DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
S2-7 Kasus baru


__ADS_3

Via sudah berada di dalam kendaraan yang dibawa oleh Dedi. Dia masih tidak habis pikir tentang Jimmy. Ada apa dengannya? Kelakuannya makin hari makin mirip Stevan.


Aneh...


Via kembali teringat tadi sosok yang berlari mengejar seorang pria bertampang preman. Masih teringat jelas olehnya Deval pergi tepat di depan matanya.


Huuuffttt..., dia menghela nafas.


Tadi mungkin!!! Mungkin hanya sekedar kaget aja kali ya? Masih terbawa perasaan karena baru mampir ke sana. Tiba-tiba seperti melihat dia muncul lagi gara-gara suasana. Oh iya, Devan. Pasti Devan. Mereka kan identik. Benar, itu pasti Devan.


Setelah itu dia membuka tablet, lalu mengecek web Organisasi BOS. Mencari tahu kasus yang tengah merebak saat ini. Rata-rata kasus berkaitan dengan masalah dunia online. Game online, dan satu lagi penculikan akibat kenalan dengan mahkluk random, secara online.


Cih, ketika zaman semakin modern, tindak kejahatan ternyata semakin modern juga. Ada-ada saja yang terjadi. Ini Kak Yudhit, kenapa membiarkan kasus ini berlarut-larut? Malah makin banyak korban yang terjerat jika si pelaku tidak segera ditangkap.


"Om, ini kasus penculikan dan penjualan anak usia dini, sudah berapa lama ditangani? Kok belum beres-beres juga?"


"Nah, itu Non. Mas Yudhit. Karena dia double job, jadi kurang fokus mengatasi masalahnya."


Hmmm, ternyata karena itu Tosan jadi marah-marah memaksaku untuk cepat kembali.


"Om, antarkan aku ke alamat yang aku kirim. Aku mau menyelidiki keluarga salah satu korban dulu."


"Siap laksanakan," seru Dedi membuat Via kaget, berasa jantung mau copot. Sudah lama sekali dia tidak mendengar yang begituan.


***


Sampai di lokasi tempat tinggal salah satu korban, Via pura-pura sebagai utusan dari lembaga Komnas Ham. Sehingga terdengar lah tangisan sang ibu yang sudah sekian lama kehilangan anaknya. Hingga sekarang belum mengetahui bagaimana keadaan putri sulungnya itu.


Lalu Via berpindah ke lokasi lain, ke rumah korban yang lain. Kali ini kasusnya berbeda, sang anak yang berusia empat belas tahun mengaku sudah dinikahi oleh lelaki tua berusia lima puluh lima tahun. Saat sang orang tua mengajak pulang, sang anak pun menolak. Dia mengatakan sangat mencintai suaminya, dan tengah hamil muda.


Miris memang, kasus-kasus ini berawal dari perkenalan online. Beruntung jika sang laki-laki mau menikahi, walau usianya setara kakeknya. Namun, nahas bagi yang tidak ada kabar sama sekali. Bisa jadi korban pemerk****saan, setelah itu dijadikan ladang uang. Baik itu dijual, maupun dijadikan sebagai pel*****acur.


"Ini tidak bisa dibiarkan Om, ayo kita susur. Kita harus segera menangkap otak di balik ini siapa. Sekarang hacker handal Organisasi BOS yang ada di sini, siapa ya Om?"


Dedi yang masih fokus menyetir, tampak berpikir sejenak. "Ya, ada lumayan Non. Tapi tidak sehandal Mas Stevan sih."


("Haaaaatttciiiimmm..., srruuggg.." Stevan tiba-tiba saja bersin. "Maaf Beib, pasti ada yang membicarakanku," Stevan tengah bermesraan dengan sang artis.)


***


Malam harinya, Via mengunjungi kediaman Yudhit dan keluarga kecilnya. Yudhit dan istrinya yang kebetulan bernama Rini juga, sudah memiliki dua orang anak. Satu laki-laki berusia enam tahun, dan satu lagi anak perempuan yang masih berusia enam bulan.


"Aduuuh, ponakan-ponakan Onty, lucu sekali," Via menyoel wajah si sulung yang tampan.


"Hayo nama kamu siapa?"

__ADS_1


"Kamu siapa?" tanya anak itu dengan galak.


"Waduuuh, kacau ini. Kok bisa ketularan sifat bapaknya ini Kak?"


