DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
77. Tak percaya


__ADS_3

"Aku terpaksa Kak…" lalu wajahnya berubah murung. "Ibuku sakit Kak.. kami tidak punya uang untuk biaya berobat.."


"Bohong, alasan!!" ucap Via tak percaya.


Sementara Deval yang mendengar itu langsung berubah menjadi kasihan. "Ibu kamu sakit apa?"


Anak itu hanya menggeleng, "Aku tidak tahu Kak."


"Nama kamu siapa?"


"Udin Kak," seakan teringat sebuah nama yang baru saja disebut-sebut akhir-akhir ini.


"Kamu tinggal dimana?" tanya Deval seraya terus menebak-nebak siapa gerangan Udin ini.


"Di sana, area rumah kardus." 


"Kamu anak Mak Iroh?" dukun yang kemarin dicurigai oleh warga. Lalu anak itu mengangguk. Kenapa dia bisa sakit? Apakah dia juga mendapatkan penyakit yang sama seperti warga yang lain?


"Sakit gatal dan ruam kayak warga di sana?" Kembali anak itu mengangguk, membuat Deval semakin heran, dan tampak tengah memikirkan sesuatu.


"Kenapa Val?" Via tertarik pada tingkah laku Deval.

__ADS_1


"Enggak, kebetulan ini kasus yang sedang gue tangani."


"Kok bisa kebetulan banget ya? Tadi motor dapat dari mana?"


"Gue juga heran nih, ini tadi disewa dari tukang ojek kenalan."


"Kalau gitu, Lo sama anak itu pakai motor tadi, gue ngikutin pakai sepeda."


Deval mengangguk mengajak anak itu ke tempat ibunya yang katanya sedang sakit.


Lalu mereka menuju sebuah jembatan, di bawahnya terdapat banyak sekali rumah yang berdindingkan kardus, atau apa pun yang bisa menutup bagian agar terlindung dari udara malam.


Salah satunya merupakan tempat Udin dan ibunya Mak Iroh tinggal. Sebuah gubuk beratap daun rumbia, berdinding kardus yang disusun asal jadi, asal terlindung dari dinginnya malam.


Lalu sang anak berhenti, tepat di hadapan sang ibu yang tengah meringkuk menggaruk bagian tubuhnya tiada henti.


"Mak, Udin pulang. Udin belum bisa mendapatkan uang untuk bawa Mak berobat," ucapnya sendu duduk di sebelah sang ibu yang tiada henti menggaruk.


"Kamu datang bersama siapa?" suara ibu itu terdengar sangat lirih. Dia tampak tua, meski anaknya masih cukup kecil. Entah karena keadaan, atau faktor lainnya.


"Ini tadi ada kakak yang ingin bertemu Mak," jelas Udin yang terus melirik dua orang asing yang baru saja dikenalnya gara-gara mencuri sepeda milik Via.

__ADS_1


"Kalian dari mana? Mau apa menemuiku?" suara Ibu itu terdengar cukup serak dan lirih, Deval terus memperhatikannya yang tiada henti menggaruk bagian-bagian tubuhnya bergantian.


"Apa perlu kami bawa ke rumah sakit Bu?" tanya Deval sedikit prihatin melihat kondisi ibu yang tragis itu.


"Apa pedulimu terhadapku?" ucapnya dengan ketus.


Via hanya bisa menyunggingkan senyum sinis melihat dan mendengar percakapan mereka. Dia melihat ibu itu tampak begitu aneh. Hanya terus menduga-duga siapa dia sebenarnya. Melihat sekeliling bagian rumahnya banyak terdapat bahan-bahan krenik yang membuat bulu kuduk merinding.


"Saya kasihan pada anak Ibu, sampai ingin mencuri milik orang lain untuk biaya mengobati penyakit ibu ini," tutur Deval, dan Via masih berdecak karenanya.


Terdengar suara tawa yang lirih, lalu diam dalam beberapa waktu, namun tangannya masih terus menggaruk bagian tubuhnya secara bergantian.


"Jangan pedulikan aku, ini hanya kutukan yang aku terima karena perbuatanku. Pergi dari sini! Sudah cukup melihat keadaanku bukan?"


Kembali wajah dua orang ini terlihat bingung, Via dan Deval mencoba mencerna dan memahami apa yang tengah terjadi pada ibu ini. Mencoba-coba untuk menebak-nebak, namun takut salah terhadap apa yang ditebak. Tentunya dengan pikiran berbeda dengan kepala yang berbeda.


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...


...terima kasih...

__ADS_1


besok senin niii, jgn lupa tabungkan vote untuk aku yaaa 🤣🤣🤣


__ADS_2