?" Irin menyerocos menatap kesal pada Dino.
"Hah? Gue yang bayar? Enak aja…"
"Makanya!! Jangan sok-sokan nantangin balap. Nggak mikir pakai otak apa?" sewot Irin.
Marni juga terkejut melihat Irin yang biasanya lembut, ikutan frontal seperti ini. Mungkin gara-gara kelamaan temenan sama gue kali ya? pikirnya.
"Ternyata mulut Lo pedes juga," ucap Romi di sebelah Dino yang tengah shock mendengar ucapan Irin..
"Tuh.. temen Lo.. ditata dikit otaknya Napa? Ngajak tanding yang masuk diakal kek. Masa Marni diajak lomba balap motor, dia mau menyanggupinya, ternyata malah nambah lagi keanehannya ngajak tandingan tengah malam.. gini-gini kan dia cewek. Nanti dia kenapa-napa gimana?"
"Kan ada kami..kenapa sewot gitu?" jelas Romi dengan dingin.
"Justru karena ada kalian itu yang gue takut.. nanti kalian lakukan hal aneh ke dia gimana?"
Jimmy dan kawan-kawannya kebetulan lewat, melihat adanya kejanggalan, "Ada apa ini ya?" ikut menyela pembicaraan.
Irin yang terkejut dengan kedatangannya, sembunyi di belakang Marni.
"Iiiini Kak.. mememereka ngangajak babalap tetengah mamamalam.." sebenarnya bagi Marni alias Via ini tidak masalah kapan pun waktunya. Hanya saja dia merasa harus segera menyelesaikan masalah Rini. Waktu yang diperlukan pun belum diketahui harus dihabiskan berapa lama.
"Beneran itu? Siapa nama Lo? Dino?" yang ditanya mengangguk.
"Kenapa harus malam lombanya?"
"Biar nggak ramai kendaraan kak.. bahaya juga kan balapan di tengah keramaian.."
"Yang nantangin kan elo..ya mesti berani donk…" Jimmy sudah membayangkan bagaimana kemampuan Marni yang sebenarnya Via. Dia juga penasaran ingin melihat langsung aksi cewek itu di jalan ramai.
"Tapi…tapi…" Dino mulai gugup.
"Masa yang nantangin malah yang takut?" ledeknya.
"Enggak, gue nggak takut…" ujarnya masih dengan wajah gugup.
"Ya udah, nanti lombanya Minggu pagi aja.." yang ditantang hanya memperhatikan dengan tenang, tak semangat, tak juga takut, hanya menanggapi dengan biasa saja seperti bukan hal yang penting. Mungkin baginya ini bukan sesuatu yang wah kali ya? Batin Jimmy.
__ADS_1
"Ooooh bababaiklah, gugue bababalik dududulu," hendak melangkah berbalik arah, ternyata di belakangnya telah berdiri cowo yang tangannya masih memakai gips dan perban.
"De..Val.." celetuknya.
Ternyata cowok culun itu mendengar ucapan pelan dari gadis yang membuat keningnya berkerut ini. Tiba-tiba saja dia langsung menarik tangan Marni.
"Gue Joko…!!!"
"Oooo iiiya, Jojojoko.." ralatnya.
Irin memperhatikan orang yang bernama Joko itu, kemudian terkikik sendiri membandingkan dengan yang dia lihat sebelumnya.
Kalau tampil sama-sama culun begini, kok malah jadi cocok banget ya, batinnya.
"Ini lagi ada acara apa?" tanya cowok culun itu.
"Bukan apa-apa.. bubar…bubar…" sorak Dino.
Joko masih penasaran kenapa cewek jelek si Marni yang pernah salah pakai sepatu ini. Kenapa dia bisa tahu nama aslinya adalah Deval? Pasti dia bukan orang biasa. Saat semua sudah bubar dari kerumunan, Joko hendak menarik tangan Marni. Ternyata, tangan yang satu lagi ditarik oleh senior yang sedari tadi ada di sana.
"Mari kita bicara dulu," ucap Joko, berbarengan dengan Jimmy yang mengucapkan..
"Mari kita pulang bareng…"
Ini sungguh menarik .. sorak Irin dalam hati menikmati pemandangan ini. Seorang Via yang belum pernah jatuh cinta, tiba-tiba dihadapkan pada tiga sosok pria berkarakter berbeda..
Kira-kira siapa ya diantara mereka?
Jimmy dan Joko bertatapan dengan sengit. Dalam hati mereka sama-sama berkata, gue duluan, sambil bertatapan sengit.
Dengan sekuat tenaga Marni menarik tangannya karena persendiannya telah terasa sakit akibat tarikan dari dua arah yang berbeda ini.
"Kalian apaan sih?" Dia teringat, keceplosan lagi. "Sasasakiiiit!!!" tatapnya geram bergantian pada dua sosok cowok yang berbeda itu.
"Sepertinya gue perlu bicara dengan dia duluan," kembali Joko menarik Marni. Mereka meninggalkan Irin, dan Jimmy yang tengah melihat ke arah mereka dengan tatapan kecewa.
Giliran sama cowok culun itu, dia mau ikut. Giliran aku, dia selalu banyak alasan. Apakah masih berkaitan dengan Papa dulu? batinnya. Lalu pergi dengan langkah gontai, serangan cintanya gagal total.
Irin memperhatikan tingkah Jimmy. Dapat dipastikan bahwa Jimmy beneran suka sama Marni. Tapi kenapa? Apa beneran suka sama Marni, atau sama Via? Bagaimana dengan Buana Putra sialan itu? Irin hanya sibuk dengan pikirannya sendiri, memilih duduk di bangku pinggir taman halaman sekolah, menunggu Marni dan Joko berbicara.