Rini tengah menggendong baby usia enam bulan, "Iya nih, aku juga heran kenapa dia menyalin perangai bapaknya. Suka marah-marah, apalagi sejak adiknya lahir. Makin jadi marah-marahnya."


"Come on boy! Masa kamu tidak mengenal Onty?"


"Aku bukan Boy! Namaku Juan!"


"Ooh, nama kamu Juan. Nah, kasih tau Onty juga nama adik kamu siapa?"


"Dedek Juan namanya Julliet. Cantik kan? Itu Juan yang kasih."


"Waaah, beneran Juan yang kasih nama?" bocah enam tahun itu tersenyum dan mengangguk. "Waah, Juan hebat sekali yaa..."


"Iya dong, Juan kan anak Daddy. Kalau jadi anak Daddy harus hebat," ucapnya dengan wajah polos.


"Apa kamu sayang sama Dedek?"


"Juan sayang Dedek, tapi Mommy selalu lupa sama Juan. Juan kan juga ada di sini," mulut anak kecil itu mulai membulat.


"Juan sayang, Mommy itu bukan lupa sama kamu. Hanya saja Dedek lagi masih belum bisa apa-apa. Jadi, Mommy banyak nolongin Dedek. Juan sudah pinter makan sendiri kan?"


"Sudah Onty."


"Juga sudah Onty."


"Nah, kalau begitu Juan sudah pinter banget tu. Sedangkan Dedek belum bisa apa-apa lhooo... Makanya Mommy lebih banyak bantuin Dedek. Nanti kalau Dedek udah gede, Mommy tidak gitu lagi kok."


"Kalau Dedek udah gede, Juan mau ajak Mommy main perosotan, Dedek juga Juan ajak."


"Wuduuh, pinternya ponakan Onty ini."


"Ponakan itu apa Onty?"


"Daddy kamu kan Kakaknya Onty, jadi semacam Ibu kecil kamu lah."


"Oooh, mungkin kayak Pakde Reza, Bulik Rezi?"


"Nah, itu... sama aja. Bedanya mereka kan saudaranya Mommy. Kalau Onty saudaranya Daddy."


"Kenapa kemarin-kemarin Onty tidak main ke sini?"


"Kemarin itu Onty di tempat yang jauh banget. Ini Onty baru pulang lhoo..."

__ADS_1


"Sejauh tempat Ojichan dan Genma?"


"Yaaa, lebih jauh dari itu."


Setelah puas ngobrol dengan Juan, Via menggendong baby Julliet. "Gemesin banget si kamu," sambil membelai-belai pipi tembem bayi itu.


"Waaah, udah cocok nih?" Yudhit muncul dari ruang kerjanya.


"Iya, aku udah cocok jadi emak-emak ni..." jawabnya enteng sambil mengajak Julliet becanda.


"Jadi udah ada calonnya?"


"Udah," jawabnya cuek. "Kalau sama dia pasti anakku secakep ini," ucapnya sedikit sesak.


"Waahhh, bagus donk?" Yudhit melihat semburat kesedihan di wajah Via. "Dia dimana?"


"Alam baka!" menyerahkan Julliet kepadanya lalu langsung mengambil tas dan pergi.


Yudhit mengejar, menahan Via. Mukanya merah menahan hal-hal yang ternyata masih bersisa. "Dek, mau kemana? Katanya ada yang mau dibicarakan?"


Lalu Yudhit menyerahkan putri kecilnya kepada sang istri. Yudhit menarik Via ke ruang kerjanya.


"Masih mengingat dia?"


Via menggeleng, "Hanya saja tadi pagi aku ke sana. Jadi pertama kali itu rasanya masih bercampur aduk."


Yudhit memberikan segelas air putih kepada Via, "Kamu harus kuat dong. Jangan begini terus. Move on...! Laki-laki di dunia ini bukan dia aja kan? Kakak yakin kamu pasti bisa melewati dan membuka lembaran baru."


"Iya Kak..." dia menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan lesu.


"Tadi mau membicarakan masalah apa?"


"Oiya, hampir aja aku melipir gara-gara lupa. Ini masalah penculikan anak, diperkosa, lalu dijual itu lho?"


"Oooh, itu..."


"Kenapa tidak diberesin dengan segera?"


"Hmmm, kalau Kakak minta tolong kamu yang ngurus, mau nggak?"


"Ya, itu salah satu alasan aku ke sini. Aku tu gemes sama kasus berlarut-larut. Nanti malah makin banyak korban."


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...

__ADS_1


...terima kasih...


__ADS_2