
Marni yang menyadari ada yang datang mendekat, mengangkat kepalanya yang sedari tadi dibenamkan dalam pelukannya. Marni tersenyum pada sosok tersebut, menengok ke sekeliling cewek di kelasnya tengah kejang melihat sosok yang baru saja sampai.
"Jojooko mamana?" sindirnya.
Sosok itu hanya tersenyum mengulurkan tangan pada Marni, membuat seluruh kawan kelasnya yang perempuan menjerit. Marni dengan setengah malu tapi mau menyambut uluran tangan itu dan segera bangkit dari posisinya tadi.
"Aiiihh… mencari Marni ternyata…"
"Siapa sih?" celetuk yang lain.
"Loh? Bukannya tadi cowok Marni itu si culun ya? Udah ganti lagi?" tiba-tiba para netijen kembali heboh.
"Iya, malah gantinya yang imut kayak boyband dari negeri panda...😂"
"Marni… Beruntung sekali nasib Lo…" umpat yang lain.
Marni yang sadar kawan-kawannya tengah menggosipkan mereka, hanya bisa membelalakkan matanya pada sosok cowok manis yang hanya menahan senyum itu.
Dia adalah sosok asli Joko yang tidak diketahui oleh orang di sekolah mereka, yaitu Deval.
Mulut Marni terus komat kamit merasa jengkel karena orang yang sama terus berulah. Lagi-lagi Deval membuat sensasi kehebohan bagi kawan sekelasnya yang menambah deretan catatan buruk tentangnya.
Tak habis pikir, dari kemarin Marni selalu diumpat oleh orang-orang di sekelilingnya. Tidak masalah Stevan lah, tidak Deval lah, selalu saja dibandingkan dengan dia yang tampak jelek dan tidak sepadan berdiri dengan laki-laki seperti mereka. Toh yang mendekat itu mereka, bukan dia.
"Seneng Lo ya?" desisnya melirik Deval dengan ganas.
Deval tidak mengubris dan kembali ke motornya. Dia mengambil sesuatu yang digantung di sana. Membawa sebuah paperbag bewarna hitam, dan tersenyum pada Marni. Mengeluarkan sesuatu yang ada di dalamnya. Tampak sebuah jaket bewarna hitam, langsung dipasangkan pada Marni.
Penonton di sekitar teriak-teriak panas menyaksikan adegan ini. Marni hanya bisa menyembunyikan wajahnya menahan malu. Mendapat perlakuan Deval yang benar-benar berbeda dari yang dia tahu.
"Biar tidak terlalu terbakar oleh matahari," sembari menarik zipper jaket berbahan kulit itu hingga tepat sampai ke leher Marni.
__ADS_1
Dari tempat lain, tampak Dino yang tengah mempersiapkan dirinya dengan melakukan sedikit pemanasan. Setelah itu Marni juga melakukan sedikit peregangan. Perasaannya sejak bertemu Irin berubah menjadi tidak enak. Entah apa penyebabnya. Sebenarnya dia cukup malas mengikuti pertandingan kali ini. Tetapi dia sudah berjanji, sehingga terpaksa dilaksanakan juga.
"Yakin dengan rencana balap ini?" tanya Deval. Marni mengangguk pelan, namun wajahnya berkata lain.
"Udah pernah coba balapan?" Marni hanya menggeleng lesu.
"Kalau gitu gue aja yang gantikan?"
Marni menatap lurus sorot mata Deval yang terlihat serius dengan pernyataannya barusan.
"Gue gak mau lo kenapa-napa. Bila tidak bisa dibatalkan, biar gue yang menggantikan."
"Jangan! Ini taruhan gue!"
"Gue tanya ke penantang dulu, boleh tukar apa enggak?" Deval berjalan ke arah Dino, diikuti oleh Marni berjalan malas di belakangnya.
Tanpa mereka sadari, ada tiga sosok yang terus memperhatikan mereka. Salah satunya adalah Jimmy yang dalam diam mencoba menebak dan menerka hubungan di antara mereka berdua.
Deval sudah berada di hadapan Dino. Dino terheran dihampiri oleh orang asing bersama Marni hanya mengerutkan keningnya.
"Ada apa?"
"Biar gue yang gantikan dia!"
Dino menilik cowok yang tadi seingatnya bikin pasukan cewek dari kelasnya heboh dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tiba-tiba teringat anak culun yang kemarin dekat dengan Marni.
"Lo ini si culun?"
Deval hanya membuang muka tanpa jawaban. "Boleh nggak?" tanyanya sembari melihat gadis jelek di sebelahnya ini.
"Nggak!" jawab Dino dengan tegas.
__ADS_1
Deval kembali mengerutkan kening menatap Dino, "Kenapa? Lo takut?"
"Bukan!" jawab Dino dengan tegas. "Gue penasaran aja sama kemampuan si Gagu ini! Nah lo makhluk asing, minggiiiir!!" Dino berlalu dari mereka.
"Udah! Biar gue aja!" ucap Marni memindahkan ponselnya ke dalam jaket yang diberi Deval. Deval tak bisa berbuat apa-apa lagi. Hanya bisa menatap gadis itu sembari berdoa semoga semuanya baik-baik saja.
Ketua kelas memanggil Dino dan Marni untuk memberikan denah jalur yang harus mereka tempuh. Jalurnya cukup pendek, sekitar lima kilometer saja, siapa yang sampai digaris finis terlebih dahulu, dia dinyatakan menang. Namun Jalur yang dilewati merupakan wilayah yang ramai lalu lintas.
"Iiiini seseserius?" mata Marni masih terbelalak melihat area yang selalu saja macet karena saking ramainya.
Deval merebut peta yang tengah membuat Marni terkejut itu. "Lo pada yakin harus lewati jalur ini?"
"Yakin! Biar memacu adrenalin pembalapnya. Kenapa? Lo takut Marni?"
Banyak hal yang membuat Marni agak ngeri melewati jalur tersebut, selain area pusat perbelanjaan yang bisa setiap waktu ada orang yang tiba-tiba menyeberang, juga banyak polisi lalu lintas yang berjaga.
Dia khawatir, apabila saja tidak mampu mengendalikan motor dengan baik, bisa saja terjadi kecelakaan. Kalau bukan pengendara, bisa jadi pengguna jalan yang lain.
"Lo yakin?" tanya Deval memastikan kesiapan cewek yang akan berjuang ini. Marni hanya mengedikkan bahunya, pasrah apa pun keputusannya.
"Gue aja yang gantikan!" namun Marni menggeleng.
Interaksi mereka diperhatikan oleh Jimmy daj kawan-kawan. Kedekatan mereka tampak begitu mesra oleh mata Jimmy. Melihat hal demikian, Jimmy merasa tidak kuat untuk menyaksikan pertandingan ini, dan memilih untuk pergi.
"Hey.. bro.. kemana Lo?" tanya Gilang, diikuti oleh Kevin.
"Cabut!!!" jawabnya dingin, duo kawannya hanya mengikuti dari belakang seolah memahami perasaan Jimmy
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE & KOMENTAR...
__ADS_1
...terima kasih...