
Via terus mengejar Udin yang berlari tak henti memanggil ibunya. Berlari ke arah rumah-rumah kardus yang tadi terbakar. Melihat rumahnya telah habis dilalap si jago merah, membuatnya terperenjat dan tangisannya semakin menjadi.
"Maaaaak.."
Udin menatap Via yang tengah membuka maskernya terengah mengambil nafas. Melihat bocah itu menangis kebingungan, bukan membuat Via kasihan, namun membuatnya menyunggingkan senyum miring.
"Bagaimana hasil kerja emak kamu bocah?"
"I-ini kerjaan Mak?" dia kembali bertanya seolah tak percaya.
Via berjalan ke arah Udin yang tengah menangis terduduk melihat rumahnya yang mulai menyisakan puing-puing yang sudah tidak berbentuk lagi.
"Katakan dimana Mak kamu saat ini?!"
Udin menatap Via dengan sendu. Tertunduk lalu tubuhnya lemas menghela nafas dengan berat.
"Kak, bantu aku untuk menghentikan Mak. Aku tidak suka kalau Mak selalu jadi orang jahat."
Via membantu Udin untuk berdiri kembali. Lalu berdiri menunduk menyejajarkan tingginya dengan Udin.
"Sebenarnya apa yang diincar Mak kamu, hingga melakukan hal seperti itu?"
Udin yang tadinya menatap mata Via dengan lekat, kembali tertunduk merasa bingung bagaimana cara menjelaskan kejadian demi kejadian yang dilakukan oleh ibunya akhir-akhir ini.
"Yang Udin tahu, Mak melakukan semua ini untuk mencari uang agar kami berdua bisa makan Kak," Udin seakan mengingat seauatu, matanya liar melihat di sekitar Via.
"Mana kakak ganteng kemarin Kak?"
Via kembali menegakkan tubuhnya berdiri dengan satu tangan berada di pinggang, satu tangan lagi mengelus dagunya juga memikirkan kira-kira dimana posisi Deval dan Mak Iroh saat ini.
Tiba-tiba Udin menarik Via dan berlari. Via ikut berlari mengikuti arah Udin terus mengajaknya berlari. Tampak oleh mereka, puing-puing rumah kardus yang telah menyisakan arang dan abu. Udin terus menarik Via menuju sebuah tempat yang semakin sepi di sebuah bantaran sungai. Akhirnya mereka sampai di tempat buntu karena dikelilingi oleh sungai, menemukan Deval dalam posisi dalam dekapan Mak Iroh, dengan sebilah belati siap menghunus tenggorokannya.
"Maaak??" pekik Udin mengejar sang ibu.
"Mak..Mak.. lepaskan dia Mak?!" pinta Via berjalan semakin mendekat. Dia teringat kejadian ini persis sama saat Kapten I Bagus Suska mendapat luka yang cukup serius akibat ujung pisau cukup melukai tenggorokkannya.
Namun bagi dia kali ini beda, saat itu Kapten I Bagus Suska bukan lah termasuk prioritas utama baginya. Kali ini, yang siap dihunus oleh ujung pisau itu adalah lelaki yang mengisi hatinya. Orang yang sudah menyanyi di dalam mimpinya.
"Mak.. Mak.. saya mohon lepaskan dia!"
Deval dalam posisi terjepit itu, mencoba untuk melepaskan diri. Udin berusaha menarik ibunya itu agar segera melepaskan Deval.
__ADS_1
"Kamu pergi dari sini!" bentak wanita paruh baya itu kepada sang anak.
"Mak, lepas Maaak...," sang anak terus menarik-narik tangan ibunya yang mendekap Deval.
"Kamu pergi dari sini!" lalu tangan yang satunya yang tadi menjepit Deval, digunakan untuk mendorong anaknya.
Deval memiliki kesempatan untuk melepaskan diri. Sementara Udin yang tadi didorong sang ibu, ternyata masuk ke dalam sungai yang tepat berada di belakang mereka.
"Mak, blup...blup..." pekik Udin hilang timbul ke permukaan sungai.
Mak Iroh yang tadi fokus mengancam Via menggunakan Deval, melirik arah anaknya yang ternyata hampir tenggelam di permukaan sungai yang cukup dalam bagi anak kecil itu.
"UDIIIINN!!!" pekik Mak Iroh mendorong Deval yang tak sengaja sedikit menggores leher Deval.
"Aaarrgghhtt…" teriak Deval membuat hati Via menjadi pilu.
"Devaaall…" gadis itu langsung mengejar Deval, memeriksa keadaan bekas sayatan baru saja didapati oleh cowok itu.
