DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Anak Papa


__ADS_3

"Sini, sama Mama dulu, Sayang." Via menarik Hyuna dan berhasil melepaskannya.


"Aku berangkat dulu," ucapnya berlalu.


Via memandang Jimmy yang pergi begitu saja. Sementara Hyuna terus minta lepas dari pelukan Via.


"Apa yang terjadi dengannya?" Via mengejar Jimmy dan menarik tangannya. "Kakak udah sarapan?"


Akhirnya Hyuna sedikit lebih tenang, melirik Via dengan perasaan canggung. "Mam-mam ..."


"Ooh, Una juga udah lapar?" tanya Via. Hyuna mengangguk minta pindah kembali kepada Jimmy.


"Papa udah rapi, Sayang. Nanti pakaian Papa jadi berkerut dan kotor." Via menahan Hyuna dan akhirnya gadis cilik itu tidak memberontak lagi.


Via menatap Jimmy karena keanehan sikapnya. "Kak, kamu kenapa? Ayo kita barengan aja ke rumah sakitnya."


Via masukan tangannya bersandar pada lengan Jimmy sambil menggendong Hyuna. Dia menperhatikan Jimmy yang tiba-tiba berubah dingin. Insting tajamnya bisa merasakan langsung sang suami tengah marah.


"Kak, apa yang menyebabkanmu marah padaku? Apa karena aku pindah ke kamar anak-anak?"


Jimmy mencoba melepas rangkulan Via pada lengannya. Namun, Via menggenggam erat dan sedikit menariknya.


"Jangan diam gini aja? Katanya setiap masalah itu harus diomongkan dengan baik-baik? Jika kamu diam begini, masalah tak akan pernah selesai!"


Seketikan Jimmy memejamkan mata dan mengusap wajah dengan tangannya yang bebas. Beberapa saat kemudian dia mengeluarkan ponsel dan kembali memperlihatkan temuannya yang terakhir.


"Ini maksudnya apa? Tengah malam di saat aku tidur kamu juga menelpon Romi, mau apa?"


"Jangan bilang kamu cemburu pada Romi? Lagian aku hanya bicara dengan Irin. Apa kamu melarangku berbicara dengan sahabat yang telah kukenal jauh lebih dahulu sebelum mengenalmu?"


Jimmy kembali memperlihatkan foto si kembar. "Ini buat apa? Aku tahu kamu ingin mencari Devan, lewat Romi." Jimmy membuang muka, gusar.


"Jadi kamu cemburunya pada foto di ponselmu itu?"


"Kenapa kamu masih memikirkan Deval? Itu lah yang membuatku kesal. Kamu bisa nggak, membiar kan dia tenang di alamnya? Apa aku tidak cukup untuk menjadi penggantinya?"


Via melepas rangkulannya tadi. Lalu membawa Hyuna masuk ke kamar dan duduk di atas kasur Hyuna. Putranya masih terlelap dengan tenang. Jimmy muncul di pintu dan menatap, dalam.


Via melirik suami dengan wajah sendu. Akhirnya Jimmy bergerak memeluk Via. "Maafkan aku, hanya saja aku merasa kecewa mengapa kamu melakukannya diam-diam di belakangku."


"Kamu kan lagi tidur, tidak mungkin aku bangunkan."


Hyuta tampak mulai bergerak. Sepertinya dia terbangun karena keributan orang tuanya langsung duduk mengucek mata.

__ADS_1


"Mama ... Papa uda nanun?"


Via melepaskan diri dari dekapan Jimmy, tetapi tidak diberi kesempatan oleh suaminya. "Aku ingin bicara panjang lebar mengenai masalah ini. Akan tetapi, aku harus segera ke rumah sakit."


Via menengadahkan wajahnya menatap Jimmy dan menganggukan kepala. "Aku juga bingung tak tau harus memulai dari mana."


Jimmy melepas pelukannya dan menurunkan Hyuna dan Hyuta dari tempat tidur. Via tersenyum merasa bersyukur bahwa semenjak dulu Jimmy adalah seorang ber tipikal cepat dingin. Jimmy bukan tipe pria yang suka membesar-besarkan masalah seperti dia.


"Aku akan minta para pengasuh untuk memandikan mereka berdua. Kamu kamu mandi juga. Aku tunggu di meja makan."


Via mengangguk --cup-- sebuah kecupan mendarat di bibir suaminya dan segera bergerak menuju kamar mandi di kamar mereka. Sementara Jimmy menggandeng si kembar mencari para pengasuh.


