
"Hmmm, kalau Kakak minta tolong kamu yang ngurus, mau nggak?"
"Ya, itu salah satu alasan aku ke sini. Aku tu gemes sama kasus berlarut-larut. Nanti malah makin banyak korban."
"Soalnya kakak juga lagi banyak yang diurus Dek. Banyak yang membutuhkan bantuan, sementara kasus itu membuat kita harus turun ke lapangan secara langsung."
"Oh iya, bagaimana kasus judi online dari game yang kamu urus sejak di USA kemarin?"
"Hah, gara-gara itu kakiku keseleo ni. Baru sampai di sini, malah dapat kado."
"Kamu sih, dikira masih remaja. Ini sudah bukan usia kamu buat lakukan hal aneh-aneh. Usia dewasa masa penyembuhannya tidak semudah masa remaja. Jika sesuatu tidak mendesak, kamu jangan pakai serangan berat dulu!"
"Iya sih, aku juga heran. Beda banget sama yang dulu kalau dicuekin aja malah ilang sendiri."
Lalu sang Kakak berjongkok memeriksa kaki adiknya. "Istirahat dulu agak beberapa hari ya?"
"Tapi Kak, masa aku hanya duduk di rumah aja?"
"Ya udah, kamu nginap di sini aja sampai sembuh."
"Kasian Irin aah? Tadi malam dia memutuskan untuk tinggal bareng sama aku."
"Oh, bagus lah. Jadi kamu tidak terlalu kesepian."
"Nah, dia pulangnya juga malam. Lalu aku dari pagi sampai malam ngapain dong?"
__ADS_1
"Ya, istrirahat aja. Kompresin kaki hingga sembuh. Atau ngapain kek? Nanti kalau kamu sudah prima, kakak mau nyerahin BOS ke kamu aja. Pusing ngurus kerjaan yang sama-sama banyak."
"Ogah, aku mau bagian lapangan aja. Malas bolak-balik markas. Jauh amat!" mengernyitkan dahinya.
"Terserah kamu sih, tapi nanti Tosan palingan bakalan maksa juga."
"Iiissshh, kenapa lah aku terlahir dalam keluarga tukang paksa ini?"
"Kamu mau didepak jadi anak Tosan dan Mami? Biar kakak yang menyampaikan?"
"Jangan! Jangan! Nanti aku tiba-tiba jadi anak yatim!" lalu bibirnya mengeluarkan cengiran.
***
"Hah, Kakak? Malah menguntit aku sampai ke sini juga?"
"Enak aja?"
"Terus, ngikuti aku sampai ke sini maksudnya apa coba?"
"Aku tinggal di sini juga," lalu kembali menahan senyuman.
"Lhoooh? Sejak kapan?"
"Yaaa, cukup lama." ucapnya asal. "Aku juga baru tahu kamu tinggal di sini. Sebuah kebetulan yang luar biasa ya?" kembali berjalan memapah Via.
__ADS_1
"Kebetulan yang aneh," sungutnya, namun masih mengikuti langkah Jimmy dengan tertatih.
"Kamu mau memegangi tas kerjaku?" tanya Jimmy yang melihat ekspresi wajah yang tidak enak saat melangkah.
"Untuk apa?"
Tanpa memberi jawaban, tas jinjingnya diberikan ke tangan Via. Kembali bridal style ala-ala mereka terjadi.
"Jangan lagi deh!" kembali meronta. "Malu tau nggak?"
"Orang Amerika masih malu-malu sama hal yang begini?" keceplosan.
"Lhooo? dari mana Kakak tau aku di sana? Itu rahasia lho?" tanyanya curiga.
"Ya tau aja," kembali dengan asal. Tidak memedulikan tatapan penghuni gedung melihat mereka, Jimmy terus menahan pinggangnya yang mulai encok. Menggendong Via sampai ke appartemen milik perempuan yang terus mengisi hatinya walau tak pernah dianggap.
"Hah, akhirnya sampai," Jimmy langsung melakukan peregangan. "Tubuh kamu kurus, tapi kok berat ya?" tiba-tiba sendal jepit melayang tepat di mulut Jimmy.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...
Otor libur dulu yaaa.. Insya Allah besok triplle up.
__ADS_1