DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
51. Maybe yes, maybe no


__ADS_3

Sssttt.. Kakak tak boleh begitu.. maafkan lah dia.. Doakan dia tenang di kehidupan penantian nya…"


Tiba-tiba Via tersadar.. selama ini dia sendiri belum bertobat. Aakhh.. kapan pun gue juga bisa mati karena pekerjaan ini.. tiba-tiba air matanya jatuh mengingat dekat dengan kematian.


"Lo kenapa nangis Vi…?" tanya Stevan.


"Gue baru sadar kematian itu sangat dekat A'.. tadi hampir saja…" mengingat Ibu Nana mencekik dia sampai hampir koid.. dan terlintas macam-macam kenangan yang hampir merenggut nyawanya.


"Iya, tadi itu kondisi yang di luar prediksi…" timpal Stevan, kembali Via memperhatikan kondisi Stevan.


"Kita ke rumah sakit yok A.."


"Oooh.. nggak perlu.. ini hanya luka ringan, dan tadi bukan air mendidih kayaknya.. tapi yaaa.. lumayan periih… Hanya tinggal diolesi jel lidah buaya dan minum antibiotik aja kayaknya.."


"Jangan remehin A', nanti gue nggak mau lagi jalani tugas sama Aa' kalau tidak mau diobati lukanya.."


Stevan mengacak rambut Via gemas, "Hobinya ngancam ya?"


Rini hanya memperhatikan tingkah dua makhluk itu, "Kalian ini pacaran ya?" kedua makhluk itu serempak menengok Rini.


"Pacaran? Ooh.. bukan..bukan.." elak Via. Stevan hanya memperhatikan reaksi Via.


"Dia ini partner kerja yang luar biasa nih Kak.. udah kayak kakak sendiri?"


Jadi dia hanya berpikir begitu? Sekedar partner saja ya? batin Stevan.


"Jadi bisa nih, gue aja yang menyambut bang bule?"


Stevan seketika tergidik, merasa ngeri mendengar ucapan Rini barusan.. 😅 


"Maksudnya gimana nih Kak? Menyambut apanya?" Stevan pura-pura polos.


"Masa gue dipanggil Kakak juga?"


"Yaa.. panggil apa lagi dong Kak? Atau mau dipanggil Mba, apa Teteh?"


Via hanya bisa bilang, senyumin aja… Terserah kalau jadi pun tak masalah. Kalau suka sama suka mah yaaa..


"Panggil Rini saja…" ucap Rini dengan mata masih fokus pada Stevan.


Via langsung mendelik ke Stevan, wkwkwkwk…rasakan lah kesopanan Lo ya.. ngga laku sama Kak Rini.. 😏

__ADS_1


Stevan seketika menjadi gugup, 😅😅 "Baik lah Rini.. semoga kamu segera dibebaskan, dan mereka meminta maaf secara terbuka kepada kamu…"


"Memangnya mereka mau gitu? Menjatuhkan harga diri untuk meminta maaf pada gue? Pasti akan menjadi berita panas di negeri ini.. gue juga langsung diwawancarai sana sini… Lalu setelah itu gue hilang tak tau aja rimbanya…"


"Gue tak akan berharap terlalu banyak pada mereka, yang gue inginkan saat ini keluar dari tempat ini.."


"Semoga saja ya Mba Rini…" Stevan terbiasa hidup terlalu sopan, sulit baginya untuk mengubah tabiat yang telah tertanam dalam dirinya.


Masih asik dengan obrolan mereka, terdengar suara heboh dari arah perkantoran. Beberapa pasukan polisi berlari menuju arah kehebohan itu. 


"Kak, kami cabut dulu. Kami mau menengok keadaan di sana. Apa yang tengah terjadi?" ucap Via bersiap untuk mengikuti polisi tadi.


"Baik lah.. Lo selalu hati-hati ya…"


"Kakak harus janji, rahasiakan ini pada orang-orang di kostan…" wajah Via tampak sedikit memohon.


"Gue berusaha, tapi gue gak Janji…" ujar Rini dengan cuek.


