DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Lawan bisnis


__ADS_3

"Gawat, Pa. Sepertinya saingan kita ingin membajak bisnis kita!"


"Apa yang terjadi?"


"Saya sedang otewe ke rumah sakit. Tadi dapat laporan dari Marko kalau kerjaan mereka tidak bisa dikendalikan. Ada yang mengambil alih kendali." Romi tengah melajukan kendaraannya menuju markas mereka.


Jimmy pun melajukan kendaraannya tak kalah cepat. Setelah sampai, dia langsung menuju ruang khusus tempat anakan manusia tengah berkutat dengan laptop mereka masing-masing.


Jimmy mengisi meja yang biasa ditempati oleh Romi, karena Romi belum sampai di lokasi. Kevin mendekat dan menjelaskan apa yang terjadi. Kendali game online yang mereka lakoni tidak bisa dikendalikan. Semua anggota yang terlatih sedang mencoba menyerang musuh yang telah membuat akses pekerjaan mereka tidak bisa dioperasikan.


Jimmy mencoba sebisa kemampuannya. Sedikit banyak dia sudah mempelajari bermacam trik hacker bersama Romi. Dia menemukan titik lokasi yang mengganggu bisnis gelapnya ini. Ternyata pengganggu itu berasal dari negara Jepang.


Jimmy segera melacak lokasi melakukan beberapa kali zoom skala. Akan tetapi, titik tersebut menghilang begitu saja. Jimmy memukul meja tempat laptop tersebut diletakan. Membuat semua yang ada di dalam sana terkejut akan tingkah Jimmy jadi sekesal itu.


Pintu dibuka dari arah luar. Romi baru saja sampai segera berdiri di sisi Jimmy melihat kondisi Jimmy yang terlihat kesal. Jimmy bangkit dan posisi segera beralih.


Romi dengan segera melacak kembali titik yang sempat ditemukan oleh Jimmy. Pintu kembali terbuka, tampak Gilang dengan wajah gusar menarik Jimmy keluar dari ruangan kerja para bujang.


"Lo itu, fokus sama pasien dulu!" Gilang menarik Jimmy menuju ruang kerja sang pimpinan yang kembali diambil alih Jimmy semenjak Via tidak sadarkan diri.


Tanpa aba-aba, Gilang telah mengambilkan jas putih milik Jimmy, kembali menarik Jimmy untuk segera memakainya. "Ada pasien yang kondisinya gawat."


Akhirnya setelah mendengar ucapan dari Gilang, Jimmy bergerak terlebih dahulu. Menyesali tindakannya yang lebih dahulu memeriksa keadaan bisnis, dibanding kondisi pasien. Jimmy langsung menangani pasien yang mengalami sesak.


Romi berkutat mencoba mengambil alih komando game online yang sedang dikerjai oleh orang Jepang. Romi mencari jejak server milik musuh. Dengan beberapa kali pencarian menggunakan beberapa jurus rahasianya, titik lokasi mereka temukan.


Lalu dia melakukan pencarian lewat temuan data. Tampak foto-foto pria bertato di sekujur tubuhnya. Ternyata mereka sedang diretas oleh hacker milik mafia dari negara sakura.


"Kenapa mafia tersohor tersebut meretas kami?"


Romi mencoba mencari jawabannya kembali. Baginya mustahil yaku za mengganggu mereka, bila mereka sendiri tidak pernah mengganggu bisnis orang lain. Setelah beberapa kali pencarian, baru lah dia menemukan jawabannya.


"Jason, apa yang kau lakukan?" hardik Romi.


Jason terksiap dipanggil dengan cara yang dia pahami bahwa Romi sedang marah besar. Jason menggaruk kepala bergerak menuju Romi dengan tertunduk.

__ADS_1


"Ma-maaf, Bang. Kemarin itu hanya iseng."


"Bagaimana kronologisnya?" Romi menatap tajam kepada Jason yang terus tertunduk bagai anak kucing.


"Be-begini. Kemarin saya sedang mencoba menaikan angka penarikan dari gamers yang sedang bermain, tiba-tiba dia bilang mainan kita membosankan di kolom komentar."


"Terus dia bilang game yang baru tersebut lebih seru karena upgradenya gak berat, dan kecanggihannya melebihi platform milik kita. Jadi saya mikir, mungkin karena itu banyak yang beralih."


"Lalu nyoba bongkar-bongkar servernya, ternyata malah kepencet yang lain. Membuat sistem mereka eror dalam beberapa detik. Saya rasa karena itu." Jason semakin tertunduk di ujung ucapannya.