"Gue gak apa!" jawab cowok itu meski ekspresi wajahnya sangat jelas menggambarkan betapa perihnya luka sayatan itu. Deval menenangkan Via, lalu berlari ke arah sungai dan langsung masuk dalam sungai mencoba menyelamatkan anak kecil itu.
Dia memiliki pengalaman buruk berurusan dengan air semenjak usia lima tahun. Dia tenggelam saat ada kelas berenang. Semenjak itu, dia mengalami trouma dan phobia terhadap air. Termasuk hal-hal yang berkaitan dengan air lainnya, baik itu sungai, danau, maupun laut.
Dia tertunduk membungkuk, nafasnya sesak. Deval yang menceburkan diri ke sungai itu kembali membuatnya teringat pada masa lalu mengalami tenggelam hampir tewas saat dia kecil. Dia bersujud di atas rerumputan di pinggir sungai, merasakan buncahan perasaan yang luar biasa.
Deval telah muncul ke permukaan sembari mengangkat dan menarik Udin yang mulai tak sadarkan diri. Terus menepi hingga sampai di darat, Udin langsung dan disambut oleh Mak Iroh. Deval langsung merangkak menaiki daratan, mengambil nafas terengah, ditambah rasa perihnya luka di lehernya.
"Udin... Udin..." Mak Iroh menepuk-nepuk pipi Udin, Deval dengan segera memberi nafas bantuan memberi pertolongan pertama CPR, dengan menekan dada Udin beberapa kali dengan cepat.
"Uhukhuk…" Udin terbatuk dan mengeluarkan air yang tadi sempat tertelan saat tenggelam tadi.
"Udiiin…maafkan Mak…" wanita paruh baya itu akhirnya memeluk anaknya yang hampir tewas akibat ulahnya barusan.
"Mak... Mak jangan nakal lagi. Mak kembali seperti dulu ya?" ucap lugu dan lirih dari anaknya.
__ADS_1
"Maafkan Mak Din... Mak janji akan berubah," masih memeluk anaknya itu sembari menangis terharu, anaknya masih bisa kembali dalam pelukannya.
Mata Deval mencari sisi lain, dia mencari sosok gadis yang dicintainya. Mengapa Via tidak terlihat? Lalu dia berjalan ke arah tempat dia melompat tadi, alangkah terkejutnya dia melihat gadisnya tengah tidak berdaya dengan nafas tersengal-sengal. Deval berlari secepat dia mampu, dan merangkul gadis itu.
"Via... Via..., lo kenapa Via?"
Via memegang dadanya, melihat Deval yang tengah basah kuyup. Dalam sesaknya, dia tersenyum dan menangkup kedua pipi Deval.
"Syukurlah... syukurlah lo selamat Val..." isaknya menitikkan air mata. Deval menenggelamkan Via dalam pelukannya. Nafas Via masih sesak, belum bisa mengendalikan diri akibat dari phobianya.
"Gue baik-baik aja," Deval mengelus rambut Via dengan lembut. Via masih terisak dalam pelukan lelaki yang dia yakin, sangat disukainya itu. Meski dia orang yang dingin, namun dia memiliki hati yang hangat.
...klik gambar...
"Lo tenang ya... Gue udah di sini...," mengusap punggung Via dengan lembut.
Beberapa waktu mereka dalam posisi begitu, sesak di dada Via semakin berkurang. Via sudah mulai sadar posisinya saat ini dalam pelukan cowok yang disukainya. Detak jantungnya yang tadi cepat akibat rasa takut, sekarang kembali berdetak dengan cepat karena gerogi. Dia bingung, memikirkan cara yang tepat untuk lepas dari posisi yang membuatnya canggung ini. Degup jantungnya sungguh tidak karuan.
"Ekhemmm…" sebuah deheman memecah suasana di antara mereka berdua.
Deval langsung melepas rangkulan itu, dan mulai berdiri. Mata Via menangkap luka yang masih menyisakan warna merah di kulit pucat milik Deval.
Deval mengulurkan tangannya, disambut oleh Via. Via masih memperhatikan luka di bagian leher Deval, lalu membuka ransel yang berisi segala perlengkapannya. Dicari cairan alkohol, kapas, obat merah, dan plaster.
"Nak… Maafkan atas segala kelakuan Mak tadi…" tutur Mak Iroh dengan tulus, disambut oleh mata Via yang menatap Mak Iroh dengan kesal.
...***...
ayooo komen yaa..ini otor nulis sambil otewe lhooo... semangat otor meningkat jadi 1000% karena Detektif Muda ini sedang dipromokan. Ayo komen yang banyak, agar otor semakin semangat nulisnya.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
__ADS_1
...terima kasih...