"Dah Kak.." lalu Stevan dan Via melangkah menuju arah sumber keributan.


Tampak ibu tadi yang ditangkap oleh mereka tengah mengamuk. Sprei yang tadi melilit tubuhnya telah koyak dan dia telah melukai Kapten I Bagus Suska dan menyanderanya.


"Tadi Kapten menginterogasi dia, dia seperti ketakutan, lalu tiba-tiba mengamuk dan sprei itu disobek dengan pisau…"


"Aa'... ini hasil dari doa nya.." bisik Via membuat Stevan nyengir kuda .😅😂


"Dari mana dia mendapat pisau? Bukankah tadi kita pastikan tak ada pisau?" Via tadi sangat memastikan tidak ada benda asing di tangannya saat diikat.


"Mungkin disimpan dalam pakaian, dan kita tidak mengecek pakaiannya tadi bukan…" jelas Stevan.


"Jadi sekarang Gimana A? Apa lagi yang harus kita lakukan…?"


"Saat ini dia mungkin dalam jiwa lain yang kuat. Kita mau tak mau harus lebih cerdik dan lebih kuat… Lo masih ada bawa biusnya nggak?"


"Masih…"


"Tingkatkan dosisnya, ada tali yang panjang nggak?"


"Gue selalu membawa tali karmantel, buat situasi yang memaksa harus bergelantungan," jelas Via.


"Kita susun dulu rencana, agar Kapten itu tidak semakin terluka…"

__ADS_1


Lalu mereka menyusun rencana agar pisau yang ditangan ibu itu bisa direbut. Mengingat dia memiliki tubuh yang kuat, yang bisa dilakukan ialah membuatnya kembali menjadi tidak berdaya.


"Hooi… Apa yang akan rencanakan kepada saya? Lepaskan saya! Biarkan saya pulang! Saya ingin mengasuh anak saya…" Ucap perempuan itu geram masih mengancam Kapten I Bagus Suska dengan sebilah pisau siap menghunus urat lehernya.


Semua bisa saja terjadi, dia tidak segan membekap anaknya dengan bantal, dan menghilangkan nyawa suaminya sendiri. Bisa saja dia tak segan melakukan hal yang sama pada Kapten itu yang terus mengalirkan darah dari kulit lehernya.


"Cukup… Jangan lanjutkan lagi Bu.." pekik Via berlari dengan cepat, lalu melompat menendang bahu ibu itu hingga pisau terlepas dan Via sendiri terpental dan terjengkang.


...klik gambar di bawah ini



...


Stevan dan anggota polisi yang lain segera menahan pergerakan ibu itu dan sebagian segera mengikatnya dengan tali kamantel yang sangat kuat.


"Mana biusnya?" pekik Stevan.


Via melemparkan suntik berisi bius ke Stevan, dengan segera kembali disuntikkan pada wanita yang berada di jiwa yang lain itu. 


Sementara sang Kapten segera dievakuasi, dan penjahat tak tahu diri… Maksudnya tidak tahu akan jati dirinya ini perlahan mengendorkan otot-ototnya yang tadinya terus meronta. Tak lama dia kembali tidak sadarkan diri.


"Dia harus segera dibawa ke ahlinya…" pinta Via.


"Benar.. saat ini tempat yang tepat untuk dia adalah rumah sakit jiwa…"


"Baik lah.. kami akan segera membawanya ke sana.. semoga tindakan paling tepat bisa diberikan padanya, agar tidak membahayakan orang lain lagi…" ucap salah satu anggota polisi


Via mengangguk, dan memperhatikan banyak sekali yang bertugas untuk mengangkat penjahat tak tahu diri itu.


Via segera mencari keberadaan kapten tadi, namun ternyata dia telah dibawa ke rumah sakit oleh anggota yang lain.


"Mungkin dengan begini Kapten keras kepala itu akan sedikit lebih mengendor…" bisik Stevan.


"Maybe yes… Maybe no…" jawab Via.


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE & KOMENTAR...


...terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2