DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Ex.P-9


__ADS_3

Sesuai permintaan, akhirnya Dino melesat dengan tajam menuju kediaman Jimmy dan Via. Namun, rumah itu terlihat sangat sunyi dan tak ada tanda-tanda kehadiran siapa pun.


Sementara, Jimmy tengah membawa Via ke pusat perbelanjaan. Dia melihat sang istri yang sangat dicintai terlihat murung dan lesu. Dia hendak mencoba mengulik isi hati istrinya dengan memanjakannya terlebih dahulu.


"Sayang, ayo sebutkan apa keinginanmu? Aku akan memberikan apa pun yang kamu minta."


Via hanya memandang wajah laki-laki yang kini selalu mengisi harinya. Teringat kembali semua masa lalu saat dia mengenal Jimmy. Laki-laki yang sangat menyebalkan di masa-masa awal menjadi anak SMA. Namun, setelah itu Jimmy seolah berubah seratus delapan pulun derjat menjadi senior yang sangat perhatian.


"Kak, aku mau nanya nih. Dulu sebenernya aku tuh sebel banget lhoh sama kamu."


Jimmy menaikan alisnya. "Maksud kamu waktu SMA?"


Via mengangguk, menggenggam tangan Jimmy. "Aku tuh, males banget sama Kakak, dulu."


"Kenapa?"


"Yaah, waktu MOS dulu. Kakak selalu menyiksa aku. Aku tu benci banget sama kamu dulu tau nggak?"


"Iya sih, aku heran juga kenapa lihat kamu yang jadi Marni membuatku menjadi gemas. Jadi kayak penghibur hatiku saja. Kelakuanmu juga suka aneh-aneh. Nah, sekarang kamu cerita, apa alasan kamu sangat membenciku dahulu?"


"Hmmm, pertama Kamu selalu menyiksaku dulu. Lalu setelah aku mengetahui kakak itu anak dari mendiang papa Buana Putra. Ka--"


Jimmy membekap mulut Via dengan sebuah kecupan. "Tidak usah berbicara tentang masa lalu lagi. Aku sudah cukup menderita saat kamu membenciku. Ditambah lagi kamu menghilang begitu saja. Membuat duniaku seperti kehilangan arah."


Via menatap Jimmy dalam-dalam. Dia merasa heran, apa yang menyebabkan Jimmy bisa menyukai dirinya. "Kak, jawab dengan jujur ya? Apa yang menyebabkan Kakak menyukai Marni?"


"Hmmmm---"


...duuuuaaaarrr...


...duuuuaaaarrr...


...duuuuaaaarrr...


Pada ledakan pertama Jimmy dengan segera melindungi Via di dalam tubuhnya.


"Aaaahhhgggg"


"Boooommm ... ada booommm! Berlindung!!!"


Suasana di dalam gedung itu seketika berubah menjadi mencekam.

__ADS_1


Pengunjung gedung pusat perbelanjaan ini lari tunggang langgang. Ada beberapa orang yang berdarah-darah, namun tidak parah.


"Kamu baik-baik saja kan Sayang?" Jimmy memeriksa keadaan Via. Memeriksa setiap inci tubuh Via. "Anak Papa tidak apa-apa kan?" Mengelus perut Via.


"Kak, kamu berdarah?" Pelipis Jimmy mengeluarkan darah, terkena pecahan kaca akibat ledakan.


"Aku tidak apa. Aku harus mengevakuasi semua yang ada di dalam. Kamu harus segera keluar dari tempat ini juga!"


"Tidak! Aku juga akan mengevakuasi semua yang ada di sini."


"Kamu lagi hamil! Kamu tolong aku hubungi Kantor Pusat saja! Ponselku lagi kehabisan daya."


Via segera melakukan panggilan. Namun entah kenapa jaringan seperti tiba-tiba menghilang. "Aku yakin mereka akan langsung turun Kak. Aku tidak bisa melakukan panggilan. Jaringan tiba-tiba ngedroup!"


"Kamu segera lah keluar! Jaga dirimu demi anak-anak kita!"


"Tidak Kak, aku yakin anak-anak kita akan memilih untuk segera menyelamatkan masyarakat juga."


Via mengikat rambutnya yang tadi tergerai tinggi-tinggi. Melepas rok yang membuatnya merasa sulit bergerak dengan bebas. Dia menggunakan celana joger di dalamnya. Terus merobek roknya, diikatkan ke kepala Jimmy yang terluka.


Tas yang tadi dijinjing, langsung diselempangkan. Dengan langkah cepat dia mengomandoi masyarakat yang tengah lari tak tahu arah. Jimmy terpana melihat kegesitan istrinya. Baru beberapa waktu lalu dia terlihat lesu dan sedih tak tahu kenapa.


Jimmy mulai menyisir setiap lokasi di bagian bangunan itu. Sementara Via masuk semakin ke dalam menebak lokasi ledakan bom. Via melihat kepulan asap, ada beberapa bagian yang terbakar di sebuah ruangan yang diduga lokasi ledakan bom tersebut.


Kenapa ada yang lolos? Bukankah pengamanan di setiap pelayanan umum semakin lama semakin diperketat?