Di pojok sekolah kembali Joko memperhatikan sosok Marni dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Katakan, sebenarnya Lo itu siapa!?" ucap cowok culun itu dengan dingin.
"Lo kan tatau, gugugue Mamamarni!"
"Bohong… Jujur aja sama gue… Gue baru sadar dari video yang tadi malam itu lho..Lo yang menyusup di kepolisian tadi malam kan?"
"Vivideo aaapa?"
Joko mengeluarkan ponselnya, membuka kembali kanal Utube dan aksi yang direkam oleh CCTV, yang kebetulan cukup dekat dengan wajah gadis tadi malam.
"Kaca matanya aja sama persis…" ucapnya.
"Hmmm…" Marni masih memperhatikan video tersebut. Baru pertama kali lihat aksinya sendiri. Ternyata gue keren juga, mirip beneran kayak maling, batinnya.
Tiba-tiba Joko membuka kacamata Marni, "Lo bisa menipu orang lain, tapi tidak dengan gue..Via…"
Sontak Marni tertegun, apa penyamaran gue kurang all out ya…
"Vivivia? Sisisiapa?" masih mencoba jurus mengelak.
"Sudah lah, Lo nggak usah pura-pura gagu lagi…" ucapnya dingin..
"Hmmm… terus Lo bakalan marah-marah lagi ke gue?"
"Sekarang gue paham apa maksud Lo, membayangkan alasan kenapa Lo mesti menyamar sampai seperti ini."
__ADS_1
"Mungkin buat Lo menjalani hidup sendiri saja sudah cukup berat."
"Jika kita bersama nanti, gue hanya akan menambah beban buat Lo aja kan?"
"Gue sadar, gue ini bukanlah apa-apa buat Lo saat ini."
"Tapi gue hanya minta, Lo izin kan gue untuk menyimpan perasaan ini."
"Hingga suatu saat gue pantas memiliki Lo.." Namun Joko melihat Marni sesegukan.
"Kenapa Lo malah nangis?"
"Terima kasih atas pengertiannya…" Sebenarnya, tiba-tiba saja merasa rindu, entah kenapa rasanya menyesakkan, bahagia dan derita bercampur menjadi satu. Tapi dia tidak bisa mengatakannya. Marni menghapus air matanya, membuat wajahnya menjadi belang.
"Kenapa malah sampai nangis begitu?" Joko mencari sapu tangan dan ikut menyeka air mata Marni dengan lembut.
"Apa yang Lo katakan tak sepenuhnya benar, namun tak sepenuhnya juga salah.
"Hanya, saat ini mungkin gue belum siap untuk membangun sebuah hubungan.
"Meski sebenarnya gue juga…."
"Ssstt… Tidak usah dilanjutkan. Mungkin saat ini yang terbaik untuk kita ialah untuk tetap seperti ini saja.
"Gue ingin menjadi orang yang pantas buat Lo dulu..
"Siapa tahu nanti saat kita dewasa, kita bisa bersama selamanya.."
Meraih tangan Marni, dan Marni mengangguk… Lalu mereka tersenyum malu-malu, ini benar-benar pertama baginya. Begini lah rasanya jatuh cinta..
Setelah itu, mereka berjalan ke arah Irin suasana di antara mereka terasa sangat berbeda.
"Ya elah, gue duluan aja deehh.." guyon Irin setengah iri.
"Kemana? Bareng aja.." cegat Marni.
"Gue nggak mau jadi obat nyamuk di antara dua makhluk jelek…" sungutnya.
"Ya udah, gue panggil Devan juga gimana?" tanya Joko.
"Emangnya kalian mau ngedate?"
"Engga, gue masih harus beresin penyelidikan kasus pacar kak Rini kemarin…"
"Ya udah, kita pulang dulu. Beresin dulu muka Lo yang dah kacau itu, malah jadi tambah kacau jadinya…" pungkas Irin pada Via.
"Gue anter ya, gue pengen lihat kalian ngekost dimana…"
"Boleh…" jawab Marni dan mereka berjalan bertiga hingga sampai di kostan.
Ternyata yang malah banyak bicara adalah Irin, dibanding Marni. Irin selalu menanyakan Devan. Dia sekolah dimana, makanan kesukaannya apa. Sudah punya pacar apa belum. Walau Joko hanya menjawab pertanyaan Irin dengan pendek dan singkat. Namun yang menjadi obat nyamuk ternyata malah Marni.
Mereka sampai di kostan, da n tampak ramai karena mengelilingi sosok seseorang yang tengah menunggu mereka.
"Nah, itu Marni dan Irin.. sudah pulang…" menunjuk ke arah mereka yang baru saja memasuki area kostan.
Ternyata yang dikerumuni itu adalah Stevan. Joko ingat sosok Stevan yang ikut mendampinginya saat di rumah sakit, Kok saingan gue bisa sebanyak ini? batinnya.
Stevan juga langsung ingat tatapan dingin dari cowok culun di samping Marni.
Bukankah dia yang di rumah sakit itu? batinnya langsung bisa menebak.
Irin memperhatikan dengan seksama bagaimana tatapan Joko pada Stevan. Benar-benar menikmati persaingan tiga orang cowok ini, demi mendapatkan hati satu orang Marni, eeh maksudnya Via..
...*Bersambung*...
__ADS_1
...JANGAN LUPA TINGGALKAN TANDA JEJAK YAA.. LIKE, LOVE, VOTE, & KOMENTARNYA YAAA 🥰🥰🤩🤩😘😘...
...terima kasih...