"Papa, Uta mau mambi baeng Mama," ucap Hyuta kecewa.


"Nanti sore aja, biar cepet. Sekarang kalian mandi sama Mba dulu ya?"


Hyuta dan Hyuna mengangguk, mematuhi apa yang dititahkan Jimmy. Sembari menunggu Via selesai mandi, Jimmy mengecek perkembangan bisnis gelapnya. Bisnis yang dikontrol oleh para bujang di rumah sakit.


Keningnya sedikit berkerut, melihat layar LCD laptopnya menunjukan penurunan beberapa hari terakhir. Hal ini luput dari perhatiannya karena sibuk menyambut istri yang baru saja bangun dari tidur panjang. Jimmy langsung mengontak Romi.


"Halo, Pa? Ada apa?"


"Itu kenapa beberapa waktu terakhir bisnis tampak sedikit kacau?"


"Kalau begitu, kamu kerahkan segala kemampuanmu untuk meningkatkan performa platform kita!"


"Nanti setelah berangkat ke rumah sakit. Kali ini giliran ngurus istri dulu."


"Hmmm ..." Jimmy menutup panggilan dan mencoba membuka informasi pesaing bisnis gelapnya.


cup


Kali ini sebuah kecupan melayang pada pipinya. Jimmy langsung menangkap Via, mencium bibir istrinya dan mendudukan Via di pangkuannya. Jimmy memeluk sang istri dari belakang, menikmati aroma rambut basah istrinya.


Via melihat grafik yang terpampang pada layar laptop. Membacanya dengan sebaik mungkin Jimmy menyandarkan dagunya pada pundak sang istri.


"Kamu masih marah, melihat bisnisku inii?"


Via menyandarkan pipinya pada pipi Jimmy. "Entah lah, itu apa ya? Aku tidak mengerti."


Jimmy menarik pipi Via. "Mentang-mentang ini pekerjaan suaminya, jadi kamu mau menutup mata aja? Tangkap aku dong?"


cup

__ADS_1


Kecupan kembali melayang. "Ini udah aku tangkap dengan cinta."


"Iiiihhh ... Mama mayuuuuuu ..." sebuah suara datang dari anak laki-laki mereka yang menutup mata. Hyuna pun ikut menutup mata.


Via terkekeh langsung keluar dari pangkuan suaminya dan menarik dua bocah itu dan menggandeng mereka duduk di kursi khusus. Via mencium dua kembar itu secara bergantian. Tak lupa Jimmy juga menunjuk bibirnya untuk dicium kembali. Setelah itu Via menyuapi si kembar makan, membiarkan Jimmy makan terlebih dahulu.


Ketika Jimmy usai, Via belum juga menyudahi acara menyuapi makan kedua anaknya. Jimmy menyiapkan roti dengan telur dan beberapa lembar salad. Lalu menyuapkan pada Via yang masih rusuh menghadapi anak-anaknya makan.


"Yang sabar dong. Anak-anak makannya memang lama. Kamu makan ini dulu." ucap Jimmy. Roti tersebut langsung digigit oleh Via.


Setelah makanan anak-anak mereka habis, roti yang di tangan Jimmy ikut habis dimakan oleh Via. Mereka menyelesaikan dengan serempak, membersihkan dua bocah yang masih belepotan.


"Nanti, biar para pengasuh mereka aja yang menyuapkan."


Via menyipitkan mata, merasa tersindir oleh sang suami. "Ini baru awal-awal koook."


"Kelihatan banget, tidak pernah ngasuh." Jimmy menatap Via dengan jenaka. Via hanya mencibir dan diikuti oleh kedua bocah ikut mencibir.


"Hmmm, kamu jangan ajarkan mereka yang aneh-aneh begitu. Mereka lagi proses meniru. Jadi apa pun yang tampak oleh mereka, akan langsung ditiru. Tak peduli itu hal baik, maupun hal buruk."


Via mengeluarkan kedua anaknya dari bangku tersebut. "Iya ... iya ... maaf ... Papa ini seorang dokter apa seorang guru siii?" Via memainkan kedua dagu bocah imut itu.


"Anak siapa sih kalian?" canda Via.


"Anak Papa ..." jawab mereka serempak.


"Tapi kok gak ada yang mirip Papa siiiih?" sungut Via melirik Jimmy.




Pampangi dulu wajah Papa masa muda sebelum oplas ... 🤣



Papa muda setelah oplas, baru balik dari Korea ... 🤣🤣



Jangan lupa mampir juga pada karya sahabat Author yang kece badai ini.


__ADS_1


__ADS_2