Via masuk ke ruangan tersebut, "Uhuk ... uhuk ... uhukk ..." Ruangan itu dipenuhi debu dan asap. Via segera mencari pemadam kebakaran portable. Lalu menemukannya terletak di pojok ruangan.


Dengan hati-hati Via berjalan di ruangan yang hancur lebur itu. Mengambil alat pemadam itu lalu menyemprotkan pada sisa-sisa api yang masih menyala. Via memeriksa bekas ledakan itu. Namun puing-puingnya sudah hancur tak bisa dideteksi lagi. Via berpindah ke lokasi lain.


Jimmy mengomandoi proses evakuasi. Membantu masyarakat yang tengah panik, menunjuk jalan keluar bangunan. Jimmy sudah mulai memikirkan istrinya, Via tidak terlihat dari pandangannya. Gedung ini sudah mulai sepi.


Kantor pusat BOS yang mendapat informasi darurat segera menghubungi aparat lain yang berwenang di negara ini. Mengerahkan seluruh agen yang mereka miliki.


Anggota White House yang mendapat kabar ada ledakan, segera berangkat menuju titik-titik yang telah disampaikan oleh Romi. Romi mengatakan ada tujuh titik penyebaran bom tersebut. Mereka langsung membagi menjadi enam tim. Karena satu bom telah meledak. Mereka memilih untuk segera menuju lokasi bom yang belum meledak.


Via masih membongkar-bongkar mencari beberapa petunjuk. Mencoba pindah ke lokasi yang lain.


Sayang sekali semua peralatanku tertinggal di rumah. Seandainya aku bawa kacamata ajaib. Pasti langsung terdeteksi dimana lagi lokasi mereka menyembunyikan bom tersebut.


Via berkonsentrasi memasang pendengarannya dengan baik. Mengira-ngira dimana lagi lokasi bom lain disembunyikan. Via berjalan perlahan demi perlahan. Seperti ada mata yang tengah mengawasi gerak-geriknya.

__ADS_1


Setelah tidak ada lagi pengunjung yang berlarian, Jimmy mencoba menyisir sisi lain bangunan. Mencoba menaiki lantai atas. Suasana terasa sangat mencekam, karena bangunan luas ini terasa sepi.


"Hek ... hek ... hek ... Mama ... Mama."


"Huk ... huk ... huk ...."


"Tolong ... toloooong ...."


Masih terdengar beberapa suara orang-orang yang masih terjebak di dalam bangunan ini. Jimmy mencoba mengikuti arah suara. Terdengar suara anak kecil, dan suara perempuan yang tengah merintih meminta tolong.


"Tolooong ... tooolooong ...." rintihan seorang wanita yang tertimpa sebuah rak di toko buku. Tengah menyanggakan dirinya dari lemari yang cukup berat tertimbum oleh buku-buku ensiklopedi yang sangat berat. Di bawah ibu itu, ada anak berusia dua tahun yang tengah menangis.


"Mama ... tatuuuuut ... hek ... hek ...."


Jimmy sudah menemukan lokasi asal suara. Membongkar tumpukan-tumpukan ensiklopedia yang sangat tebal. Ensiklopedia itu tersebar menimpa wanita tadi yang ditindih bersama lemarinya.


"Bu, apa Anda baik-baik saja?"


"Syukur lah akhirnya ada yang mendengar kami. Saya tidak apa. Tolong saya Mas?"


"Tunggu sebentar ya Bu? Saya akan menyingkirkan benda-benda ini."


Jimmy segera memindahkan benda-benda itu hingga sang ibu tampak menahan tubuhnya yang ditimpa lemari. Sang anak tampak menangis ketakutan berada di bawah ibunya.


Jimmy berusaha menegakan kembali posisi lemari tadi. Cukup berat dan bersusah payan untuk membuat benda itu berdiri. Hingga akhirnya, sang Ibu bisa duduk dan menggendong anaknya. Menangis haru memeluk sang anak.


"Bu, ayo ... segera tinggalkan tempat ini!"


Jimmy mengambil sang anak, lalu memapah wanita tadi untuk berdiri. Tertatih Jimmy membantu ibu tadi berjalan sambil menggendong anaknya hingga sampai keluar bangunan.


"Bu, saya antar sampai di sini dulu. Saya akan masuk kembali, istri saya masih berada di dalam."


"Terima kasih Mas, sudah membantu kami. Ayo segera cari istrinya Mas. Semoga semuanya baik-baik saja."


Jimmy mengangguk dan kembali berlari masuk ke dalam bangunan itu.


Via yang merasa ada yang tengah memantaunya di suatu tempat merasakan sebuah pergerakan yang mencurigakan. Belum sempat menghajar, tiba-tiba tengkuk Via dipukul. Dia rebah tak berdaya.


*gimana guys? udah menegangkan belum? Lum sempat cek ricek dulu ni. Mau up playboy juga 😂


Tak bosan ngajak reader mampir ke sini ... Ayo kenalan juga sama Tuan Playboy dan Nona Hacker ... hihi

__ADS_1



__ADS_2