Romi mendengkus kesal, ingin marah tetapi semua telah terjadi. Mencoba untuk tidak saling mengganggu, ternyata malah kena juga. Romi kembali sibuk dengan peralatannya.


Jason sendiri berdiri kikuk di samping Romi tidak tahu harus berbuat apa. Dia mencoba bergerak kembali ketempat, tangan Romi dengan cepat pula menarik Jason untuk tetap di posisinya.


"Kamu perhatikan cara kerja saya!"


Jason mengangguk gugup melihat apa saja yang dilakukan Romi. Gerakan tangan Romi terlihat sangat cepat. Mencoba menyusup dengan tidak terlihat pada server lawan mereka. Tampak banyak temuan yang terlihat ditutup rapat dalam brain server di sana.


Romi tersenyum tipis, mencoba mencuri data yang tergembok itu. Jason menahan tangan Romi dan menggelengkan kepala. Dia merasa takut jika akan terlibat semakin jauh dengan gangster teranyar dari negeri matahari terbit itu.


Romi tersenyum tipis. "Kita bisa bertransaksi dengan ini."


Jason tergidik merasa sedikit ngeri. "Bang, aman gak nih?"


"Yah kita coba dulu." Ada sedikit keraguan dalam batin Romi. Apakah ini bisa membuat mafia itu mengembalikan server mereka, atau malah semakin gencar menyerang mereka.


*


*


*


Di rumah, Via bermain bersama anak-anaknya di taman. Kali ini dia membawa kedua pengasuh si kembar agar tidak kerepotan seperti hari sebelumnya. Dia penasaran dengan pernyataan orang tua dari anak yang diganggu Hyuna kemarin.


Via sengaja duduk mendekat, hendak menanyakan maksud dari Mama Cia. Namun, wanita itu seperti tidak menyukai kehadiran Via. Meskipun Via menyadari hal itu, tetapi dia pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Halo, Mba ... boleh saya duduk di sebelahnya?" tanya Via dengan sedikit senyuman.


"Hmmm ..." tanggapnya dengan wajah datar.


Beberapa waktu berlalu, mereka seperti memperhatikan anak-anak mereka sedari jauh. Dalam pikiran, Via tengah mencoba merangkai kata untuk menanyakan maksud dari apa yang diucapkan oleh Mama dari anak bernama Cia ini.


"Hmmm, emang kapan nikah sama Mas Jimmy?" tanyanya tiba-tiba.


Pas banget, pikir Via.


"Emang berita yang Mba dapat sebelumnya bagaimana?" tanya Via kembali.


"Saya mendapat kabar, bahwa ibu dari Hyuna dan Hyuta ini meninggalkan Mas Jimmy."


Via menegakan kepalanya yang tadi memasang telinga agar bisa mendengar dengan baik. "Emang siapa yang bilang?" tanyanya heran.


"Itu, yang bilang yang ngasuh Hyuna. Dia bilang Pak Jimmynya telah menduda semenjak kelahiran anak-anak mereka."


Via melirik ke arah Reva, pengasuh Hyuna yang terlihat terus melirik ke arah mereka.


"Katanya lagi, mereka akan menikah dalam waktu dekat. Makanya saya heran, kenapa malah kamu tiba-tiba mengaku jadi ibunya si kembar."


Via melirik ke arah Reva yang terlihat mulai tidak tenang. Via mengangguk dan mulai memahami situasi yang terjadi. Kesimpulan awal yang dia ambil bahwa Reva, pengasuh Hyuna suka pada suaminya, Jimmy.


"Emang, kapan kalian menikah?" tanya Mama Cia.


Via mulai menghitung waktu dengan jemarinya. "Hmmm, sepertinya udah lebih tiga tahun lalu."


Mama Cia membesarkan mata dan membulatkan mulut. Tidak menyangka, orang yang di sampingnya ini adalah orang yang dibicarakannya tadi.


"Jadi-jadi-jadi---"


"Iya, kami tak pernah berpisah. Hanya saja saya sakit saat melahirkan mereka. Saya baru bisa bangun beberapa hari ini."


Mama Cia menepuk jidatnya. "Ooh, sepertinya saya harus segera memasak." Dia bangkit dan segera menarik anaknya pulang.

__ADS_1


Sang pengasuh Hyuna tampak semakin resah. Via tersenyum tipis melihat kegelisahan itu. Via bergerak mendekat ke arah anak-anaknya bermain ditemani para pengasuh. Via menarik kasar Reva yang terlihat telah pucat pasi.


__ADS_2